Hakikat Itsar
Itsar secara bahasa berasal dari akar kata yang berarti sesuatu yang menetap atau warisan, namun dalam konteks tasawuf,
Itsar adalah keadaan di mana seseorang mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri, meskipun ia sendiri sedang sangat memerlukan hal tersebut.
Tindakan ini dilakukan secara sukarela dan dengan senang hati.
Lawan dari Itsar adalah Suuh atau Bakhil (pelit), yaitu keadaan di mana seseorang ingin menyimpan segala sesuatu hanya untuk dirinya sendiri dan enggan berbagi.
Rasulullah SAW memperingatkan bahwa sifat pelit ini dapat menghancurkan umat manusia karena memutus tali silaturahmi dan hubungan sosial.
Peristiwa Bersejarah (Asbabun Nuzul Surah Al-Hasyr: 9)
Ayat Al-Qur’an yang memuji sifat Itsar (“…dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan…”) dikaitkan dengan tiga peristiwa besar:
- Kaum Ansar di Madinah:
Saat kaum Muhajirin berhijrah dari Mekkah, penduduk Madinah (Ansar) membagikan rumah, harta, bahkan mencari nafkah untuk saudara mereka yang baru datang, meskipun hidup mereka sendiri terbatas. - Perang Uhud:
Para pejuang yang terluka parah di ambang kematian saling mengisyaratkan agar air minum diberikan kepada rekan di sebelahnya yang dianggap lebih membutuhkan, hingga akhirnya mereka semua syahid sebelum sempat meminum air tersebut. - Keluarga Imam Ali dan Sayyidah Fatimah:
Suatu malam, mereka menjamu seorang tamu dalam keadaan gelap.
Mereka memberikan satu-satunya mangkuk sup yang ada kepada tamu tersebut, sementara mereka sekeluarga berpura-pura makan dari mangkuk kosong agar sang tamu merasa nyaman menghabiskan hidangannya.
Tingkatan Kedermawanan
Dalam tasawuf, kedermawanan dibagi menjadi beberapa tingkatan:
- As-Sahal:
Kemurahan hati untuk memudahkan urusan orang lain. - Al-Jud:
Memberikan kelebihan harta atau bantuan tanpa menyusahkan diri sendiri. - Al-Itsar:
Derajat tertinggi, yaitu memberikan apa yang sebenarnya sangat kita perlukan.
Kedermawanan ini tidak terbatas pada harta, tetapi juga mencakup 10 jenis, termasuk dermawan dengan diri (nafsi), posisi (riyasah), ilmu pengetahuan, tenaga, hingga kesabaran.
Tiga Tingkatan Itsar dalam Perjalanan Ruhani
Dr. Kholid Al-Walid menjelaskan tiga level Itsar:
- Level Awam:
Mendahulukan kepentingan makhluk lain (manusia atau hewan) selama tidak melanggar hak orang lain yang menjadi tanggung jawab kita atau melanggar perintah Allah. - Level Khusus:
Mendahulukan ridha Allah di atas keridhaan makhluk. Seseorang di level ini tidak peduli jika dihina atau dijauhi manusia demi memegang teguh kebenaran dan mencari cinta Allah.
Contohnya adalah ulama yang meninggalkan kemasyhuran demi menjaga kemurnian hatinya dari sifat ujub (bangga diri). - Level Khususul Khusus (Itsar Lillah):
Melepaskan kehendak pribadi dan sepenuhnya ridha atas apa pun yang Allah gerakkan dalam dirinya. Ia tidak lagi melihat dirinya sendiri, melainkan hanya melihat kehendak Allah dalam setiap kejadian (seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang berserah diri total).
Perbedaan Itsar dengan Altruisme Psikologi
Meskipun mirip dengan konsep altruisme dalam psikologi, Itsar memiliki perbedaan mendasar:
- Pusat Kesadaran:
Altruisme berpusat pada kenyamanan orang lain, sementara Itsar berpusat pada Allah (mencari ridha-Nya). - Batasan:
Itsar tidak membolehkan tindakan yang melanggar syariat atau membahayakan nyawa secara sia-sia (seperti bunuh diri demi orang lain), karena tujuannya adalah kesempurnaan jiwa di hadapan Allah.
Penutup
Untuk mengobati penyakit kikir, seseorang harus memaksakan diri untuk bersedekah secara terus-menerus hingga berbagi menjadi sebuah kebahagiaan dan tidak berbagi menjadi sebuah rasa malu.
Itsar adalah puncak akhlak mulia yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah dicintai oleh Allah.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri #24 dengan tema ITSAR (Mendahulukan Kepentingan Allah)
Senin 6 Juni 2022 Jam 20.00 – 21.30 WIB LIVE STREAMING
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net

