Kisah Junaid al-Baghdadi
Kajian ini membahas tentang Al-Haya atau rasa malu kepada Allah SWT. Sebagai pembuka, dikisahkan tentang Junaid al-Baghdadi, seorang wali Allah, yang saat sakit parah di ujung usianya tetap berucap syukur, “Syukrulillah”.
Ketika muridnya bertanya mengapa ia bersyukur di tengah rasa sakit, Junaid menjawab bahwa ia malu kepada Allah karena nikmat yang telah dikucurkan-Nya selama ini tidak terhitung, sehingga ia merasa malu untuk mengeluh hanya karena rasa sakit yang ia derita saat itu.
Definisi dan Hakikat Al-Haya
Rasa malu adalah fitrah manusia untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya.
Tanpa rasa malu, manusia tidak akan berbeda dengan binatang. Secara etimologi, kata Al-Haya (malu) berakar dari kata Al-Hayah yang berarti hidup.
Para ulama menjelaskan bahwa rasa malu merupakan tanda hidupnya hati seorang hamba; semakin hidup hati seseorang, maka semakin sempurna rasa malunya.
Sebaliknya, sedikitnya rasa malu menunjukkan bahwa hati dan ruh seseorang sedang dalam keadaan mati.
Jenis-Jenis Rasa Malu
Para ulama akhlak membagi rasa malu ke dalam beberapa kategori, antara lain:
- Haya al-Jinayah:
Rasa malu karena telah melakukan perbuatan buruk atau dosa, seperti yang dirasakan Nabi Adam AS saat melanggar larangan Allah. - Haya at-Tabi’ah:
Rasa malu yang bersifat alami atau fitrah, seperti keinginan menutupi kekurangan diri agar tidak dilihat orang lain. - Haya at-Taqsir:
Rasa malu karena merasa ibadah dan penghambaan yang dilakukan belum sempurna di hadapan Allah. - Haya al-Ijlal:
Rasa malu yang muncul karena mengenal (Ma’rifah) keagungan dan kemuliaan Allah, menyadari bahwa Dia selalu mengawasi setiap elemen kehidupan kita. - Haya al-Karam:
Rasa malu karena kemuliaan diri, seperti Rasulullah SAW yang sangat pemalu sehingga tidak pernah tertawa terbahak-bahak dan selalu menjaga adab dalam segala situasi. - Haya al-Hasyma:
Rasa malu karena kesantunan dan kesopanan di hadapan orang mulia, seperti Imam Ali dan Sayyidah Fatimah yang merasa sungkan menyampaikan kesulitan mereka kepada Rasulullah. - Haya al-Istishghar:
Rasa malu karena merasa diri sangat kecil di hadapan keagungan Allah saat memohon sesuatu. - Haya al-Mahabbah:
Rasa malu yang muncul dari rasa cinta yang mendalam kepada Allah.
Tiga Tingkatan Rasa Malu dalam Tasawuf
Dalam dunia tasawuf, rasa malu dibagi menjadi tiga tingkatan:
- Tingkat Pertama:
Muncul dari kesadaran bahwa Allah selalu menyaksikan kita (Muraqabah). Hal ini mendorong seorang hamba untuk melakukan segala sesuatu dengan sesempurna mungkin. - Tingkat Kedua:
Muncul dari kesadaran akan kedekatan (Qurb) Allah yang melahirkan rasa cinta dan kemesraan batin. Pada tingkat ini, seorang hamba akan menjauhi segala hal yang dapat mengganggu waktu kebersamaannya dengan Allah. - Tingkat Ketiga (Tertinggi):
Muncul dari penyaksian (Syuhud) akan hakikat Ilahiyah. Ini adalah tingkat fana, di mana seseorang kehilangan kesadaran akan segala sesuatu selain Allah karena begitu terpesona oleh keagungan-Nya.
Tanda Kematian Hati
Sebagai peringatan, Fudhail bin Iyadh menyebutkan lima tanda kematian hati: kerasnya hati, liarnya pandangan mata, sedikitnya rasa malu, besarnya kecenderungan pada dunia, dan panjangnya angan-angan.
Kesimpulan
Rasa malu adalah bagian dari iman dan merupakan hiasan bagi seorang mukmin. Semakin tinggi rasa malu seseorang kepada Allah, maka Allah akan semakin memuliakannya di hadapan manusia.

Bersama KH Dr. Kholid Al Walid M.Ag
Belajar tasawuf ( Seri 23 ) dengan topik Al-Hayya (Rasa Malu Kepada Allah Swt)
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net
Cp WA 0812 239 14000

