14 October 2026

Pembukaan dan Rasa Syukur atas Karunia Wilayah

Setiap tanggal 18 Dzulhijjah, umat Islam memperingati dan merayakan Idul Ghadir. Dalam berbagai riwayat, Idul Ghadir dinamakan sebagai Al-‘Eid Al-Akbar (hari raya yang paling agung), yang nilainya bahkan melampaui Idul Fitri maupun Idul Adha.
Atas karunia keagungan hari raya ini, umat dianjurkan untuk memanjatkan puji dan syukur (hamdalah) kepada Allah SWT atas nikmat wilayah yang telah dikaruniakan.

Terdapat tiga ungkapan hamdalah utama di hari Idul Ghadir:

  1. Hamdalah Pertama:
    “Alhamdulillahil-ladzi ja’alana minal mutamassikina bi wilayati Amiril Mu’minin wal A’immah ‘alaihimussalam”
    (Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berpegang teguh pada wilayah Amirul Mukminin dan para Imam Suci setelah beliau).
  2. Hamdalah Kedua:
    “Alhamdulillahil-ladzi akramana bihadzal yaumi wa ja’alana minal mufina bi ‘ahdihi ilaina…”
    (Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan hari ini dan menjadikan kita bagian dari orang-orang yang setia pada janji dan pengukuhan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW menjelang wafatnya di Ghadir Khum, di saat banyak orang lain tidak menjaga kesetiaan tersebut).
  3. Hamdalah Ketiga:
    “Alhamdulillahil-ladzi ja’ala kamala dinihi wa tamama ni’matihi bi wilayati Amiril Mu’minin Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam”
    (Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan sempurnanya agama dan sempurnanya nikmat-Nya melalui wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS).

Pengangkatan Ali bin Abi Thalib AS merupakan penetapan sempurnanya agama dan nikmat Allah.
Menyatakan kesetiaan pada wilayah Amirul Mukminin adalah wujud keberanian iman di tengah kondisi ketika banyak orang merasa takut atau ciut nyalinya untuk berterus terang.

TIGA ULTIMATUM ALLAH KEPADA RASULULLAH SAW DALAM AL-QUR’AN

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan ultimatum dan peringatan yang sangat tegas kepada Rasulullah SAW terkait tiga hal fundamental:

  1. Ultimatum Terkait Tauhid (QS. Az-Zumar: 65)
    Allah SWT berfirman: “Lain asyrakta layahbathanna ‘amaluka wa latakunanna minal khasirin” (Jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya akan gugurlah seluruh amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi).
    Syirik di sini menegaskan bahwa Rasulullah SAW harus bergerak sepenuhnya di atas poros perintah Allah dan tidak boleh bergeser atau berijtihad di luar titah-Nya.
  2. Ultimatum Terkait Penjagaan Kemurnian Al-Qur’an (QS. Al-Haqqah: 44-46)
    Sebagai penerima kitab suci terbaik, Rasulullah SAW diperingatkan bahwa jika beliau menambahkan atau mengurangi wahyu Al-Qur’an sedikit saja, Allah mengancam akan memotong urat nadinya (kematian).
  3. Ultimatum Terkait Penyampaian Wilayah (QS. Al-Ma’idah: 67)
    Allah SWT berfirman: “Ya ayyuhar-Rasulu balligh ma unzila ilaika mir-Rabbik, wa illam taf’al fa ma ballaghta risalatah, wallahu ya’shimuka minan-nas”.
    Ayat ini turun di akhir hayat Rasulullah SAW setelah pelaksanaan Haji Wada, yakni setelah 23 tahun beliau berdakwah dan menyampaikan seluruh ajaran tauhid, kenabian, shalat, puasa, zakat, hingga tata cara haji.

Ayat ini mengandung penekanan khusus:

    • Bukan sekadar penyampaian lisan biasa, melainkan perintah untuk menyelenggarakan upacara (seremony) pengangkatan dan pengukuhan Ali bin Abi Thalib AS secara terbuka yang diabadikan sejarah.
    • Jika perintah pengangkatan ini tidak dilaksanakan, maka seolah-olah seluruh risalah dakwah yang beliau perjuangkan selama 23 tahun dianggap tidak tersampaikan (hangus/sia-sia).
    • Kalimat “wallahu ya’shimuka minan-nas” memberikan jaminan perlindungan dari Allah agar Rasulullah SAW tidak perlu khawatir menghadapi potensi gangguan dari manusia.

PENTINGNYA HUJJATULLAH: TANPA HUJJATULLAH UMAT AKAN KEHILANGAN AGAMA

Proses Mengenal Allah, Rasul, dan Hujjatullah
Dalam Doa Kegaiban diajarkan permohonan: “Allahumma ‘arrifni nafsaka… ‘arrifni rasulaka… ‘arrifni hujjataka, fa innaka in lam tu’arrifni hujjataka dhalaltu ‘an dini”.

  • Mengenal Allah melalui Fitrah:
    Manusia mengenal Allah melalui hakikat dirinya (mengheningkan cipta). Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan dan bukan pemilik mutlak atas keberadaannya, ia menyadari secara fitrah bahwa Sang Pencipta-lah yang paling berhak atas dirinya.
  • Kebutuhan akan Utusan (Rasul):
    Karena manusia tidak dapat membangun koneksi langsung dengan Allah SWT, manusia secara rasional membutuhkan wakil, utusan, atau diplomat Ilahi, yaitu para Nabi dan Rasul.
  • Kebutuhan akan Hujjatullah setelah Nabi Wafat:
    Rangkaian kenabian berakhir pada Nabi Muhammad SAW. Setelah beliau wafat, umat memerlukan penjelas dan wakil Ilahi yang melanjutkan tugas kepemimpinan agama, yaitu Hujjatullah (Imam).

Dampak Ketiadaan Hujjatullah

Jika setelah wafatnya Rasulullah SAW tidak ada Hujjatullah yang ditetapkan Allah, maka ajaran agama akan tersaji dalam ribuan versi yang saling bertentangan, saling menyesatkan, dan mengkafirkan.
Tanpa Hujjatullah sebagai otoritas kebenaran otentik, umat manusia akan kehilangan keaslian agamanya (dhalaltu ‘an dini).

Umat yang berada di jalan wilayah adalah mereka yang mengenali keberadaan Hujjatullah di setiap zaman—mulai dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS hingga Imam ke-12, al-Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi (shohibul azman).

RIWAYAT JABIR BIN ABDILLAH AL-ANSHARI DAN 12 IMAM SUCI

Penjelasan Ayat Ulil Amri

Sahabat Nabi, Jabir bin Abdillah al-Anshari, menceritakan bahwa ketika turun QS. An-Nisa: 59 (“Ati’ullaha wa ati’ur-Rasula wa Ulil Amri minkum”), ia bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai siapa gerangan sosok Ulil Amri yang ketaatannya disejajarkan oleh Allah dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW menjawab bahwa Ulil Amri adalah para khalifah dan imam pemungkas sepeninggal beliau. Beliau kemudian menyebutkan nama-nama 12 Imam Suci secara berurutan:

  1. Ali bin Abi Thalib AS
  2. Al-Hasan AS
  3. Al-Husain AS
  4. Ali bin Al-Husain (Zainal Abidin) AS
  5. Muhammad bin Ali (Al-Baqir) AS — Nabi berpesan kepada Jabir bahwa usianya akan panjang hingga bertemu dengan Al-Baqir, dan meminta Jabir menyampaikan salam dari Nabi kepadanya
  6. Ja’far bin Muhammad (As-Sadiq) AS
  7. Musa bin Ja’far AS
  8. Ali bin Musa AS
  9. Muhammad bin Ali AS
  10. Ali bin Muhammad AS
  11. Al-Hasan bin Ali AS
  12. Muhammad bin Hasan Al-Mahdi (Hujjatullah & Baqiyatullah) AS

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Imam ke-12 akan mengalami masa kegaiban yang panjang. Hanya orang-orang yang imannya telah teruji yang akan tetap teguh meyakininya.
Selama masa kegaiban, umat tetap dapat mengambil manfaat dari cahayanya sebagaimana manusia menikmati cahaya matahari meskipun tertutup oleh awan.

Pertemuan Jabir dengan Imam Al-Baqir AS

Di usia tuanya, Jabir bertamu ke rumah Imam Ali Zainal Abidin (As-Sajjad) AS. Ketika itu, keluar seorang anak kecil bernama Muhammad bin Ali (Al-Baqir) AS.
Melihat ciri-ciri fisik dan gerak-geriknya yang persis menggambarkan Rasulullah SAW, tubuh Jabir gemetaran dan bulu kuduknya berdiri.

Jabir mengonfirmasi identitas anak tersebut, lalu menyampaikan salam dari Rasulullah SAW. Imam Al-Baqir AS membalas salam untuk Rasulullah SAW serta mendoakan keselamatan bagi Jabir.

Sikap Wilayah Jabir bin Abdillah

Meskipun Jabir adalah sahabat senior yang telah menyerap ilmu langsung dari Rasulullah SAW dan para Imam sebelumnya, saat diajak berdialog mengenai suatu hukum/ilmu oleh Imam Al-Baqir kecil, Jabir menundukkan diri dan menolak memberikan pengajaran.
Jabir berpegang pada sabda Nabi: “Janganlah kalian mengajari mereka (Ahlulbait), karena mereka jauh lebih pandai daripada kalian”. Imam Al-Baqir AS membenarkan sabda kakeknya dan menegaskan bahwa keutamaan ilmu tersebut adalah anugerah Allah bagi Ahlulbait.

IDUL GHADIR SEBAGAI TITIK PERSATUAN UMAT ISLAM

Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Imam Asy-Syahid Sayyid Ali Khamenei, Idul Ghadir bukanlah sumber perpecahan, melainkan titik persatuan seluruh umat Islam.

Ghadir menjadi titik persatuan karena:

  • Ketika umat Islam ingin bersatu, mereka harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
  • Peristiwa Ghadir Khum dan pesannya terdokumentasi secara utuh, mutawatir, serta disepakati oleh seluruh mazhab Islam melalui wasiat agung Hadits Tsaqalain:
    “Aku tinggalkan kepada kalian dua hal berat yang jika kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan sesat selamanya: Kitabullah dan Itrah Ahlulbaitku”.
  • Pernyataan Rasulullah SAW: “Man kunthu maulahu fa ‘Aliyun maulahu” di Ghadir Khum adalah data sejarah sah dan kolosal yang diakui oleh seluruh umat Islam.

Penutup Doa

Peringatan Idul Ghadir diakhiri dengan doa agar Allah SWT menyegerakan kemunculan Hujjatullah terakhir, Imam Al-Mahdi (shohibul azman).
Kemunculannya dinantikan untuk menegakkan keadilan, kedamaian, kesejahteraan, dan ketentraman yang hakiki di seluruh penjuru bumi.

Aqb Hikmah Idul Ghadir

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us