Perlihatkan Kebodohanmu, Jangan Menyombongkan Diri | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Bagian 1: Tirakat Masa Muda dan Pengendalian Diri (Serat Wedaroko)
Nasihat pertama ditujukan khusus untuk anak-anak muda, yang diambil dari ajaran Serat Wedaroko.
Meskipun terdapat penjelasan mengenai kitab Hidayat Jati, pembahasan tersebut diletakkan di bagian akhir karena materinya yang cukup berat.
Fokus utama kali ini adalah petunjuk bagi kaum muda untuk memulai perjalanan spiritual (lelaku) sejak usia dini.
Lelaku ini diwujudkan melalui tindakan mengurangi makan, mengurangi tidur, dan menahan hawa nafsu, yang semuanya harus didasari oleh sifat sopan santun.
Tirakat paling dasar bagi anak muda adalah tidak boros dalam urusan makan dan tidur.
Mengurangi makan bukan berarti melaparkan diri sepenuhnya, melainkan makan secukupnya sajaโmakan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Sementara itu, mengurangi waktu tidur bertujuan agar waktu malam dapat dialihkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti belajar, beribadah tahajud, atau salat malam, bukan dihabiskan untuk sekadar menonton siaran langsung sepak bola.
Bagian 2: Mengendalikan Hawa Nafsu seperti Kuda Liar
Bagi anak muda, menahan hawa nafsu memang menjadi salah satu tantangan terberat.
Di dalam diri manusia terdapat empat jenis nafsu. Mengendalikan nafsu ini memerlukan latihan yang konsisten; terkadang kita mengalami kegagalan, namun semakin sering dilatih, nafsu tersebut akan semakin mudah dijinakkan.
Hawa nafsu diibaratkan seperti binatang peliharaan atau seekor kuda.
Jika terus dilatih dan dikendalikan, kuda tersebut akan menjadi jinak. Sebaliknya, jika setelah dilatih ia dibiarkan begitu saja tanpa perhatian, ia akan kembali menjadi liar.
Prinsip utamanya adalah kita harus menjadi penunggang yang memegang tali kendali di atas punggung kuda, jangan sampai kuda itu yang justru berbalik mengendalikan dan mengarahkan leher kita.
Energi nafsu yang bergejolak pada usia muda sebenarnya dapat disublimasikan atau dialihkan ke hal-hal positif.
Sebagaimana ajaran Nabi, ketika nafsu sedang bergejolak, sibukkanlah diri dengan aktivitas bermanfaat atau dengan menjalankan ibadah puasa.
Bagian 3: Sikap Andap Asor dan Tradisi Mencari Ilmu
Hal lain yang sering kali sulit dilakukan oleh generasi muda saat ini adalah menjaga sopan santun dan menerapkan sikap andap asor (rendah hati). Menaklukkan keangkuhan diri sendiri memang tidak mudah.
Dalam etiket Jawa, sikap andap asor diajarkan melalui tindakan-tindakan fisik yang melambangkan penghormatan, seperti mencium tangan orang yang lebih tua, menundukkan badan saat berjalan melewati orang lain, dan berbicara dengan tutur kata yang santun.
Tradisi ini merupakan metode praktis untuk menundukkan ego. Manusia pada dasarnya sangat mudah tergoda untuk bersikap sombong, sementara untuk merendahkan hati dirasakan sangat berat.
Oleh karena itu, adat Jawa sangat menekankan pentingnya tata krama, sopan santun, dan seni merendahkan hati.
Selain menjaga sikap, anak muda juga dinasihati agar jangan sampai menganggur.
Daripada menghabiskan waktu tanpa arah, lebih baik memanfaatkan waktu luang untuk mencari ilmu sedikit demi sedikit (nyicil ilmu).
Selama kita tidak merasa malu untuk menerima nasihat sejati, ilmu tersebut akan terus terakumulasi hingga penuh dan kelak akan sangat berguna.
Saat merasa jenuh atau bosan (bete), carilah pelajaran di lingkungan sekitar, karena segala hal yang tertulis maupun yang terbentang di alam semesta ini adalah guru yang baik.
Jangan pernah malu menerima nasihat, baik dari tulisan, lingkungan sekitar, maupun dari orang yang lebih pandai.
Proses menuntut ilmu harus dilakukan secara bertahap. Karakter ilmu adalah terkumpul sedikit demi sedikit.
Jika kita terlalu bernafsu untuk langsung menguasai banyak hal dan terburu-buru membeli buku-buku tebal, pada akhirnya buku tersebut justru tidak akan terbaca dan hanya akan membuat kita tertidur saat mencoba membacanya.
Bagian 4: “Perlihatkan Kebodohanmu” dan Bahaya Kesombongan
Nasihat penting dari Ronggowarsito menyebutkan bahwa apabila kita sudah memiliki kepandaian, simpanlah kepandaian tersebut rapat-rapat dan jangan bersikap sombong atau kemenyek (pamer).
Ciri utama dari orang yang benar-benar pintar adalah ketidakinginannya untuk memamerkan pengetahuannya kepada orang lain. Sebaliknya, orang yang gemar memamerkan kelebihannya justru menunjukkan bahwa kapasitas keilmuannya masih dangkal.
Hal ini serupa dengan seseorang yang baru belajar seni bela diri yang selalu ingin memamerkan jurusnya setiap hari kepada semua orang.
Oleh karena itu, prinsip yang diajarkan adalah perlihatkanlah kebodohanmu.
Semakin tinggi dan berat ilmu yang dimiliki seseorang, ia seharusnya semakin menundukkan kepalanya seperti padi yang berisi.
Selain menjaga kerendahan hati, sikap menunduk ini akan mempermudah kita dalam bertingkah laku dan membangun hubungan sosial dengan orang lain.
Secara psikologis, tidak ada orang yang senang bergaul dengan individu yang sombong, meskipun ia sangat pintar.
Orang pintar yang sombong cenderung dijauhi oleh lingkungannya karena orang lain merasa tidak nyaman dan khawatir akan dilecehkan secara intelektual.
Simpanlah kepandaian tersebut, dan keluarkanlah hanya pada saat yang tepat ketika ada orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Jika kita bersikap sombong, orang-orang akan menjauh dan ilmu yang kita miliki akan kehilangan manfaatnya.
Meskipun kebenaran yang kita sampaikan itu nyata, orang tidak akan mau mendengarnya apabila mereka sudah terlanjur antipati terhadap sikap kita.
Di dalam kehidupan, banyak orang yang takut terlihat bodoh sehingga mereka selalu berusaha menonjolkan pengetahuannya demi mendapatkan pujian sebagai orang yang unggul, tanpa menyadari bahwa sikap tersebut justru akan menjerumuskan mereka sendiri.
Segala bentuk perilaku tercela dan kesombongan pada akhirnya akan berbalik dan merugikan diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum dirasakan oleh orang lain.
Bagian 5: Hidup Harmonis dengan Merendah
Orang yang benar-benar pandai semestinya memiliki perilaku yang bijak.
Tanda kepandaian sejati adalah kemampuan untuk menempatkan diri dengan baik, termasuk berpura-pura mengaku bodoh agar dapat terus memberikan manfaat bagi sesama.
Kita harus pandai-pandai merendahkan diri. Kebudayaan Jawa sangat menyukai sikap rendah hati, rendah diri (dalam konteks merendah secara sosial), dan berbicara dengan lembut.
Fondasi teoritis dari harmoni sosial adalah kesediaan kita untuk agak merendah di hadapan orang lain.
Jika semua orang bersikeras untuk menonjolkan diri dan egonya masing-masing, maka yang terjadi di masyarakat pastilah konflik.
(Catatan: Penjelasan mendalam mengenai Serat Wirid Hidayat Jati yang membahas konsep ananingrat, Baitul Makmur, dan Baitul Mukarram dilewati karena pembahasannya sangat panjang dan akan diulas pada kesempatan lain).
Bagian 6: Isyarat Kematian Ronggowarsito dan Konsep Mati Sajroning Urip
Sebelum wafatnya, Ronggowarsito sempat menuliskan sebuah syair yang meramalkan waktu kematian dirinya secara tepat:
“Amung kurang wolung Ari Kang kat dulu surat Sabtu Jati lamating Pati patitis waskatton Ning login”.
Syair ini mengisyaratkan bahwa kematiannya hanya tinggal delapan hari lagi.
Sudah tiba saatnya bagi beliau untuk kembali menghadap Sang Pencipta dan berkumpul di tengah hari tepat pada hari Rabu Pon.
Pembahasan mengenai serat ini bertepatan secara pas dengan peringatan haul wafatnya Ronggowarsito.
Di akhir bagian ajaran ini, terdapat doa yang disampaikan oleh Ronggowarsito melalui teknik Sandi Asmo yang tertuang pada baris kalimat terakhir: “burung anggora Messi martoyo”, yang melambangkan penyatuan jiwa, raga, dan surga yang abadi.
Harapannya adalah agar kita senantiasa dianugerahi kesabaran dan ketosaan (sentosa).
Berdasarkan ajaran Ronggowarsito, puncak kenyamanan hidup dicapai apabila kita mampu mempraktikkan konsep mati sajroning urip (mati di dalam hidup).
Definisi dari kondisi ini adalah ketika jiwa kita telah terbebas dari belenggu keterikatan duniawi.
Kita tidak lagi diperbudak oleh urusan dunia atau terlalu jatuh cinta pada materi. Selain itu, kondisi ini membuat kita jauh dari “keangkeran”โdalam artian tidak ada lagi orang yang usil, membeda-bedakan, atau mencoba menipu kita, sebagaimana tidak ada orang yang mengganggu orang yang sudah mati.
Maka, hidup yang paling damai dan tenteram adalah ketika seseorang mampu “mati” di dalam hidupnya sendiri.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







