SYARAH DOA KUMAIL (18) – BERTAWASUL KEPADA ALLAH DENGAN ALLAH
Bagian 18 dari 100
Dalam tradisi Ahlul Bait, Doa Kumail dikenal sebagai Doa Khidir as, yang diajarkan Amirul Mukminin Ali as kepada Kumail bin Ziyad.
Teks Doa Kumail
> وَأَسْتَشْفِعُ بِكَ إِلَىٰ نَفْسِكَ
Wa astasyfi‘u bika ilā nafsika.
“Dan dengan-Mu sendiri aku memohon syafaat kepada-Mu.”
Terjemahan penjelasnya: “Aku menjadikan rahmat, kemurahan, dan izin-Mu sebagai wasilah permohonanku kepada-Mu sendiri.”
Tema utama
Seluruh wasilah dan syafaat pada akhirnya kembali kepada Allah. Tidak ada pemberi syafaat yang dapat memaksa-Nya, mengubah keputusan-Nya secara mandiri, atau memberikan sesuatu tanpa izin-Nya.
Ungkapan ini mengandung tauhid yang sangat dalam. Hamba tidak datang dengan sesuatu yang dapat membuat Allah berutang kepadanya.
Ia memohon kepada rahmat Allah melalui rahmat Allah; meminta kemurahan-Nya dengan kemurahan-Nya; dan mengetuk pintu-Nya menggunakan izin yang diberikan-Nya sendiri.
Dalam pandangan Ahlul Bait, tawasul kepada Rasulullah saw dan keluarga sucinya tidak menempatkan mereka sebagai kekuatan yang berdiri berhadapan dengan Allah.
Mereka menjadi wasilah karena Allah memilih, memuliakan, dan mengizinkan mereka. Semua syafaat tetap milik Allah.
Ayat Al-Qur’an
- QS Az-Zumar 39:44
> قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Katakanlah: Seluruh syafaat adalah milik Allah. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi.”
Ayat ini tidak meniadakan syafaat. Ia menetapkan pemilik mutlaknya. Jika seseorang diberi kemampuan memberi syafaat, kemampuan itu merupakan anugerah dan izin Allah. QS Az-Zumar 39:44
- QS Al-Baqarah 2:255
> مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya?”
Tidak ada makhluk yang mempunyai hak mandiri atas Allah. Syafaat berlangsung di dalam kerajaan dan kehendak-Nya, bukan di luar keduanya. QS Al-Baqarah 2:255
- QS Al-Ma’idah 5:35
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya.”
Al-Qur’an memerintahkan pencarian wasilah, tetapi tujuannya tetap satu: menuju kepada-Nya. Wasilah yang benar tidak menghentikan manusia pada makhluk; ia membawanya kepada Allah. QS Al-Ma’idah 5:35
Catatan perspektif Ahlul Bait
Penggalan ini merupakan dasar penting untuk memahami tawasul secara tauhid. Ketika seorang pencinta Ahlul Bait bertawasul melalui Rasulullah saw, Sayyidah Fathimah az-Zahra as, atau para Imam as, ia tidak sedang mencari tuhan kecil yang berdiri di samping Allah.
Ia memohon kepada Allah melalui hamba-hamba yang dicintai dan dipilih-Nya. Kemuliaan mereka berasal dari Allah; kewenangan syafaat mereka diberikan Allah; dan terkabulnya permohonan sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.
Karena itu, tawasul yang benar tidak mengurangi tauhid. Ia justru mengakui bahwa bahkan manusia termulia tidak mempunyai apa pun secara mandiri dari Allah.
Pada bagian ini, jangkar utama sengaja diambil langsung dari Al-Qur’an. Tidak ditambahkan riwayat tertentu agar persoalan syafaat yang sensitif tidak digantungkan kepada teks yang penilaian sanadnya belum diperiksa.
Kerangka pembahasan
- Makna astasyfi‘u bika ilā nafsik: memohon kepada Allah melalui Allah.
- Manusia tidak membawa jasa yang dapat memaksa Allah mengabulkannya.
- Seluruh syafaat berada di bawah kepemilikan dan izin Allah.
- Wasilah bukan tujuan akhir; ia merupakan jalan menuju Allah.
- Rasulullah dan Ahlul Bait memberi syafaat dengan izin, bukan secara mandiri.
- Tauhid membebaskan tawasul dari pemahaman berlebihan terhadap makhluk.
Pembuka syarah
Seorang hamba datang kepada Allah dengan tangan kosong.
Ia tidak memiliki amal yang cukup untuk dijadikan harga keselamatan. Ia tidak mempunyai kedudukan yang dapat memaksa pintu langit terbuka. Bahkan air mata yang dibawanya dapat mengalir hanya karena Allah masih melembutkan hatinya.
Lalu ia mengucapkan kalimat yang sangat halus:
> “Dan dengan-Mu sendiri aku memohon syafaat kepada-Mu.”
Seakan-akan ia berkata, “Ya Allah, aku tidak memiliki sesuatu yang lebih layak kubawa kepada-Mu selain diri-Mu sendiri. Aku memohon kepada rahmat-Mu dengan rahmat-Mu. Aku berlindung dari keadilan-Mu kepada ampunan-Mu. Aku datang kepada-Mu melalui pintu yang Engkau sendiri bukakan.”
Di sini tidak ada dua Tuhan: satu yang hendak menghukum dan satu lagi yang harus membujuk-Nya agar mengampuni. Allah tidak dikuasai oleh emosi yang berubah karena tekanan seorang pemberi syafaat.
Syafaat seluruhnya milik-Nya.
Ketika Allah mengizinkan Rasulullah saw dan Ahlul Baitnya memberi syafaat, itu bukan berarti mereka mengambil kasih sayang dari Tuhan yang enggan memberikannya. Mereka justru merupakan penampakan rahmat yang Allah kehendaki menjadi jalan bagi hamba-hamba-Nya.
Maka tawasul bukan usaha melompati Allah.
Tawasul adalah mendatangi Allah melalui jalan yang diridai Allah.
Ahlul Bait tidak mengajarkan manusia berhenti pada diri mereka. Mereka menunjukkan Allah, memurnikan ketaatan kepada-Nya, dan mendidik manusia agar mencintai apa yang dicintai-Nya.
Penggalan Doa Kumail ini menjaga hati dari dua kekeliruan sekaligus.
Pertama, menolak seluruh wasilah seolah-olah manusia dapat menempuh jalan menuju Allah tanpa petunjuk dan pilihan-Nya.
Kedua, memberikan kemandirian kepada wasilah seolah-olah ia memiliki kekuasaan di luar Allah.
Hamba yang memahami tauhid berdiri di tengah keduanya.
Ia mencintai para pemberi syafaat, tetapi mengetahui siapa Pemilik syafaat. Ia mengetuk pintu melalui manusia-manusia pilihan, tetapi mengetahui bahwa rumah, pintu, jalan, dan izin memasuki semuanya hanya milik Allah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/191Ntc4RhL/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


