Tolaklah Rasa Sakit, Jangan Biarkan Dia Masuk | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
1. Prinsip Self-Preservation (Pelestarian Diri)
Dalam hidup, kita diperbolehkan memiliki hobi, kesenangan, keinginan untuk kaya, atau mencari kepuasan tertentu.
Hal ini disebut sebagai self-preservation, yaitu upaya melestarikan diri agar hidup terasa enak, nyaman, dan bahagia.
Kita memiliki hak untuk makan enak, tidur nyenyak, dan bersenang-senang.
Namun, kita harus berhati-hati dalam melampiaskannya. Jangan sampai upaya mencari kesenangan ini menjadi kontraproduktif.
Contohnya adalah orang yang meminum minuman oplosan demi kesenangan sesaat, namun justru berakhir tragis.
Begitu pula dengan hobi seperti bermain game atau internetan; lakukanlah secukupnya dalam rangka menjaga eksistensi diri.
Jika dilakukan berlebihan hingga waktu habis sia-sia, secara esensial Anda sebenarnya sedang “punah” karena tidak memberikan diri Anda sepenuhnya pada hal yang bermanfaat.
2. Hidup dalam Harmoni
Seorang tokoh Stoa, Marcus Aurelius, pernah berkata bahwa ia yang hidup harmonis dengan dirinya sendiri akan hidup harmonis dengan alam semesta.
Ketidakharmonisan terjadi ketika ada konflik antara pikiran dan perbuatan, atau ketika pikiran Anda sendiri tidak jelas antara “ya” dan “tidak”.
Jika di dalam diri Anda sendiri terus terjadi peperangan batinโseperti menyesali kebodohan diri atau merasa malu secara berlebihanโmaka Anda tidak akan bisa damai dengan orang lain maupun alam semesta.
Oleh karena itu, berdamailah dengan diri sendiri terlebih dahulu.
3. Kebijaksanaan dan Pengendalian Pikiran
Menurut Zeno, tidak ada ingatan atau kejadian yang bisa mengusik kebahagiaan orang yang sudah bijaksana (wise).
Orang bijaksana tidak mudah merasa sumpek atau galau karena mereka tidak membiarkan hal-hal luar memengaruhi kedalaman batinnya.
Kunci sederhana menghadapi kegalauan (misalnya karena skripsi yang tidak kunjung selesai) adalah dengan tidak memedulikannya secara berlebihan di dalam pikiran.
Galau hanya akan menghabiskan energi dua kali lipat: satu untuk mengerjakan tugas, dan satu lagi untuk merasa sedih.
Jika ada masalah yang tidak bisa dijawab, lebih baik berhenti memikirkannya (maukuf) daripada terus menyiksa diri.
Rumusnya sederhana: jika bisa dikerjakan, lakukan semampunya; jika tidak bisa, tidak usah dipikirkan agar tidak sumpek.
4. Menolak Rasa Sakit
Marcus Aurelius menekankan: “Reject your sense of injury and the injury itself disappeared” (Tolaklah rasa sakit itu, maka rasa sakit itu akan hilang).
Rasa sakit atau kegalauan sering kali muncul dari penilaian kita sendiri terhadap suatu situasi.
Sebagai contoh, saat patah hati atau dimarahi dosen, situasi sebenarnya hanyalah perubahan kondisi (dari berdua menjadi sendiri, atau sekadar menerima teguran).
Namun, karena kita sering mendramatisir keadaanโseperti menonton film India atau membuat puisi-puisi sedihโkita sendirilah yang memasukkan rasa sakit itu ke dalam diri.
Jangan menghabiskan energi untuk marah atau sakit hati terhadap hal-hal yang tidak benar atau tidak ada hubungannya dengan diri Anda (seperti pesan di WhatsApp yang belum tentu benar).
Tolaklah rasa sakit tersebut, dan ia akan hilang dengan sendirinya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







