Eps 4. Rahmat Bagi Seluruh (seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an)
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Kajian malam ini masih berada dalam suasana bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Sayyidul Wujud, Nabi Muhammad SAW.
Pembahasan kali ini sangat sederhana namun mendalam, yaitu mengenai makna “Rahmatan lil ‘Alamin” bagi Rasulullah SAW, sebagaimana Allah menyebut beliau sebagai rahmat bagi semesta alam.
Memahami Luasnya Rahmat Allah
Kita mustahil dapat mengenal hakikat rahmat yang dimiliki Rasulullah SAW jika kita tidak terlebih dahulu membicarakan luasnya rahmat Allah SWT.
Meskipun tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengenal hakikat rahmat Allah secara utuh, kita tahu bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu (warahmati wasi’at kulla syai’).
Allah telah menetapkan pada Dzat-Nya sendiri bahwa Dzat-Nya adalah kasih sayang atau rahmat (kataba ‘ala nafsihi ar-rahmah).
Alam semesta ini tegak hanya karena rahmat Allah. Jika rahmat itu terputus walau sekejap, maka hancurlah seluruh alam dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya.
Allah menunda sanksi dan hukuman bagi manusia yang berbuat dosa semata-mata karena rahmat-Nya, memberikan kesempatan untuk bertaubat hingga nafas terakhir.
Sebagai gambaran perbandingan antara rahmat dan murka Allah, dari 114 surat dalam Al-Qur’an, 113 di antaranya dimulai dengan Bismillahir-rahmanir-rahim.
Bahkan surat yang tidak diawali bismillah pun tetap merupakan bentuk rahmat agar manusia tidak terjerumus ke neraka.
Rasulullah SAW sebagai Simbol dan Sentral Rahmat
Simbol dari rahmat Allah yang maha luas itu adalah Rasulullah SAW. Beliau adalah makhluk pilihan yang menjadi sentral curahan rahmat Allah ke seluruh wujud ini.
Allah menyifati diri-Nya sebagai Roufur Rahim (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), dan sifat yang sama juga Allah sematkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an (bil mu’minina roufur rohim).
Keberadaan beliau sebagai rahmat tidak terbatas pada manusia atau jin saja, melainkan mencakup seluruh alam: malaikat, hewan, tumbuh-tumbuhan, hingga benda mati.
Bahkan Malaikat Jibril pun mengakui bahwa ia memperoleh percikan rahmat Allah melalui Nabi Muhammad SAW.
Rahmat bagi Orang Beriman dan Orang Kafir
Bagi orang beriman, Rasulullah adalah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, rahmat beliau juga menyentuh orang kafir.
Salah satu bentuknya adalah Allah tidak menghancurkan umat Nabi Muhammad secara massal dan seketika sebagaimana umat nabi-nabi terdahulu ketika mereka melanggar.
Rasulullah senantiasa menawarkan konsep kebahagiaan kepada seluruh manusia.
Jika mereka menolak, kebaikan itu tetap ada pada beliau, seperti seseorang yang menawarkan makanan lezat kepada orang yang lapar namun ditolak.
Hati Rasulullah dipenuhi rahmat hingga beliau merasa sangat sedih, bahkan hampir membinasakan diri sendiri, ketika melihat ada manusia yang berpaling dari hidayah karena beliau tidak ingin melihat satu pun manusia sengsara atau masuk neraka.
Contoh Kelembutan dan Kasih Sayang Nabi
- Dalam Peperangan:
Di Perang Uhud, meskipun beliau terluka dan dikhianati, hati beliau tetap lembut dan tidak marah kepada mereka karena adanya rahmat di hati beliau. - Kepada Penduduk Taif:
Saat dilempari batu hingga berdarah, beliau menolak tawaran malaikat untuk menghancurkan penduduk Taif dengan gunung.
Beliau justru mendoakan agar anak cucu mereka kelak beriman kepada Allah. - Kepada Hewan:
Beliau adalah orang pertama yang melarang kekejaman terhadap binatang. Beliau memerintahkan untuk menajamkan pisau saat menyembelih agar hewan tidak merasa sakit.
Ada pula kisah seekor unta yang mengadu kepada Nabi karena merasa dianiaya pemiliknya, serta seekor induk binatang yang meminta izin untuk menyusui anaknya.
Kaitan dengan Para Nabi Terdahulu
Seluruh nabi terdahulu, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa, telah mengambil sumpah untuk beriman dan menolong Rasulullah SAW. Mereka semua mengidolakan dan bertawassul kepada beliau. Nabi Ibrahim mencapai kedudukan Khalilurrahman (Kekasih Allah) salah satunya karena banyaknya bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.
Pesan untuk Umat Muhammad
Sebagai umat dari Nabi Rahmah, sudah sepatutnya kita memiliki sifat kasih sayang di antara sesama (ruhama’u bainahum).
Jika kita tidak memiliki rasa kasih sayang, maka kita tidak pantas disebut sebagai pengikut beliau.
Rasulullah SAW memberikan kunci agar rahmat Allah tidak terputus bagi kita: “Kasihanilah dirimu dan kasihanilah makhluk Allah, maka Allah pasti akan memberikan rahmat-Nya kepadamu”.
Segala aspek dalam Islam, mulai dari hubungan dengan orang tua, suami-istri, hingga ukhuwah, semuanya tegak di atas pondasi rahmat.
Penutup
Mari kita senantiasa bertawassul kepada beliau dengan gelar Nabiyyur Rahmah (Nabi Pembawa Rahmat), agar seluruh kehidupan kita—hubungan dengan orang tua, anak, istri, tetangga, dan lingkungan—selalu dipenuhi oleh percikan rahmat Allah SWT.

Bersama Ustadz Muhammad bin Alwi BSA
Eps 4. Rahmat Bagi Seluruh (seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an)
Video source: DISKUSI FATHIMAH
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






