SYARAH DOA KUMAIL (25) – RENDAH HATI DALAM SETIAP KEADAAN
Bagian 25 dari 100
Teks Doa Kumail
> وَفِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ مُتَوَاضِعًا
Wa fī jamī‘i al-aḥwāli mutawāḍi‘ā.
“Dan jadikanlah aku rendah hati dalam segala keadaan.”
Tema utama
Kerendahan hati yang sejati tidak berubah mengikuti keadaan. Ia tetap hidup ketika seseorang miskin maupun kaya, tidak dikenal maupun dihormati, sedang membutuhkan pertolongan maupun memiliki kekuasaan.
Bagian sebelumnya membahas ketundukan seorang pemohon di hadapan Allah. Kini Doa Kumail memperluasnya kepada seluruh keadaan.
Banyak orang tampak rendah hati ketika masih membutuhkan. Ujian sesungguhnya datang ketika ia tidak lagi membutuhkan persetujuan orang lain—ketika namanya dikenal, perkataannya didengar, dan keputusan hidup manusia lain berada di tangannya.
Tawaduk bukan menyangkal kemampuan diri. Ia adalah kesadaran bahwa kemampuan itu merupakan amanah, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Qasas 28:83
> تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di bumi dan tidak pula kerusakan. Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang bertakwa.”
Al-Qur’an tidak hanya melarang perbuatan sombong. Ia menyentuh keinginan batin untuk meninggi dan menguasai manusia. QS Al-Qasas 28:83
- QS Al-Isra 17:37
> وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
“Janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak pula mencapai ketinggian gunung.”
Kesombongan bertumpu pada khayalan tentang kebesaran diri. Al-Qur’an mengembalikan manusia kepada ukurannya yang sebenarnya. QS Al-Isra 17:37
- QS Ali ‘Imran 3:134
> الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“Mereka yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, serta memaafkan manusia.”
Akhlak seorang mukmin tidak seharusnya bergantung pada suasana. Kelapangan tidak membuatnya lalai dan kesempitan tidak membuatnya kehilangan kebaikan. QS Ali ‘Imran 3:134
Riwayat Ahlul Bait
Dalam sebuah doa yang diriwayatkan dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as disebutkan:
> وَالصِّدْقَ فِي جَمِيعِ الْمَوَاطِنِ، وَإِنْصَافَ النَّاسِ مِنْ نَفْسِي فِيمَا عَلَيَّ وَلِي، وَالتَّذَلُّلَ فِي إِعْطَاءِ النَّصَفِ مِنْ جَمِيعِ مَوَاطِنِ السُّخْطِ وَالرِّضَا، وَتَرْكَ قَلِيلِ الْبَغْيِ وَكَثِيرِهِ فِي الْقَوْلِ مِنِّي وَالْفِعْلِ
“Aku memohon kejujuran dalam segala keadaan, berlaku adil kepada manusia meskipun menyangkut hak yang memberatkan atau menguntungkanku, merendahkan diri untuk memberikan keadilan dalam keadaan marah maupun senang, serta meninggalkan seluruh tindakan melampaui batas—yang sedikit ataupun banyak—dalam ucapan dan perbuatan.”
Riwayat tersebut terdapat dalam Al-Kāfī. Allamah al-Majlisi menilainya ḥasan, sedangkan Syekh Baqir al-Behbudi tidak memasukkannya ke dalam seleksi Ṣaḥīḥ al-Kāfī. Karena itu, penilaian sanadnya tidak sepenuhnya tunggal.
Kerangka pembahasan
- Tawaduk sebagai kestabilan akhlak dalam perubahan keadaan.
- Perbedaan antara rendah hati dan merendahkan nilai diri.
- Kekuasaan dan popularitas sebagai ujian tawaduk yang paling nyata.
- Kerendahan hati terlihat dari kesediaan menerima kebenaran.
- Berlaku adil ketika marah merupakan bentuk tawaduk moral.
- Tawaduk menjaga nikmat agar tidak berubah menjadi kesombongan.
Pembuka syarah
Kerendahan hati mudah diperlihatkan ketika kita masih membutuhkan orang lain.
Kita berbicara dengan lembut karena memerlukan bantuan. Kita menerima nasihat karena belum mempunyai kekuasaan. Kita menghargai orang-orang kecil karena dahulu kita pun berada bersama mereka.
Kemudian keadaan berubah.
Nama mulai dikenal. Pintu-pintu terbuka. Ucapan kita didengar. Orang-orang menunggu keputusan kita. Perlahan-lahan, nada suara berubah dan nasihat mulai terasa seperti gangguan.
Di situlah Doa Kumail memohon sesuatu yang sangat sulit:
> “Jadikanlah aku rendah hati dalam segala keadaan.”
Bukan hanya ketika gagal, tetapi juga ketika berhasil.
Bukan hanya ketika miskin, tetapi juga ketika memiliki.
Bukan hanya ketika menjadi pengikut, tetapi juga ketika memimpin.
Tawaduk bukan berpura-pura tidak mempunyai kemampuan. Orang berilmu tidak perlu mengaku bodoh dan orang yang mampu tidak harus menyembunyikan kekuatannya.
Tawaduk adalah mengetahui bahwa seluruh kemampuan itu tidak membuat dirinya lebih bernilai sebagai manusia daripada orang lain.
Ia dapat memimpin tanpa meremehkan. Ia dapat mengajar tanpa mempermalukan. Ia dapat menegur tanpa menikmati kehinaan orang yang ditegurnya.
Tanda tawaduk yang paling jujur bukan cara seseorang bersikap kepada orang yang lebih kuat, melainkan caranya memperlakukan orang yang tidak dapat memberinya keuntungan.
Lebih dalam lagi, riwayat yang dinisbatkan kepada Imam ash-Shadiq as menghubungkan kerendahan hati dengan keadilan: bersedia memberikan hak orang lain dalam keadaan senang maupun marah.
Orang sombong merasa kebenaran selalu berada di pihaknya. Orang rendah hati mampu berkata, “Dalam perkara ini, aku keliru dan engkau benar.”
Kalimat semacam itu terkadang lebih berat daripada ibadah yang panjang. Sebab tubuh dapat membungkuk ketika salat, sementara ego tetap menolak membungkuk di hadapan kebenaran.
Doa Kumail tidak meminta kita terlihat rendah hati.
Ia meminta agar kita tetap rendah hati dalam setiap keadaan—terutama ketika dunia telah memberikan begitu banyak alasan untuk merasa lebih tinggi.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1GXxyFTJKE/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


