26 September 2026

Rasulullah saw. berkata:

«“Qūmū ‘annī—berdirilah dan keluarlah kalian dariku!”»

Semuanya diusir.

Sampai di sini, riwayat yang terkenal dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim seperti menutup pintu kamar Rasulullah.
Kita hanya diberi tahu bahwa permintaan beliau untuk mendatangkan alat tulis telah diperdebatkan, suara-suara meninggi, suasana menjadi gaduh, dan akhirnya Rasulullah menyuruh mereka keluar.

Namun pertanyaan pentingnya adalah:

SETELAH SEMUA DIUSIR, SIAPA YANG BERADA DI SISI RASULULLAH?

Di sinilah riwayat Ahlul Bait membuka bagian yang tidak diceritakan secara utuh oleh riwayat tersebut.

Imam Ali tidak berada di dalam kelompok yang bertengkar itu.

Ia bukan orang yang membantah permintaan Rasulullah.

Ia bukan bagian dari suara-suara yang meninggi.

Ia bukan bagian dari kegaduhan yang membuat Rasulullah marah.

Setelah mereka semua diusir, Rasulullah saw. kemudian memanggil Imam Ali dan menghimpun Ahlul Baitnya: Fatimah az-Zahra, Imam Hasan, dan Imam Husain.

Mereka datang bukan untuk berdebat.

Mereka datang bukan untuk mengoreksi Nabi.

Mereka datang bukan untuk mempertanyakan apakah penyakit telah menguasai beliau.

Mereka datang untuk mendengar, menerima, dan menjaga amanat terakhir Rasulullah.

Maka pertanyaan:

«“Lho, di sana kan ada Imam Ali dan sahabat-sahabat pendukung Ahlul Bait. Mengapa mereka tidak langsung mengambilkan pena?”»

Bukan hanya salah secara logika.

Pertanyaan itu juga dibangun di atas premis sejarah yang keliru.

Imam Ali tidak berada di sana ketika perdebatan itu terjadi. Nama beliau juga tidak disebut dalam riwayat Sahih al-Bukhari maupun Sahih Muslim sebagai bagian dari orang-orang yang berada di ruangan tersebut. Sebaliknya, dalam jalur riwayat Ahlul Bait, setelah orang-orang itu diusir, barulah Rasulullah memanggil Ali dan keluarganya.

Jadi pertanyaan tersebut runtuh dari dua arah sekaligus.

Jika menggunakan riwayat Sunni, tidak ada bukti bahwa Imam Ali berada di dalam ruangan saat kegaduhan terjadi.

Jika menggunakan riwayat Ahlul Bait, Imam Ali memang tidak berada di sana dan baru dipanggil setelah orang-orang yang berselisih itu diusir.

Lalu berdasarkan apa Ali dipersalahkan?

Berdasarkan riwayat mana ia dituduh tidak mengambilkan pena?

Berdasarkan catatan sejarah mana ia dimasukkan ke dalam kelompok yang bertengkar?

Tidak ada.

Ali dimasukkan secara paksa ke dalam ruangan itu hanya karena orang tersebut membutuhkan seseorang untuk dipersalahkan selain Umar.

Ini bukan pembacaan sejarah.

Ini adalah rekayasa terdakwa.

Umar disebutkan dalam riwayat, tetapi Ali yang disalahkan.

Ucapan Umar dicatat dengan jelas, tetapi tindakan Ali yang dipertanyakan.

Kegaduhan terjadi sebelum Ali dipanggil, tetapi Ali seolah-olah dijadikan bagian dari kegaduhan tersebut.

Betapa luar biasanya cara kerja apologi: ketika orang yang hendak dibela tidak mungkin dibebaskan oleh teks, orang lain dimasukkan ke dalam teks agar dapat ikut menanggung kesalahannya.

Namun sejarah tidak bekerja seperti itu.

Nama tidak boleh dimasukkan ke dalam sebuah peristiwa hanya karena dibutuhkan untuk memenangkan perdebatan.

DUA RUANGAN, DUA SIKAP

Peristiwa ini memperlihatkan dua suasana yang sangat berbeda.

Suasana pertama adalah suasana kegaduhan.

Rasulullah meminta alat tulis.

Seseorang menolak.

Sebagian orang meminta agar perintah Nabi dilaksanakan.

Sebagian lainnya mengikuti perkataan Umar.

Suara-suara meninggi.

Perselisihan pecah.

Rasulullah marah.

Mereka semua diusir.

Kemudian suasana berubah.

Rasulullah memanggil Ali dan Ahlul Baitnya.

Tidak ada lagi perdebatan.

Tidak ada lagi suara yang meninggi.

Tidak ada lagi orang yang berkata, “Cukuplah Kitab Allah.”

Tidak ada lagi orang yang menilai apakah Nabi masih mampu berbicara.

Yang ada hanyalah Rasulullah dan keluarga sucinya.

Yang ada hanyalah Nabi yang menyampaikan dan Ahlul Bait yang menerima.

Yang ada hanyalah amanat dan pemegang amanat.

Yang ada hanyalah ilmu dan pewaris ilmu.

Di ruangan pertama, kewenangan Rasulullah diperdebatkan.

Di ruangan kedua, setiap perkataan beliau dijaga.

Di hadapan kelompok pertama, sebuah pena dihalangi.

Di hadapan Ahlul Bait, amanat kenabian diterima tanpa bantahan.

Inilah perbedaannya.

Bukan sekadar perbedaan orang.

Ini adalah perbedaan sikap terhadap Rasulullah.

Ada yang merasa berhak memberikan pendapat ketika Nabi telah memberikan perintah.

Ada yang diam, mendengar, dan menyerahkan seluruh dirinya kepada kehendak Rasulullah.

Ada yang berkata, “Menurut kami, Kitab Allah sudah cukup.”

Ada pula Ali yang seluruh hidupnya berkata melalui ketaatannya:

«“Aku adalah hamba Allah dan pengikut Rasul-Nya.”»

MENGAPA RASULULLAH MEMANGGIL ALI?

Jika Ali tidak penting, mengapa ia dipanggil?

Jika semua sahabat memiliki kedudukan yang sama, mengapa setelah semuanya diusir justru Ali dan Ahlul Bait yang dihimpun di sekitar Rasulullah?

Jika kedekatan dengan Nabi hanya persoalan persahabatan biasa, mengapa pada saat yang paling genting Rasulullah kembali kepada keluarganya?

Inilah pertanyaan yang seharusnya direnungkan.

Ketika suasana umum telah dirusak oleh perselisihan, Rasulullah tidak memanggil kembali para pembantah.

Beliau memanggil Ali.

Ketika pena yang ditujukan kepada umat telah dihalangi, Rasulullah tidak menyerahkan amanatnya kepada orang yang mengatakan “Cukuplah Kitab Allah.”

Beliau mendekatkan Ahlul Baitnya.

Ketika ajal semakin dekat, orang-orang yang berada di sekitar beliau bukanlah para pemilik suara paling keras.

Yang berada di sisi beliau adalah orang-orang yang hatinya paling patuh.

Sejarah seakan sedang memperlihatkan sebuah pemisahan yang sangat jelas:

Mereka yang merasa cukup tanpa penjelasan Rasulullah disuruh keluar.

Mereka yang menjadi pasangan Al-Qur’an dalam Hadis Tsaqalain dipanggil masuk.

Mereka berkata, “Cukuplah Kitab Allah.”

Namun Rasulullah telah berkali-kali menegaskan bahwa umat tidak boleh memisahkan Kitab Allah dari Ahlul Baitnya:

«“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara berat: Kitab Allah dan Ahlul Baitku. Selama kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat.”»

Perhatikan kesamaan kalimatnya.

Dalam Hadis Tsaqalain:

«“Kalian tidak akan tersesat apabila berpegang kepada Al-Qur’an dan Ahlul Bait.”»

Dalam peristiwa pena dan kertas:

«“Aku akan menuliskan bagi kalian sesuatu yang dengannya kalian tidak akan tersesat.”»

Keduanya berbicara tentang jaminan agar umat tidak tersesat.

Keduanya menunjuk kepada petunjuk setelah wafatnya Rasulullah.

Dan ketika tulisan itu dihalangi, siapakah yang kemudian dipanggil untuk berada di sisi beliau?

Ali dan Ahlul Bait.

Apakah hubungan ini masih harus dijelaskan?

Ataukah manusia memang tidak kekurangan bukti—mereka hanya kekurangan keberanian untuk menerima konsekuensi dari bukti itu?

PENA BOLEH DIHALANGI, TETAPI WASIAT TIDAK MATI

Mereka mungkin berhasil menghalangi hadirnya sebuah dokumen terbuka di hadapan orang banyak.

Namun mereka tidak dapat memutuskan hubungan antara Rasulullah dan Ali.

Pena dapat dijauhkan.

Kertas dapat dihalangi.

Ruangan dapat dipenuhi kegaduhan.

Namun ilmu Rasulullah tidak ikut hilang bersama pena yang tidak sempat digunakan di hadapan mereka.

Sebab setelah mereka diusir, Ali dipanggil.

Apa yang tidak layak dipercayakan kepada ruangan yang penuh perdebatan, dipercayakan kepada dada yang tidak pernah meragukan Rasulullah.

Apa yang tidak dapat diselesaikan di tengah kegaduhan, disampaikan dalam ketenangan Ahlul Bait.

Apa yang ditolak oleh mereka yang merasa cukup, dijaga oleh orang-orang yang tidak pernah merasa lebih mengetahui daripada Nabi.

Karena itu, jangan mengira bahwa kegagalan mendatangkan pena berarti Rasulullah gagal menyampaikan amanatnya kepada pewarisnya.

Yang gagal bukan Rasulullah.

Yang kehilangan kesempatan adalah mereka sendiri.

Tulisan itu ditawarkan kepada mereka agar mereka tidak tersesat.

Mereka memperdebatkannya.

Mereka membuat gaduh.

Mereka diusir.

Kemudian Rasulullah memanggil orang yang memang layak menerima amanatnya.

Di sinilah letak tragedinya.

Rasulullah tidak kehilangan Ali.

Ali tidak kehilangan wasiat Rasulullah.

Ahlul Bait tidak kehilangan jalan.

Umatlah yang kehilangan sebuah dokumen yang oleh Nabi sendiri dijanjikan akan melindungi mereka dari kesesatan.

JANGAN LAGI MENUDUH ALI

Maka jangan bertanya:

“Lho, mengapa Ali tidak mengambilkan pena?”

Tanyakan dahulu:

Apakah Ali berada di dalam ruangan itu?

Tidak ada namanya dalam riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Ahlul Bait, ia justru dipanggil setelah semuanya diusir.

Jangan bertanya:

“Mengapa Ali membiarkan mereka berdebat?”

Tanyakan:

Siapa yang memulai penolakan sehingga perdebatan itu terjadi?

Jangan bertanya:

“Mengapa Ahlul Bait tidak bertindak?”

Tanyakan:

Mengapa permintaan Rasulullah harus menunggu tindakan Ahlul Bait, padahal setiap orang yang mendengarnya wajib segera taat?

Jangan menjadikan Ali sebagai penanggung jawab atas pembangkangan orang lain.

Jangan memasukkan Ali ke dalam kegaduhan yang tidak diikutinya.

Jangan menyeret Ahlul Bait ke kursi terdakwa hanya untuk menyelamatkan orang yang namanya telah disebut dengan terang oleh sejarah.

Sebab sekarang pertanyaannya bukan lagi sekadar:

“Siapa yang menolak pena?”

Ada pertanyaan yang jauh lebih dalam:

SETELAH SEMUA DIUSIR, SIAPA YANG DIPANGGIL RASULULLAH?

Jawabannya:

  • Ali.
  • Fatimah.
  • Hasan.
  • Husain.

Ahlul Bait Rasulullah.

Mereka tidak berada di sana untuk membantah.

Mereka berada di sana untuk menerima.

Mereka tidak datang membawa pendapat tandingan.

Mereka datang membawa kepatuhan.

Mereka tidak berkata, “Cukuplah bagi kami selain dirimu.”

Sebab bagi mereka, menaati Rasulullah adalah menaati Allah.

Semua orang yang gaduh telah diusir.

Lalu Rasulullah memilih siapa yang berada di sisinya.

Sejarah mungkin dapat menghentikan kisah pada kalimat, “Keluarlah kalian dariku.”

Namun riwayat Ahlul Bait melanjutkannya:

Setelah para pembantah keluar, Ali dan keluarga Muhammad dipanggil mendekat.

Di situlah pena yang dihalangi berubah menjadi kesaksian.

Di situlah pintu yang ditutup bagi para pembantah dibuka bagi para pemegang amanat.

Dan di situlah kita akhirnya mengetahui:

Siapa yang sekadar pernah berada di sekitar Nabi—dan siapa yang benar-benar berada di sisi Nabi.

Semua diusir

(Rujukan pokok peristiwa pengusiran: Sahih al-Bukhari no. 114 dan 5669; Sahih Muslim no. 1637c. Kelanjutan tentang Rasulullah memanggil Imam Ali dan Ahlul Baitnya dinukil dalam jalur riwayat Ahlul Bait mengenai wasiat beliau pada akhir hayat, antara lain dalam Kitab Sulaym ibn Qays dan kompilasi riwayat wafat Rasulullah dalam Bihar al-Anwar.)

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

 

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DgcxQn1tX/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us