Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Jangan Lari Dari Rumitnya Hidup | Ngaji Filsafat

Jangan Lari Dari Rumitnya Hidup | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Jangan Lari Dari Rumitnya Hidup | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

1. Pelarian dari Kerumitan Hidup (Age of Elution)

Banyak orang yang memilih melarikan diri ketika berhadapan dengan absurditas atau kerumitan hidup karena merasa tidak sanggup menghadapinya.
Pelarian (elution) ini biasanya dilakukan dengan cara memegangi keyakinan, tradisi, kebudayaan, keagamaan, atau filsafat yang dianggap memiliki makna universal secara mati-matian.
Meskipun dalam kenyataannya hal-hal tersebut sudah tidak cocok atau tidak lagi relevan dengan situasi yang telah berubah, mereka tetap memegangnya demi mencari rasa nyaman dan menghindari kenyataan hidup.

2. Kebebasan dan Konsep Menerima Tanpa Menyerah

Berdasarkan pemikiran Albert Camus, agar kita mampu memberikan makna pada hidup kita sendiri, syarat utamanya adalah kita harus bebas dari belenggu-belenggu yang selama ini menghambat kemajuan kita.
Kebebasan (freedom) adalah jalan terpintas bagi seseorang untuk menerima absurditas hidup.

Camus memperkenalkan sebuah konsep penting, yaitu menerima tanpa menyerah (acceptance without resignation).
Melalui konsep ini, kita mengakui dan menerima kenyataan bahwa hidup ini absurd, tetapi kita tidak pasrah begitu saja.
Kita tetap merancang hidup, menentukan pilihan, dan memberi makna kita sendiri.

  • Perbedaan Pasrah vs. Menerima Tanpa Menyerah:
    Jika kita membiarkan hidup berjalan apa adanya dengan pasrah karena menganggap hidup ini absurd, itu adalah tindakan menyerah.
    Sebaliknya, menerima tanpa menyerah adalah seperti saat kita berkaca: kita menerima kenyataan fisik kita apa adanya, tetapi kita tidak menyerah untuk terus berjuang dan berusaha sebaik mungkin.

3. Kekuatan Pemaknaan: Belajar dari Analogi Drop Out (DO)

Sebagai contoh nyata, jika seseorang mendapatkan nilai IPK yang buruk atau bahkan terancam dikeluarkan dari kampus (Drop Out / DO), sikap yang benar adalah menerima kenyataan tersebut tanpa menyerah.
Ia harus berusaha sekuat tenaga agar tidak DO, atau jika keadaan terburuk itu benar-benar terjadi, ia harus mampu memaknainya secara berbeda.

Sebab, hidup manusia tidaklah ditentukan secara mutlak oleh IPK atau selembar ijazah.
Nasib buruk tersebut bisa didefinisikan ulang sebagai sebuah tantangan baru.
Bahkan, status DO tersebut sebenarnya juga membebaskan seseorang dari tekanan dan ketegangan akademis yang selama ini membelenggunya, sehingga ia kini menjadi benar-benar bebas.
Ini adalah bentuk nyata dari proses pemaknaan ulang.

4. Melepaskan Topeng dan Eksis sebagai Diri Sendiri

Saat ini, banyak orang yang mengenakan berbagai “topeng” di kepalanya yang tanpa disadari justru membelenggu pikiran mereka.
Kita harus mengevaluasi dan melepaskan topeng-topeng atau nilai-nilai yang sudah tidak relevan agar hidup kita bisa menjadi lebih berharga dan berarti.

Gagasan utama dari eksistensialisme adalah bahwa diri kita baru akan bernilai sebagai manusia jika kita berani eksis sebagai diri sendiri secara individual, bukan sekadar ikut-ikutan dan tenggelam di dalam kerumunan orang banyak.
Eksis di sini berarti berani tampil dan muncul sebagai diri kita yang autentik.
Camus menulis: “Satu-satunya jalan untuk berhadapan dengan dunia yang tidak bebas adalah menjadi sepenuhnya bebas, sehingga keberadaanmu yang sesungguhnya merupakan tindakan pemberontakan.”

5. Kebebasan sebagai Syarat Nilai Suatu Tindakan

Hidup kita pada hakikatnya harus menjadi sebuah tindakan pemberontakan (Age of Rebellion), yaitu memberontak terhadap ketidakbebasan dan nilai-nilai yang mengungkung yang membuat kita tidak eksis sebagai diri sendiri.
Setiap tindakan yang kita lakukan tidak akan memiliki nilai jika kita melakukannya dalam kondisi tidak bebas.

  • Contoh Kebaikan:
    Jika seseorang melakukan kebaikan hanya karena terpaksa atau dipaksa oleh situasi/orang lain, maka tindakan tersebut tidak memiliki nilai yang murni.
  • Contoh Kesalahan:
    Demikian pula dalam kesalahan; jika seseorang melakukan pelanggaran karena benar-benar dipaksa, maka kadar kesalahannya berkurang drastis karena ia tidak memiliki kebebasan untuk memilih.

Di dalam hukum Fiqh pun disyaratkan bahwa seseorang harus “baligh” dan “merdeka” sebelum bisa dikenai beban hukum (khitob).
Orang yang tidak merdeka tidak bisa menguasai dirinya sendiri karena tindakannya hanya mengekor pada perintah orang lain.
Meskipun perbudakan fisik sudah tidak ada, pada hari ini ada banyak hal tak kasat mata yang memperbudak hidup kita tanpa kita sadari.

6. Kesempatan untuk Menjadi Lebih Baik (A Chance to be Better)

Mengapa kita harus bebas? Karena kebebasan tidak lain adalah kesempatan bagi kita untuk tumbuh menjadi lebih baik.
Ketidakbebasan cenderung mengunci kita dalam status quo dan membatasi ruang gerak kita dengan berbagai pagar pembatas.
Padahal, hidup manusia harus selalu berkembang.

Hal ini sejalan dengan hadis: “Yaumuhu khairun min amsihi” (hari ini harus lebih baik dari hari kemarin).
Jika hari ini tidak lebih baik dari kemarin, kita sedang macet di dalam “kebenaran hari ini” yang sebenarnya mungkin sudah tidak relevan lagi untuk hari esok.

Oleh karena itu, syarat mutlak untuk bisa eksis dan menghadapi absurditas hidup adalah kebebasan diri yang diwujudkan melalui tindakan pemberontakan terhadap segala hal yang mengungkung kemerdekaan kita.

Seni Menghadapi Kerumitan Hidup

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us