25 September 2026
Kufah sedang riuh.
Para pedagang memanggil pembeli. Debu berputar di antara langkah manusia dan kaki-kaki hewan. Di tengah keramaian itu, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berjalan memeriksa pasar bersama Syurthah al-Khamis—pasukan pilihan yang setia kepadanya.
Tidak ada kemegahan.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada jarak antara penguasa dan rakyatnya.
Imam Ali berjalan sendiri di tengah pasar, menegur para pedagang yang melanggar ketentuan dan menjaga agar orang-orang tidak memperjualbelikan sesuatu yang dilarang.
Di antara kerumunan itu berdiri seorang perempuan bernama Hababah al-Walibiyyah.
Hababah memperhatikan Ali.
Ia mendengar perkataan beliau. Ia menyaksikan ketegasan yang tidak kehilangan kebijaksanaan. Ada sesuatu dalam suara lelaki itu yang membuatnya tidak mampu berpaling.
Hababah kemudian mengikuti langkahnya.
Imam Ali meninggalkan pasar dan berjalan menuju pelataran Masjid Kufah. Hababah terus berada di belakangnya. Ia tidak datang membawa perkara keluarga. Ia tidak hendak meminta uang, makanan, atau kedudukan.
Ia membawa sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar.
Setelah Imam Ali duduk di pelataran masjid, Hababah mendekat.
“Wahai Amirul Mukminin, semoga Allah merahmatimu. Apakah tanda imamah?”
Pertanyaan itu membuat segala suara lain seakan menghilang.
Ia tidak bertanya tentang hukum yang rumit.
Ia tidak bertanya siapa yang memiliki pengikut terbanyak.
Ia juga tidak bertanya tentang kekuasaan.
Ia bertanya tentang tanda seorang Imam.
Sebab kekuasaan dapat direbut dengan pedang. Gelar dapat diumumkan di atas mimbar. Silsilah dapat disebutkan dengan panjang. Bahkan manusia dapat dipaksa untuk memberikan baiat.
Namun imamah tidak lahir hanya karena seseorang mengaku sebagai Imam.
Imam Ali memandang ke arah tanah, kemudian menunjuk sebuah batu kecil.
“Bawakan kepadaku batu itu.”
Hababah berjalan mengambilnya. Batu itu tidak istimewa. Ia hanyalah sebuah kerikil kecil. Sebuah batu sederhanan di antara ribuan batu lain yang memenuhi tanah Kufah.
Hababah menyerahkannya kepada Imam.
Ali mengambil batu itu, kemudian menekankan cincinnya ke atas permukaannya.
Dan ketika cincin itu diangkat, capnya telah tertinggal pada permukaan kerikil tersebut. Seakan dipahat oleh besi panas.
Hababah menatapnya tanpa berkedip.
Batu yang keras telah menerima bekas cincin Ali.
Imam kemudian mengembalikannya seraya berkata:
“Wahai Hababah, apabila seseorang mengaku sebagai Imam dan mampu memberikan cap sebagaimana yang engkau saksikan, ketahuilah bahwa ia adalah Imam yang wajib ditaati. Seorang Imam tidak terhalang dari sesuatu yang dikehendakinya.”
Hababah menerima batu itu dengan kedua tangannya.
Ia datang hanya membawa sebuah pertanyaan.
Ia pulang membawa sebuah tanda.
Sejak hari itu, batu kecil tersebut tidak pernah jauh darinya. Bagi orang lain, ia mungkin hanya sebuah kerikil. Namun bagi Hababah, batu itu adalah amanah—sebuah penunjuk jalan ketika dunia dipenuhi orang-orang yang memperebutkan gelar dan kepemimpinan.
Kemudian tibalah hari ketika pedang beracun menghantam kepala Imam Ali di mihrab Masjid Kufah.
Kota itu kehilangan pemimpinnya.
Namun Hababah masih menyimpan batu tersebut.
Setelah Amirul Mukminin wafat, ia mendatangi Imam Hasan. Putra pertama Fathimah itu sedang duduk di tempat ayahnya, sementara orang-orang mengelilinginya dan mengajukan berbagai pertanyaan.
Hababah belum sempat menjelaskan kedatangannya.
Imam Hasan memandangnya.
“Wahai Hababah al-Walibiyyah.”
Hababah tersentak.
“Benar, wahai tuanku.”
“Berikan kepadaku apa yang engkau bawa.”
Hababah mengeluarkan batu kecil yang selama ini disimpannya.
Ia menyerahkannya kepada Imam Hasan.
Cincin beliau menyentuh batu itu.
Dan cap berikutnya tercetak pada permukaannya—sebagaimana dahulu Imam Ali melakukannya.
Hababah tidak membutuhkan penjelasan lagi.
Batu itu telah menjawab.
Waktu terus bergerak.
Kekuasaan berganti tangan. Mimbar-mimbar dipenuhi pidato. Para penguasa menuliskan nama mereka pada mata uang dan memaksa khatib menyebut mereka dalam khutbah.
Namun Hababah tidak mencari Imam di istana.
Ia membawa batu itu menuju Masjid Rasulullah di Madinah.
Di sana ia bertemu Imam Husain.
Putra kedua Fathimah menyambutnya dengan hangat. Sebelum Hababah mengutarakan maksudnya, Imam Husain berkata:
“Sesungguhnya pada tanda itu telah terdapat petunjuk mengenai apa yang engkau kehendaki. Apakah engkau menginginkan tanda imamah?”
“Benar, wahai tuanku.”
“Berikan kepadaku apa yang engkau bawa.”
Hababah menyerahkan batu tersebut.
Imam Husain menekankan cincinnya.
Cap ketiga muncul.
Batu kecil itu kini membawa tanda Ali, Hasan, dan Husain.
Kemudian dunia berubah menjadi Karbala.
Imam Husain dibunuh. Kepalanya diangkat di atas tombak. Keluarganya digiring sebagai tawanan. Banyak orang yang sebelumnya mengenalnya sebagai cucu Rasulullah memilih diam ketika darahnya ditumpahkan.
Namun Hababah tetap membawa batu itu.
Ia tidak membiarkan kekejaman manusia memutus keyakinannya kepada mata rantai imamah.
Hababah kemudian mendatangi Imam Ali Zainal Abidin.
Usianya, menurut riwayat, telah mencapai seratus tiga belas tahun. Tubuhnya melemah dan kedua tangannya gemetar. Ketika ia tiba, ia melihat Imam Sajjad sedang tenggelam dalam rukuk dan sujud.
Hababah berdiri menunggu.
Imam terus beribadah.
Untuk sesaat, ia merasa tidak akan memperoleh tanda yang dicarinya. Namun Imam Sajjad mengangkat jari telunjuk dan mengisyaratkan kepadanya.
Imam kemudian meminta batu yang dibawanya.
Sekali lagi cincin menyentuh permukaannya.
Cap keempat tercetak.
Hababah meneruskan perjalanannya melintasi umur yang panjang.
Ia mendatangi Imam Muhammad al-Baqir.
Batu itu menerima cap beliau.
Ia mendatangi Imam Ja‘far ash-Shadiq.
Batu itu kembali menerima cap.
Ia mendatangi Imam Musa al-Kazhim.
Satu cap lagi tercetak.
Akhirnya Hababah sampai kepada Imam Ali ar-Ridha.
Tahun-tahun telah berlalu. Dinasti telah berganti. Banyak penguasa yang dahulu ditakuti telah mati dan istana mereka berpindah tangan.
Namun perempuan itu masih membawa batu kecil yang dahulu dipungutnya dari tanah Kufah.
Imam Ridha meminta batu tersebut.
Hababah menyerahkannya.
Cincin beliau menyentuh permukaannya.
Cap kedelapan pun tercetak.
Menurut penutup riwayat, Hababah hidup sembilan bulan setelah pertemuannya dengan Imam Ridha.
Perjalanannya berakhir.
Namun kisah batu itu terus hidup.
Hababah telah menyaksikan delapan Imam: Ali, Hasan, Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja‘far ash-Shadiq, Musa al-Kazhim, dan Ali ar-Ridha.
Ia melewati masa ketika para penguasa datang dan pergi. Ia menyaksikan kekhalifahan berubah menjadi kerajaan, kerajaan berganti dinasti, dan nama-nama besar tenggelam bersama zaman.
Namun di dalam genggamannya terdapat satu garis yang tidak pernah terputus.
Wilayah.
Hababah tidak sedang menguji para Imam karena meragukan mereka. Ia sedang menjaga amanah yang diberikan Amirul Mukminin kepadanya. Setiap cap bukan sekadar jejak cincin pada batu, tetapi penegasan bahwa imamah bukan jabatan yang dapat dirampas, dipilih berdasarkan suara terbanyak, atau diwariskan sebagaimana harta keluarga.
Nasab dapat menunjukkan dari keluarga mana seseorang berasal.
Tetapi imamah memerlukan penetapan Allah dan tanda yang Dia kehendaki.
Batu itu tidak mengangkat seseorang menjadi Imam. Ia hanya menyingkapkan kepada Hababah siapa yang telah Allah tetapkan sebagai Imam.
Betapa kecil batu tersebut.
Namun betapa besar pertanyaan yang dibawanya:
Siapakah yang harus ditaati ketika setiap orang dapat mengaku sebagai pemimpin?
Hababah mengajarkan bahwa seorang pencari kebenaran tidak boleh silau oleh jumlah pengikut, kemegahan istana, atau kekuatan tentara. Ia harus mencari hujah. Sebab kebenaran tidak selalu berada di tempat yang paling ramai, dan Imam tidak selalu berada di singgasana yang paling tinggi.
Banyak lelaki membawa pedang dari masa Ali.
Hababah hanya membawa sebuah batu.
Namun pedang-pedang itu akhirnya berkarat, sementara batu kecil di tangannya menjadi saksi perjalanan panjang sebuah keyakinan.
Dari Kufah menuju Madinah.
Dari Ali menuju Hasan.
Dari Hasan menuju Husain.
Dari Karbala menuju Sajjad.
Dari al-Baqir menuju ash-Shadiq.
Dari al-Kazhim hingga ar-Ridha.
Satu perempuan.
Satu batu kecil.
Delapan cap.
Dan satu wilayah yang tidak pernah terputus.
Batu kecil
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan riwayat:
Kisah Hababah al-Walibiyyah terdapat dalam al-Kāfī, Kitab al-Ḥujjah, bab “Kriteria yang Membedakan Pengakuan yang Benar dan yang Palsu dalam Perkara Imamah,” hadis ke-3.
Riwayat tersebut menceritakan pertemuan Hababah dengan Imam Ali hingga Imam Ridha, termasuk delapan cap pada batu dan keterangan bahwa ia hidup sembilan bulan setelah pertemuannya dengan Imam Ridha.
Riwayat ini juga dinukil dalam Manāqib Āl Abī Ṭālib, Biḥār al-Anwār jilid 25, serta beberapa kitab dalā’il dan manāqib lainnya.
Dalam Mir’āt al-‘Uqūl 4:78, Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi menilai sanad riwayat ini majhūl karena terdapat sejumlah perawi yang tidak memperoleh penilaian jelas.
Syaikh Muhammad Baqir al-Behbudi juga tidak memasukkannya ke dalam pilihannya, Ṣaḥīḥ al-Kāfī. Karena itu, kisah ini tepat disampaikan sebagai riwayat dalam khazanah Imamiyah, bukan dinyatakan sebagai hadis sahih tanpa catatan.
Meski sebagian besar ulama Imamiah tidak mensahihkan kisah ini, sebagian kelompok irfan menilai kisah ini adalah hal yang berhubungan dengan keyakinan imamah.

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us