SYARAH DOA KUMAIL (19) – KEDEKATAN YANG DIANUGERAHKAN, BUKAN DIREBUT
Bagian 19 dari 100
Dalam tradisi Ahlul Bait, Doa Kumail dikenal sebagai Doa Khidir as, yang diajarkan Amirul Mukminin Ali as kepada Kumail bin Ziyad.
Teks Doa Kumail
> وَأَسْأَلُكَ بِجُودِكَ أَنْ تُدْنِيَنِي مِنْ قُرْبِكَ
Wa as’aluka bijūdika an tudniyanī min qurbika.
“Dan aku memohon kepada-Mu dengan kemurahan-Mu agar Engkau mendekatkanku kepada kedekatan-Mu.”
Tema utama
Kedekatan kepada Allah bukan jarak fisik dan bukan prestasi yang dapat dibanggakan. Ia adalah kedekatan ruhani yang dianugerahkan melalui kemurahan Allah kepada hamba yang menyucikan diri dengan iman, sujud, cinta, dan ketaatan.
Allah dekat kepada seluruh makhluk melalui ilmu, kuasa, dan pemeliharaan-Nya. Namun tidak semua manusia memiliki kedekatan ruhani yang sama kepada Allah.
Dosa, kesombongan, dan kelalaian dapat membuat hati jauh dalam kesadaran, meskipun tidak pernah keluar dari pengetahuan-Nya.
Doa ini tidak berkata, “Aku akan mencapai kedekatan-Mu dengan kemampuanku.” Ia berkata, “Dengan kemurahan-Mu, dekatkanlah aku.” Bahkan perjalanan ruhani tidak boleh berubah menjadi alasan baru untuk membesarkan diri.
Ayat Al-Qur’an
- QS Qaf 50:16
> وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
Kedekatan Allah tidak diukur dengan meter dan arah. Dia mengetahui bisikan yang bahkan belum sanggup diucapkan manusia. QS Qaf 50:16
- QS Al-‘Alaq 96:19
> وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
“Bersujudlah dan mendekatlah.”
Sujud merendahkan bagian tubuh yang biasanya dijunjung tinggi. Ketika dahi turun ke tanah, ego kehilangan singgasananya. Di sanalah jalan kedekatan dibuka. QS Al-‘Alaq 96:19
- QS Ali ‘Imran 3:31
> قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku; niscaya Allah mencintai kalian.”
Cinta kepada Allah bukan hanya pengalaman batin. Ia diuji melalui kesediaan mengikuti Rasulullah saw—dan dalam perspektif Ahlul Bait, memegang teguh Al-Qur’an serta keluarga suci yang beliau tinggalkan bersama umat. QS Ali ‘Imran 3:31
Riwayat Ahlul Bait
Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Muhammad al-Baqir as, beliau berkata kepada Jabir:
> وَاللَّهِ مَا يُتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَّا بِالطَّاعَةِ
“Demi Allah, tidak ada sesuatu yang mendekatkan seseorang kepada Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi selain ketaatan.”
Riwayat itu juga menegaskan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait tidak boleh dipisahkan dari amal dan sikap menjaga diri. Al-Kāfī, jilid 2, Kitab Iman dan Kufur, Bab Ketaatan dan Ketakwaan, hadis 3
Catatan verifikasi:
Riwayat ini mempunyai sanad dalam Al-Kāfī, tetapi Allamah al-Majlisi menilainya dha‘īf dalam Mir’āt al-‘Uqūl. Karena itu, ia tidak disajikan sebagai riwayat sahih yang tidak diperselisihkan.
Kandungan pokoknya—kedekatan melalui ketaatan—selaras dengan ayat-ayat Al-Qur’an, terutama QS Ali ‘Imran 3:31.
Kerangka pembahasan
- Perbedaan antara kedekatan Ilahi dan kedekatan fisik.
- Allah dekat kepada semua makhluk melalui ilmu dan pemeliharaan-Nya.
- Kedekatan khusus tumbuh melalui iman, sujud, cinta, dan ketaatan.
- Amal bukan harga yang membuat Allah berutang kepada manusia.
- Kemurahan Allah mendahului dan menyempurnakan seluruh usaha hamba.
- Orang yang sungguh dekat semakin rendah hati, bukan semakin merasa suci.
Pembuka syarah
Ada orang yang melakukan perjalanan jauh untuk mencari Tuhan, lalu tidak menyadari bahwa sejak awal seluruh perjalanannya berlangsung di dalam pengetahuan dan pemeliharaan-Nya.
Allah lebih dekat daripada urat leher. Dia mengetahui bisikan sebelum menjadi kata, kesedihan sebelum berubah menjadi air mata, dan kerinduan sebelum manusia memahami apa yang sedang dirindukannya.
Namun Doa Kumail tetap mengajarkan permohonan:
> “Dengan kemurahan-Mu, dekatkanlah aku kepada kedekatan-Mu.”
Jika Allah sudah dekat, mengapa kita masih meminta didekatkan?
Sebab yang jauh bukan Allah. Hati kitalah yang dapat menjauh dalam kelalaian.
Mata melihat tanda-tanda-Nya, tetapi pikiran tidak menangkap pesan-Nya. Tubuh menerima rezeki-Nya, tetapi hati tidak mengenal syukur. Lidah menyebut nama-Nya, tetapi keputusan hidup dibuat seolah-olah Dia tidak melihatnya.
Allah dekat, tetapi kita belum tentu hadir.
Kedekatan yang diminta dalam Doa Kumail bukan perpindahan dari satu tempat menuju tempat lain. Ia adalah tersingkapnya kesadaran, tumbuhnya cinta, dan semakin selarasnya kehendak seorang hamba dengan kehendak Tuhannya.
Karena itu, Al-Qur’an tidak berkata, “Berjalanlah secara fisik dan mendekatlah.” Ia berkata:
> “Bersujudlah dan mendekatlah.”
Sujud adalah perjalanan tanpa jarak. Tubuh tidak pergi ke mana-mana, tetapi jiwa dapat meninggalkan kesombongannya. Dahi menyentuh tanah, sedangkan ruh naik menuju penghambaan.
Doa ini juga menjaga kita dari kesombongan ruhani. Kita tidak berkata, “Ya Allah, aku telah banyak beribadah, maka aku layak dekat.” Kita berkata, “Dengan kemurahan-Mu, dekatkanlah aku.”
Amal kita terlalu kecil untuk membeli kedekatan-Nya. Bahkan kemampuan beramal adalah pemberian-Nya. Hati yang ingin bersujud digerakkan oleh-Nya; waktu untuk beribadah diberikan-Nya; dan pintu taubat dibuka oleh-Nya.
Karena itu, tanda kedekatan bukan perasaan lebih suci daripada orang lain.
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin jelas ia melihat kelemahan dirinya dan keluasan kemurahan Tuhannya.
Ia tidak membanggakan langkahnya.
Ia bersyukur karena Allah berkenan mendekatkannya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/191Ntc4RhL/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


