Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Hancurkan Dirimu Sendiri, Maka Dirimu Tidak Akan Bisa Tersakiti | Ngaji Filsafat

Hancurkan Dirimu Sendiri, Maka Dirimu Tidak Akan Bisa Tersakiti | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Hancurkan Dirimu Sendiri, Maka Dirimu Tidak Akan Bisa Tersakiti | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Tiga Cara Manusia Melarikan Diri dari Kebebasan

Banyak orang sebenarnya merasa takut dengan kebebasan karena risiko yang menyertainya, yaitu kesepian.
Untuk menghindari hal tersebut, biasanya manusia menempuh tiga jalan utama untuk lari dari kebebasannya:

  1. Otoritarianisme
    Jalan pertama adalah melepaskan kebebasan diri dengan bergabung atau tunduk pada struktur di luar dirinya demi memperoleh sesuatu.
    Struktur ini bersifat tidak sehat dan tidak setara, yang terbagi menjadi dua bentuk:

    • Masokisme:
      Kondisi di mana seseorang merasa inferior dan membiarkan dirinya dijajah, diatur, atau disakiti oleh orang lain asalkan orang tersebut tidak pergi meninggalkannya.
    • Sadisme:
      Kondisi di mana seseorang merasa superior dan berusaha menguasai orang lain, membuat mereka tergantung padanya melalui ancaman atau kekuasaan.
      Keduanya mengakibatkan seseorang kehilangan eksistensi dan jati dirinya karena terjebak dalam hubungan ketergantungan yang tidak sehat.
  2. Destruktif (Merusak)
    Mekanisme ini lebih ekstrem karena bertujuan untuk menghilangkan ancaman terhadap kebebasan dengan cara menghancurkan.

    • Jika seseorang merasa kuat, ia akan mencoba menghancurkan orang lain agar tidak ada lagi yang bisa menyakitinya atau membatasi ruang geraknya.
    • Jika seseorang merasa lemah, ia justru akan menghancurkan dirinya sendiri.
      Ini adalah bentuk “bunuh diri eksistensial” di mana seseorang merasa dirinya tidak berarti atau tidak berharga sama sekali agar ia tidak bisa lagi merasakan sakit.
  3. Automaton Conformity (Penyesuaian Otomatis)
    Ini adalah cara yang paling umum di mana seseorang memilih untuk sekadar “mengalir” dan mengikuti arus masyarakat atau kerumunan.
    Meskipun cara ini membuat seseorang merasa aman dan nyaman karena tidak berbeda dengan yang lain, risikonya adalah kehilangan identitas individual.
    Seseorang hanya akan dilihat sebagai bagian dari identitas kelompok (kerumunan), padahal sejarah hanya mencatat orang-orang yang unik, orisinal, dan berani membuat terobosan.

 

Peran Pola Asuh Keluarga dalam Membentuk Mental

Mentalitas “lari dari kebebasan” ini sering kali berakar dari kondisi keluarga. Erich Fromm membaginya ke dalam tiga jenis pola asuh:

  1. Keluarga Simbiotik
    Hubungan dalam keluarga ini tidak setara dan saling menguasai.
    Bisa berupa orang tua yang terlalu dominan sehingga anak tidak memiliki inisiatif, atau sebaliknya, anak yang terlalu mendikte orang tuanya.
    Pola ini melahirkan mental yang tidak sehat karena salah satu pihak kehilangan kebebasan dan orisinalitasnya.
  2. Keluarga Cuek (Tidak Peduli)
    Ketidakpedulian ini muncul dalam dua bentuk:

    • Keluarga Dingin:
      Orang tua sangat kaku dan menghukum anak tanpa memedulikan perasaan atau minat bakat sang anak.
    • Keluarga Modern yang Abai:
      Orang tua membiarkan anak bebas sepenuhnya tanpa tuntunan nilai sama sekali. Akibatnya, anak mencari nilai hidup sendiri dari lingkungan luar tanpa bimbingan yang jelas.
  3. Keluarga Ideal
    Inilah pola yang paling baik, di mana orang tua bertanggung jawab mendidik dan memberdayakan anak tanpa harus mematikan kebebasannya.
    Orang tua berperan memberikan nilai-nilai dan melatih tanggung jawab, tetapi tidak memvonis atau memaksakan masa depan anak secara otoriter.

Keluarga ideal mengedepankan dialog dan keseimbangan.
Anak menghargai wawasan luas dan kebijakan praktis orang tua, sementara orang tua tidak meremehkan pemikiran anak.
Melalui komunikasi yang sehat dan saling membantu, idealisme bersama dapat diwujudkan tanpa harus saling menguasai atau bersikap acuh tak acuh.

Melarikan Diri dari Kebebasan

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us