Capailah Ini Maka Dirimu Akan Bahagia | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Menjadi Orang Baik Tanpa Perlu Berdebat
Sesuai dengan nasihat Marcus Aurelius, kita sebaiknya berhenti membuang waktu untuk berdebat tentang kriteria orang baik; sebaliknya, jadilah orang baik itu sendiri.
Selama akal kita berjalan dengan jernih, kita sebenarnya sudah tahu bagaimana cara menjadi orang baik tanpa perlu diskusi yang panjang.
Tidak ada orang yang tidak bisa menjadi orang baik; masalahnya biasanya terletak pada ketidakmauan atau rasa malas saja.
Pentingnya Akal Sehat dan Bahaya “Kacamata” Subjektif
Kunci dari kebahagiaan adalah hidup yang harmonis, baik dalam pikiran maupun lingkungan.
Untuk mencapai harmoni tersebut, kita harus melakukan kebaikan yang ditemukan melalui akal sehat dan pikiran yang jernih.
Sering kali, pikiran kita tidak jernih karena tertutup oleh berbagai informasi dan “kacamata” subjektifโseperti kacamata hitam, merah, atau hijauโyang membuat kita melihat segala sesuatu secara tidak objektif.
Menurut kelompok Stoik, jalan untuk menemukan kebaikan adalah dengan berpikir secara benar dan objektif.
Akal vs Emosi
Zeno berpendapat bahwa kejahatan sebenarnya tidak ada; kejahatan hanyalah hasil dari penolakan seseorang untuk berpikir jernih.
Akal adalah alat untuk membedakan mana yang baik dan buruk, sedangkan emosi atau perasaan sering kali bersifat subjektif dan tidak objektif.
Emosi bisa membuat sesuatu yang buruk terlihat baik, atau sebaliknya, hanya karena faktor kesukaan atau ketidaksukaan.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan akal adalah jaminan bagi kemanusiaan kita, karena dari pikiran yang pendek dan tidak jernihlah lahir kejahatan seperti mencuri atau tawuran.
Kebijaksanaan dalam Menunda Keputusan (Kisah Prajurit dan Guru Zen)
Penting bagi kita untuk membiasakan diri berpikir panjang sebelum bertindak.
Ada sebuah cerita tentang seorang prajurit yang membeli kebijaksanaan dari seorang guru Zen dengan pesan: “Sebelum memutuskan sesuatu, majulah tiga langkah dan mundurlah tiga langkah”.
Nasihat ini menyelamatkan prajurit tersebut dari tindakan impulsif membunuh orang di kamarnya, yang ternyata adalah saudara istrinya.
Intinya, jangan terburu-buru (grusa-grusu) dalam mengambil keputusan; pakailah akal sehat untuk melihat jawaban yang benar.
Empat Penghambat Pikiran Jernih
Terdapat empat hal utama yang sering merusak kejernihan pikiran dan harus diwaspadai:
- Hasrat/Keinginan:
Keinginan yang berlebihan sering kali membuat pikiran menjadi keruh. - Ketakutan:
Rasa takut membuat kita hanya fokus pada cara menyelamatkan diri sendiri, terkadang dengan mengorbankan hal lain. - Kesenangan:
Kesenangan yang tidak terkendali, seperti kecanduan game atau gawai, dapat merusak diri dan mengendalikan hidup kita. - Rasa Sakit:
Orang cenderung menghindari kesulitan atau rasa sakit sehingga tidak bisa berpikir jernih tentang manfaat jangka panjang, seperti saat malas mengerjakan tugas atau tesis karena hanya membayangkan susahnya.
Rumus Kebahagiaan Stoik
Untuk mencapai kebahagiaan, kita harus mengganti keempat emosi tersebut dengan pikiran jernih.
Kita perlu mempertanyakan apakah keinginan dan ketakutan kita masuk akal, serta mengatur porsi kesenangan dan rasa sakit secara tepat.
Dengan menjalankan pilihan-pilihan yang baik berdasarkan akal, hidup akan menjadi harmonis secara lahir dan batin, dan itulah rumus kebahagiaan menurut kaum Stoik.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







