Teks Doa Kumail
> وَلَا يُمْكِنُ الْفِرَارُ مِنْ حُكُومَتِكَ
Wa lā yumkinu al-firāru min ḥukūmatika.
“Dan tidak mungkin melarikan diri dari pemerintahan-Mu.”
Penggalan ini mengikuti pernyataan bahwa perintah Allah nyata, kekuasaan-Nya mengatasi segala sesuatu, dan ketetapan kuasa-Nya terus berlaku.
Tema utama
Tidak dapat melarikan diri dari pemerintahan Allah bukan berarti makhluk terkurung dalam kekuasaan yang zalim. Artinya, tidak ada wilayah keberadaan di luar penciptaan, ilmu, keadilan, dan pemeliharaan-Nya.
Karena itu, satu-satunya pelarian dari akibat dosa ialah berlari menuju rahmat Allah.
Kata ḥukūmah di sini tidak hanya menunjuk kepada pemerintahan dalam pengertian politik. Ia mencakup hukum, keputusan, pengaturan, dan kedaulatan Allah atas seluruh keberadaan.
Manusia dapat menghindari pengadilan dunia, menyembunyikan jejak, mengganti identitas, atau meninggalkan tempat terjadinya kesalahan.
Namun ia tidak dapat keluar dari kerajaan Allah. Ke mana pun ia pergi, ia tetap hidup dengan rezeki-Nya, berjalan di atas bumi-Nya, dan berada dalam pengetahuan-Nya.
Ayat Al-Qur’an
- QS Adz-Dzariyat 51:50
> فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Maka berlarilah menuju Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya untuk kalian.”
Al-Qur’an tidak hanya mengatakan bahwa manusia tidak dapat melarikan diri dari Allah. Ia justru memerintahkannya berlari menuju Allah. Pelarian yang benar bukan meninggalkan Tuhan, melainkan meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari-Nya. QS Adz-Dzariyat 51:50
- QS Al-Jinn 72:22
> قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا
“Katakanlah: Tidak seorang pun dapat melindungiku dari Allah, dan aku tidak akan menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.”
Tidak ada kekuatan yang dapat melindungi seseorang dari keputusan Allah. Namun “tidak ada perlindungan dari-Nya” tidak berarti pintu harapan tertutup, sebab perlindungan itu sendiri tersedia di sisi-Nya. QS Al-Jinn 72:22
- QS Al-Qiyamah 75:10–12
> يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ كَلَّا لَا وَزَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ
“Pada hari itu manusia berkata: ‘Ke manakah tempat melarikan diri?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu pada hari itu tempat kembali.”
Pada akhirnya, seluruh jalan kembali bermuara kepada Allah. Yang dapat dipilih manusia bukan apakah ia akan kembali, melainkan dalam keadaan bagaimana ia kembali. QS Al-Qiyamah 75:10–12
Doa Ahlul Bait
Dalam doa ke-52 Ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as:
> وَكَيْفَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَهْرُبَ مِنْكَ مَنْ لَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِرِزْقِكَ، أَوْ كَيْفَ يَنْجُو مِنْكَ مَنْ لَا مَذْهَبَ لَهُ فِي غَيْرِ مُلْكِكَ
“Bagaimana mungkin seseorang melarikan diri dari-Mu, sedangkan ia tidak mempunyai kehidupan kecuali melalui rezeki-Mu? Bagaimana mungkin ia lolos dari-Mu, sedangkan tidak ada jalan baginya di luar kerajaan-Mu?”
Pada doa yang sama disebutkan:
> وَلَا مُنْقِذَ لَهُ مِنْكَ، وَلَا مَلْجَأَ لَهُ مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ
“Tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari-Mu, dan tidak ada tempat berlindung dari-Mu kecuali kepada-Mu.”
Doa itu kemudian menjawabnya dengan kalimat: “Kepada-Mu aku berlari dan kepada-Mu aku berlindung.” Ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, Doa 52
Catatan: Ini merupakan teks doa yang secara masyhur dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as.
Kerangka pembahasan
- Ḥukūmah Allah sebagai kedaulatan atas seluruh keberadaan.
- Tidak ada tempat yang berada di luar penciptaan dan ilmu-Nya.
- Manusia dapat bersembunyi dari makhluk, tetapi tidak dari Allah.
- Ketidakmungkinan melarikan diri tidak menutup harapan.
- Pelarian dari dosa dilakukan dengan berlari menuju taubat dan rahmat-Nya.
- Kita pasti kembali; yang dipersiapkan ialah keadaan saat kembali.
Pembuka syarah
Manusia biasanya berlari karena ingin menjauh.
Ia meninggalkan tempat yang menakutkan, menghindari orang yang mengancam, atau mencari jarak dari sesuatu yang tidak sanggup dihadapinya.
Namun Doa Kumail membawa kita kepada sebuah kenyataan yang mengguncang seluruh anggapan tentang pelarian:
> “Tidak mungkin melarikan diri dari pemerintahan-Mu.”
Ke manakah kita akan pergi?
Jika mendaki gunung tertinggi, gunung itu milik Allah. Jika bersembunyi dalam kamar yang gelap, kegelapan itu tidak menghalangi pengetahuan-Nya.
Jika mencoba melupakan dosa, ingatan kita mungkin melemah, tetapi ilmu Allah tidak pernah lupa.
Bahkan tenaga yang digunakan untuk melarikan diri berasal dari-Nya. Tanah yang diinjak adalah ciptaan-Nya.
Udara yang dihirup adalah rezeki-Nya. Jantung yang berdegup ketika ketakutan pun tetap bergerak dengan izin-Nya.
Tidak ada jalan keluar dari kerajaan Allah.
Namun kalimat ini bukan berita tentang penjara yang tidak mempunyai pintu. Ia adalah berita bahwa tidak ada tempat di mana manusia terputus dari Tuhan yang masih membuka pintu taubat.
Karena itu, Al-Qur’an tidak berkata, “Berlarilah menjauhi Allah.” Ia berkata:
> “Berlarilah menuju Allah.”
Berlarilah dari kesombongan menuju penghambaan. Dari kelalaian menuju zikir. Dari hak manusia yang dirampas menuju keberanian untuk mengembalikannya. Dari dosa yang disembunyikan menuju pengakuan yang jujur di hadapan-Nya.
Seorang pendosa tidak dapat melarikan diri dari keadilan Allah. Namun ia dapat berlindung dalam rahmat Allah.
Ia tidak dapat menghapus masa lalu dengan bersembunyi, tetapi dapat menghadap Allah dengan taubat yang mengubah masa depannya.
Inilah rahasia pelarian seorang mukmin: ia berlindung dari murka Allah kepada ampunan Allah; dari akibat kedurhakaannya kepada kemurahan Allah; dan dari dirinya yang jauh kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya.
Ia tidak berlari menjauhi Allah.
Ia berlari dari segala sesuatu—menuju Allah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CyfvRySYw/

