Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Ada Anak-Anak Dibalik Manusia Sejati | Ngaji Filsafat

Ada Anak-Anak Dibalik Manusia Sejati | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Ada Anak-Anak Dibalik Manusia Sejati | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Di balik sosok manusia sejatiโ€”yang dalam pemikiran Nietzsche disebut sebagai Supermanโ€”tersembunyi sosok anak-anak yang ingin bermain.
Manusia sejati tidak selalu terlihat serius; ia bisa bersikap iseng, santai, dan bermain-main, namun tetap memiliki kuasa atas keinginannya dan mau berjuang untuk memenuhinya.
Seseorang yang hidupnya terlalu serius tanpa ada sisi santai atau humoris justru dianggap kehilangan fitrah kemanusiaannya, karena insting bermain adalah bagian mendasar dari diri manusia.

Terdapat beberapa teori klasik yang menjelaskan mengapa manusia bermain:

  • Teori Surplus Energi (Spencer & Schiller):
    Bermain pada hakekatnya adalah pelampiasan dari kelebihan energi.
    Ketika seseorang memiliki energi lebih yang tidak terpakai untuk tugas-tugas serius, energi tersebut butuh disalurkan melalui permainan.
    Inilah alasan mengapa orang yang sedang kelelahan biasanya tidak memiliki keinginan untuk bermain.
  • Teori Rekreatif (Lazarus):
    Bermain merupakan bagian dari upaya untuk rileks dan rekreasi.
    Hidup manusia harus seimbang antara kerja keras dan istirahat, layaknya alam semesta yang terdiri dari atom dan kekosongan.
    Permainan berfungsi sebagai komplementer atau penyeimbang dari keseriusan agar manusia tidak mengalami kejenuhan luar biasa dalam menjalani hidupnya.
  • Teori Antisipatori (Karl Groos):
    Permainan adalah sarana untuk menanamkan keterampilan (skill) tertentu secara menyenangkan yang akan dibutuhkan di masa depan.
    Contohnya, permainan catur melatih strategi dan kemampuan berpikir, sementara permainan seperti sepak bola melatih ketangkasan fisik.
    Melalui permainan, keterampilan dapat terserap dengan lebih efektif dibandingkan melalui latihan yang terlalu serius atau tegang.
  • Teori Rekapitulasi (G. Stanley Hall):
    Permainan dianggap sebagai warisan insting atau perilaku nenek moyang yang saat ini sudah tidak banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
    Insting-insting kuno yang mengendap dalam DNA manusia disublimasikan atau dihidupkan kembali melalui permainan. Sebagai contoh:

    • Lomba lari atau sepak bola merupakan penyaluran insting menggunakan kaki yang dulu sangat krusial bagi nenek moyang untuk berpindah tempat atau berburu.
    • Panjat Pinang merekapitulasi insting memanjat pohon yang dulu sering dilakukan nenek moyang.
    • Catur merupakan bentuk penyaluran insting berperang atau menaklukkan musuh dalam bentuk yang lebih damai.
    • Petak umpet mungkin merupakan warisan dari pengalaman masa lalu saat nenek moyang harus bersembunyi atau dikejar-kejar.

Secara ringkas, kegiatan bermain bagi manusia memiliki empat landasan utama: sebagai pelampiasan kelebihan energi, kebutuhan akan rekreasi, sarana antisipasi keterampilan masa depan, serta bentuk rekapitulasi insting masa lalu.

Filosofi Pentingnya Bermain bagi Manusia

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us