Jangan Tukarkan Rasa Takutmu Dengan Rasa Takut Lainnya | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Empat Kualifikasi Dasar Keutamaan (Arete)
Menurut Plato, terdapat empat kualifikasi dasar agar jiwa kita berfungsi optimal dan bisa mencapai kebahagiaan, yaitu: kesederhanaan, keberanian, kebijaksanaan, dan keadilan atau kebenaran.
1. Mengelola Epithumia (Keinginan Fisik)
Epithumia berkaitan dengan keinginan fisik seperti makan, minum, dan seks. Agar bagian jiwa ini optimal, kuncinya adalah kesederhanaan. Dalam konteks ini, “sederhana” berarti “pas”, bukan “pas-pasan”,.
Hidup sederhana adalah hidup yang sesuai kebutuhan. Jika butuh 100, maka dipenuhi 100, tidak perlu berlebihan menjadi 200.
Sebagai contoh, jika porsi makan Anda adalah tiga piring untuk merasa kenyang, maka tiga piring itulah yang disebut pas atau sederhana bagi Anda.
Justru akan menjadi zalim jika Anda memaksakan makan hanya satu piring padahal tubuh membutuhkannya lebih. Prinsipnya adalah jangan berlebihan dan jangan kekurangan.
2. Mengelola Thumos (Harga Diri dan Ambisi)
Thumos berkaitan dengan harga diri, cita-cita, status, dan semangat. Keutamaan dari thumos adalah harus pas dan berani.
- Pas:
Jika berlebihan akan menjadi sombong, jika kekurangan akan menjadi minder. - Berani:
Keberanian adalah titik tengah antara rasa takut dan nekat. Orang yang nekat melakukan sesuatu tanpa kemampuan (misal: ingin jadi TNI AL tapi tidak bisa berenang) bukanlah orang berani. Berani berarti sadar akan keterbatasan namun mau belajar.
3. Mengelola Logistikon (Akal dan Pengetahuan)
Logistikon atau logos berkaitan dengan pengetahuan. Berbeda dengan keinginan fisik yang harus dibatasi secara “pas”, logos justru optimal jika pengetahuannya terus ditambah.
Jadi, seseorang akan bahagia jika epithumia-nya sederhana, thumos-nya sederhana dan berani, serta logos-nya selalu berkembang melalui pengetahuan.
Gerak Jiwa Menuju Kebahagiaan
Untuk mencapai kebahagiaan, Plato menjelaskan ada dua gerak jiwa yang harus dilalui:
- Gerak Membersihkan:
Membereskan epithumia dan thumos agar menjadi sederhana dan berani. - Gerak Mengarahkan:
Setelah diri bersih, logos berperan sebagai pemandu atau kusir yang mengarahkan hidup menuju tujuan yang benar,.
Konsep ini mirip dengan ajaran sufistik: Takhalli (membersihkan diri), Tahali (mengisi dengan kebaikan), dan Tajalli (sampai pada tujuan/penampakan kebenaran).
Keutamaan Bukanlah Pertukaran (Ijolan)
Catatan penting dari Plato adalah bahwa keutamaan bukanlah sebuah pertukaran atau “ijolan”.
Seringkali kita terjebak dalam logika bisnis dengan Tuhan atau kehidupan, misalnya:
- Mengorbankan waktu tidur demi nilai ujian yang bagus karena takut nilai jelek,.
- Rajin ibadah (tahajud, duha, puasa) hanya agar rezeki lancar,.
Menurut Plato, tindakan semacam ini tidak utama karena dasarnya masih rasa takut.
Kita hanya menukarkan satu rasa takut dengan rasa takut lainnya (misal: menaklukkan rasa takut bekerja dengan rasa takut akan kemiskinan melalui ibadah),.
Agar menjadi utama, jalurnya harus melalui logos (akal). Contohnya, melakukan salat Duha bukan sebagai transaksi agar kaya, melainkan sebagai bentuk rasa syukur karena menyadari betapa banyaknya rezeki yang telah diterima.
Motivasi yang berdasarkan logos ini lebih murni dan abadi daripada sekadar itung-itungan atau logika bisnis dengan Tuhan,.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







