SYARAH DOA KUMAIL (37) – TIRAI YANG MEMBERI WAKTU UNTUK BERUBAH
Teks Doa Kumail
> وَلَا لِقَبَائِحِي سَاتِرًا
Wa lā liqabā’iḥī sātiran.
“Dan tidak pula aku menemukan penutup bagi keburukan-keburukanku.”
Penggalan ini merupakan kelanjutan langsung dari pengakuan bahwa tidak ada pengampun dosa selain Allah.
Tema utama
Allah menutupi banyak keburukan manusia bukan karena Dia menyetujui dosa, melainkan karena Dia memberi kesempatan untuk bertobat sebelum aib itu menjadi kehancuran.
Orang yang memohon tirai Allah harus belajar menjaga kehormatan sesama, tanpa menjadikan “menutupi aib” sebagai alasan membungkam korban atau melindungi kezaliman.
Kata qabā’iḥ merupakan bentuk jamak dari qabīḥah: sesuatu yang buruk, tercela, atau memalukan. Sementara sātir berarti yang menutup atau memberi tirai.
Allah mengetahui seluruh keburukan tersebut. Penutupan-Nya bukan ketidaktahuan, melainkan kemurahan: Dia tidak selalu memperlihatkan kepada manusia apa yang telah diketahui-Nya.
Ayat Al-Qur’an
- QS An-Nisa 4:108
> يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat bersembunyi dari Allah, sedangkan Dia bersama mereka.”
Manusia dapat menjaga citranya di hadapan masyarakat, tetapi tidak ada tirai yang menghalangi ilmu Allah. Karena itu, tertutupnya dosa dari manusia tidak boleh disalahartikan sebagai tertutupnya dosa dari Tuhan. QS An-Nisa 4:108
- QS An-Nur 24:22
> وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?”
Kerinduan agar kesalahan kita diampuni seharusnya melembutkan cara kita menghadapi kekurangan orang lain. QS An-Nur 24:22
- QS An-Nisa 4:148
> لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ
“Allah tidak menyukai keburukan yang diucapkan secara terbuka, kecuali oleh orang yang dizalimi.”
Ayat ini memberikan batas yang sangat penting. Menjaga aib bukan berarti korban harus diam. Orang yang dizalimi boleh menyampaikan kezaliman untuk mencari perlindungan, pertolongan, dan keadilan. QS An-Nisa 4:148
Riwayat Ahlul Bait
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Sinan bertanya kepada Imam Ja‘far ash-Shadiq as:
> قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: عَوْرَةُ الْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ حَرَامٌ؟ قَالَ: نَعَمْ… إِنَّمَا هُوَ إِذَاعَةُ سِرِّهِ
“Aku bertanya kepada Imam ash-Shadiq as: ‘Apakah kehormatan pribadi seorang mukmin haram dilanggar oleh mukmin lainnya?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ … Yang dimaksud ialah menyiarkan rahasianya.”
Riwayat tersebut mengarahkan perhatian dari tubuh seseorang kepada kehormatan dan rahasianya: sesuatu yang dipercayakan atau tersembunyi tidak boleh dijadikan bahan penyebaran. Kitāb al-Mu’min, bab 8, hadis 20
Kerangka pembahasan
- Makna qabā’iḥ sebagai keburukan yang tercela dan memalukan.
- Allah menutupi dosa meskipun mengetahui seluruh hakikatnya.
- Tertutupnya aib merupakan kesempatan bertobat, bukan tanda persetujuan Allah.
- Memohon perlindungan Allah harus melahirkan penghormatan terhadap privasi sesama.
- Menutup aib berbeda dari menutupi kezaliman dan membungkam korban.
- Taubat menggunakan waktu perlindungan untuk berubah sebelum kesempatan berakhir.
Pembuka syarah
Ada banyak hal dalam diri kita yang, apabila Allah menyingkapkannya dalam satu hari, mungkin membuat kita tidak sanggup menatap wajah manusia lain.
Ada niat yang tidak sebersih penampilan. Ada ibadah yang bercampur keinginan untuk dipuji. Ada kata-kata yang diucapkan ketika orang yang dibicarakan tidak hadir.
Ada dosa yang hanya diketahui oleh kamar sunyi, layar yang tertutup, dan Allah yang tidak pernah lalai.
Namun kita masih berjalan di tengah manusia dengan nama yang terjaga.
Doa Kumail menyadarkan dari mana perlindungan itu berasal:
> “Dan tidak pula aku menemukan penutup bagi keburukan-keburukanku.”
Allah tidak menutupi keburukan kita karena Dia tidak mengetahuinya. Dia menutupinya meskipun mengetahui seluruhnya.
Betapa sering kita menerima penghormatan yang sebenarnya tidak sepenuhnya pantas kita terima. Betapa sering orang menyebut kebaikan kita tanpa mengetahui sisi gelap yang sedang kita perjuangkan.
Jika semua yang tersembunyi dibuka sekaligus, mungkin banyak hubungan akan runtuh dan banyak kehormatan akan hilang.
Penutupan Allah adalah kemurahan. Tetapi ia juga merupakan tenggang waktu.
Tirai itu diberikan agar kita berubah sebelum ia tersingkap; agar kita meninggalkan dosa sebelum dosa tersebut menjadi watak; agar kita memperbaiki yang tersembunyi sebelum Allah mengizinkan akibatnya tampak di permukaan.
Mengerikan apabila seseorang menggunakan tertutupnya dosa sebagai bukti bahwa semuanya baik-baik saja. Lebih mengerikan lagi apabila ia mengira Allah tidak memperhatikannya karena manusia belum mengetahuinya.
Tirai Allah bukan persetujuan.
Ia adalah kesempatan.
Dan orang yang hidup di bawah perlindungan itu seharusnya belajar menjaga kehormatan orang lain. Ia tidak terburu-buru menyebarkan kesalahan, menikmati kejatuhan, atau menjadikan rahasia sesama sebagai hiburan.
Namun menjaga aib tidak berarti menyembunyikan kezaliman. Korban berhak berbicara. Orang yang mengetahui adanya bahaya boleh mencari pertolongan yang tepat.
Kejahatan yang terus berlangsung tidak boleh dilindungi dengan bahasa kesalehan yang justru meninggalkan korban sendirian.
Ada perbedaan antara menjaga kehormatan seorang manusia yang sedang memperbaiki dirinya dan melindungi pelaku agar dapat terus menyakiti orang lain.
Maka permohonan ini menumbuhkan dua tanggung jawab sekaligus: memperbaiki keburukan kita selama Allah masih menutupinya, serta menjaga kehormatan sesama tanpa mengkhianati keadilan.
Jangan sampai kita memohon agar Allah menutupi aib kita, sementara lidah kita sibuk merobek tirai orang lain.
Dan jangan sampai kita menikmati perlindungan-Nya begitu lama, tetapi tidak pernah menggunakan kesempatan itu untuk berubah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CyfvRySYw/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


