17 October 2026

Siang itu, panas menekan jalan-jalan kota. Bayang-bayang merapat ke dinding. Orang-orang mencari tempat berteduh.

Imam Ali a.s. sedang kembali ke rumah ketika seorang perempuan menghadangnya.

Ia membawa pengaduan yang pendek, tetapi di dalamnya ada sebuah rumah yang telah kehilangan rasa aman.

Suaminya menzaliminya. Mengancamnya. Bersumpah akan memukulnya.

Imam mendengarkan.

Mula-mula beliau meminta perempuan itu menunggu hingga panas sedikit reda, kemudian beliau akan menemaninya. Namun perempuan itu menjelaskan bahwa kemarahan suaminya akan semakin menjadi-jadi.

Ali menundukkan kepala.

Lalu mengangkatnya kembali.

Tidak. Hak orang yang teraniaya harus diperjuangkan tanpa membuatnya gentar untuk menuntutnya.

Beliau menanyakan letak rumah perempuan itu.

Dan mereka berangkat.

Bayangkan jalan yang harus ditempuh perempuan itu untuk kembali: setiap langkah mendekatkannya kepada pintu yang ditakutinya. Sebuah pintu biasa bagi orang yang melintas.
Tetapi bagi orang yang pernah diancam di baliknya, suara pintu terbuka dapat membuat seluruh tubuh menegang.

Kini Ali berjalan bersamanya.

Kekuasaan sedang mendatangi sebuah rumah melalui jalan yang ditunjukkan seorang perempuan.

Mereka tiba.

Imam berdiri di depan pintu dan mengucapkan salam.

Seorang pemuda keluar.

Ali mengingatkannya agar bertakwa kepada Allah. Perempuan itu telah dibuat ketakutan dan terusir.

Pemuda itu belum mengenali orang yang berbicara kepadanya.

Teguran tersebut justru dibalas dengan tantangan.

Apa urusannya lelaki ini mencampuri kehidupannya?

Kemudian keluar ancaman yang lebih mengerikan: karena teguran itu, ia akan membakar istrinya.

Di ambang pintu tersebut, persoalannya menjadi terang.

Seorang manusia telah merasa begitu berkuasa atas manusia lain sampai nasihat untuk berhenti menyakiti dianggap sebagai penghinaan.

Seolah-olah ikatan perkawinan memberinya izin untuk melakukan apa saja.

Ali tetap berdiri.

Beliau menegaskan bahwa ajakan kepada kebaikan dan larangan berbuat mungkar justru sedang dibalas dengan kemungkaran.

Perempuan itu datang mencari perlindungan. Dan perlindungan itu tidak mundur ketika pelaku meninggikan suara.

Lalu orang-orang mulai berdatangan dari jalan-jalan sekitar.

Mereka mengenali lelaki yang berdiri di depan rumah itu.

Salam terdengar.

“Assalamu‘alaikum, ya Amirul Mukminin.”

Amirul Mukminin.

Gelar itu mencapai telinga pemuda tersebut.

Orang yang baru saja ditantangnya adalah Ali bin Abi Thalib.

Kini keberaniannya surut. Ia memohon agar kesalahannya dimaafkan dan berjanji akan memperlakukan istrinya dengan kerendahan hati.

Riwayat menyebut Ali kemudian menyarungkan pedangnya. Beliau mempersilakan perempuan itu masuk kembali, disertai nasihat agar pertengkaran serupa dihindari.

Tidak ada darah yang ditumpahkan.

Tetapi ada kesombongan yang dihentikan di depan pintu.

Betapa ganjilnya manusia: suara perempuan yang meminta keselamatan dapat diabaikannya, tetapi satu sapaan kepada orang berkuasa segera membuatnya gentar.

Padahal sebelum orang-orang menyebut gelar itu, kezaliman yang dilakukannya sudah tetap merupakan kezaliman.

Ancaman itu tidak menjadi salah karena ditujukan di hadapan khalifah.

Ia salah sejak seorang perempuan dibuat takut di rumahnya sendiri.

Di sinilah kehadiran Ali terasa begitu besar.

Seorang pemimpin dapat mendengar laporan tentang negeri-negeri yang jauh, mengatur pasukan, dan memikirkan urusan pemerintahan. Namun di tengah semuanya, ia masih bersedia mengikuti langkah seorang perempuan menuju rumahnya.

Tidak diperlukan nama keluarga terpandang untuk mendapatkan perhatiannya.

Tidak diperlukan hadiah.

Cukup sebuah pengaduan: aku sedang dizalimi.

Dan Ali datang.

Siang itu, kedahsyatan beliau berdiri di sebuah ambang pintu—memastikan bahwa di balik pintu sebuah rumah, orang yang lemah tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi ancaman.

Dipintu rumah

Catatan sumber:

inti kisah terdapat dalam Manāqib Āl Abī Ṭālib karya Ibnu Syahrasyub, melalui riwayat yang dinisbatkan kepada Imam al-Baqir.
Suasana dan penggambaran batin di atas merupakan dramatisasi; dialog umumnya disampaikan sebagai parafrasa. Teks riwayat

—

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CGpNZVp1J/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us