Pentingnya Akhlak
Al-Khuluq atau akhlak adalah keadaan batin yang mewujud dalam perilaku dan sifat manusia.
Rasulullah SAW bersabda bahwa agama itu sendiri adalah akhlak; maka jika seseorang tidak menunjukkan akhlak yang baik, pada hakikatnya ia tidak beragama.
Allah SWT memerintahkan kita untuk menjadi pemaaf, mengajak pada kebaikan, dan menjauhkan diri dari orang-orang bodoh (QS. Al-A’raf: 199).
Kebaikan bersifat universal; ia melintasi sekat agama dan suku bangsa.
Contoh nyata kebaikan yang paling sederhana adalah memberikan wajah yang menyenangkan dan tersenyum kepada sesama.
Empat Pilar Utama Akhlak Mulia
Kebaikan akhlak didasarkan pada empat rukun atau tiang penyangga utama:
- Sabar:
Kemampuan menahan amarah dan tidak bertindak emosional atau terburu-buru. - Iffah (Menjaga Kehormatan):
Menjauhkan diri dari hal-hal yang merendahkan harga diri, yang bersumber dari rasa malu (al-haya’). - Syaja’ah (Keberanian):
Berani mengambil risiko demi tujuan mulia dan melawan rasa takut akan kehilangan dunia (harta atau jabatan). - Adl (Keadilan/Keseimbangan):
Berada di tengah-tengah antara dua titik ekstrem.
Contohnya, keberanian (syaja’ah) berada di antara sifat pengecut dan sifat nekad yang konyol.
Tingkatan Akhlak dalam Perjalanan Ruhani
Akhlak memiliki tiga tingkatan utama bagi seorang pejalan spiritual:
- Tingkat Pertama (Terhadap Makhluk):
Berusaha agar seluruh makhluk aman dari gangguan kita dan merasakan kasih sayang kita.
Bahkan terhadap hewan seperti anjing atau semut sekalipun, kita harus menunjukkan kasih sayang karena mereka adalah makhluk Allah. - Tingkat Kedua (Terhadap Allah):
Memperbaiki diri di hadapan Allah dengan menyadari segala kekurangan ibadah kita.
Seseorang harus merasa faqir (butuh) dan selalu memohon maaf atas keterbatasannya, sambil terus bersyukur atas segala karunia-Nya. - Tingkat Ketiga (Berakhlak dengan Akhlak Allah):
Melepaskan sifat-sifat kemakhlukan dan membiarkan sifat-sifat Ilahi bekerja melalui dirinya (fana).
Pada tahap ini, segala perilaku yang muncul adalah manifestasi keindahan Allah, di mana kasih sayang dan kesabarannya menjadi tidak terbatas.
Etika Sosial dan Media Sosial
Kajian ini juga menekankan bahwa tradisi masyarakat (urf), seperti mencium tangan orang tua, adalah kebaikan selama tidak bertentangan dengan syariat dan bertujuan untuk penghormatan.
Terkait fenomena pamer sedekah di media sosial, hal tersebut dibolehkan jika niatnya untuk mengedukasi atau mengajak orang lain berbuat baik.
Namun, jika niatnya adalah mencari pujian (ujub), maka hal itu menjadi buruk. Yang terpenting bukanlah tampilannya, melainkan ketulusan hati.
Kesimpulan
Akhlak adalah ukuran kematangan beragama seseorang.
Kesalehan ritual yang tidak dibarengi dengan kebaikan perilaku menunjukkan adanya kecacatan dalam keimanan.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar Tasawuf seri 25: AL-KHULQ (Mengindahkan Perilaku dihadapan Allah)
Senin 13 Juni 2022 Jam 20.00 – 21.30 WIB LIVE STREAMING
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : Misykat.net

