Takut Akan Cahaya, Senang Akan Kegelapan | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hakikat Kejahatan sebagai Ketidaktahuan
Menurut Plato, pada dasarnya orang jahat itu tidak ada; yang ada hanyalah orang yang melakukan kesalahan karena mereka tidak tahu atau tidak sadar.
Logikanya, tidak ada manusia yang secara sengaja ingin merusak atau menyusahkan dirinya sendiri.
Ketika seseorang berbuat jahat, ia keliru menganggap bahwa tindakannya tersebut menguntungkan dirinya, padahal ia tidak sadar bahwa perbuatan itu justru merusak jiwanya sendiri.
Sebagai contoh, seorang pembegal mungkin merasa beruntung mendapatkan uang, namun ia tidak paham bahwa setelah itu hidupnya akan sengsara, tidak bebas, dan penuh rasa was-was.
Jika seseorang benar-benar mengerti risiko dan dampak buruk dari kejahatannya, ia pasti tidak akan melakukannya.
Oleh karena itu, kunci utama kehidupan adalah logos (akal) yang harus bertindak sebagai pengendali jiwa agar manusia tetap berada di jalan yang baik.
Kebahagiaan dan Kedekatan dengan Ilahi
Ketika jiwa seseorang sudah harmonis dan adil, ia akan mencapai kebahagiaan yang disebut Eudaimonia.
Istilah “Diamond” dalam konsep ini merujuk pada intelek atau akal yang bersifat ketuhanan.
Saat akal memimpin bagian-bagian jiwa secara optimal, manusia akan merasakan kebahagiaan sejati yang sekaligus membuatnya menjadi dekat dan serupa dengan yang Ilahi.
Dalam perspektif ini, kebahagiaan di dunia dan akhirat bukanlah dua hal yang terpisah; orang yang benar-benar bahagia di dunia melalui jalan rasio dan penaklukan jiwa, secara otomatis akan bahagia di akhirat.
Sebaliknya, orang jahat yang jiwanya kacau sebenarnya mengalami kesengsaraan baik di dunia maupun di akhirat.
Kearifan dalam Berbicara dan Ketakutan akan Cahaya
Plato membedakan kualitas manusia dari cara mereka berkomunikasi: orang bijaksana berbicara karena memiliki sesuatu untuk dikatakan, sedangkan orang bodoh berbicara hanya karena ingin mengatakan sesuatu.
Salah satu tragedi terbesar dalam hidup adalah ketika orang dewasa takut akan cahaya.
Jika anak kecil takut kegelapan, itu adalah hal yang wajar, namun menjadi masalah besar ketika orang dewasa takut akan kebenaran (cahaya) karena mereka merasa dirinya sudah paling benar dan enggan merevisi pemikiran mereka yang salah.
Hukum, Tanggung Jawab, dan Keridaan Tuhan
Mengenai etika dan aturan, orang baik tidak membutuhkan hukum untuk memberi tahu mereka agar bertindak secara bertanggung jawab, sementara orang jahat akan selalu mencari celah untuk melanggar hukum meskipun ada aturan atau kitab suci yang jelas.
Sebagai bahan renungan, terdapat pertanyaan filosofis mengenai apakah sesuatu itu suci sehingga dicintai Tuhan, atau menjadi suci karena dicintai Tuhan.
Dalam pandangan yang lebih luas, keridaan Tuhan adalah faktor penentu utama.
Seseorang yang tampak rendah di mata manusia bisa menjadi suci jika diridai oleh Allah, sedangkan seorang alama atau ahli ibadah sekalipun bisa celaka jika Allah tidak rida.
Secara intelektual, Plato meletakkan dasar pemikiran yang lebih condong ke arah idealisme (sayap kanan), yang nantinya akan dikembangkan secara berbeda oleh muridnya, Aristoteles, melalui jalur realisme.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







