Teks Doa Kumail
> وَكَمْ مِنْ عِثَارٍ وَقَيْتَهُ
Wa kam min ‘ithārin waqaytah.
“Dan betapa banyak ketergelinciran yang telah Engkau cegah.”
‘Ithār berarti tersandung atau tergelincirnya langkah. Dalam pengalaman ruhani, ia dapat menunjuk pada kesalahan, kegagalan moral, keputusan keliru, atau kejatuhan yang hampir menyeret seseorang jauh dari jalan Allah.
Adapun waqaytah berarti Engkau menjaga, melindungi, atau mencegahnya.
Tema utama
Istiqamah bukan semata-mata hasil kekuatan pribadi. Banyak ketergelinciran tidak terjadi karena Allah menghadirkan peringatan, menutup kesempatan dosa, mempertemukan kita dengan nasihat, atau menahan hati tepat sebelum langkah menjadi kejatuhan.
Bala pada bagian sebelumnya dapat datang dari luar diri. ‘Ithār lebih dekat dengan langkah yang keliru: kaki yang semula teguh kemudian tergelincir. Seseorang tidak hanya membutuhkan petunjuk untuk menemukan jalan, tetapi juga penjagaan agar tetap berada di atasnya.
Ayat Al-Qur’an
- QS Ali ‘Imran 3:8
> رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
“Wahai Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.”
Orang-orang yang telah mendapat petunjuk tetap memohon penjagaan. Hidayah tidak menjadikan seseorang kebal terhadap penyimpangan. Justru semakin memahami rapuhnya hati, semakin sering ia meminta keteguhan.
- QS An-Nahl 16:94
> فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا
“Sehingga kaki tergelincir setelah sebelumnya teguh.”
Ayat ini berada dalam peringatan agar manusia tidak mempermainkan sumpah dan kepercayaan. Seseorang dapat terlihat telah berdiri kukuh, lalu jatuh karena kebohongan yang sengaja dipelihara.
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa Makārim al-Akhlāq, dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as:
> وَعَبِّدْنِي لَكَ وَلَا تُفْسِدْ عِبَادَتِي بِالْعُجْبِ
وَاعْصِمْنِي مِنَ الْفَخْرِ
“Jadikanlah aku beribadah kepada-Mu, tetapi jangan Engkau biarkan ibadahku dirusak oleh kekaguman kepada diri sendiri; dan lindungilah aku dari kebanggaan diri.”
Inilah ketergelinciran yang sangat halus: seseorang tidak jatuh sebelum beribadah, tetapi justru setelah beribadah. Ketaatannya menjadi alasan merasa lebih suci, lalu amal yang seharusnya mendekatkan kepada Allah berubah menjadi makanan bagi ego.
Kerangka pembahasan
- Makna ‘ithār sebagai tersandung atau tergelincirnya langkah.
- Mendapat petunjuk berbeda dari dijaga terus berada dalam petunjuk.
- Allah dapat mencegah dosa melalui peringatan, nasihat, keadaan, dan tertutupnya kesempatan.
- Kesombongan setelah beramal merupakan ketergelinciran yang sangat halus.
- Orang yang selamat tidak boleh merendahkan orang yang jatuh.
- Istiqamah memerlukan ikhtiar manusia dan pertolongan Allah.
- Syukur atas penjagaan diwujudkan dengan kewaspadaan, bukan rasa aman palsu.
Pembuka syarah
Kejatuhan terbesar tidak selalu terjadi pada langkah pertama.
Ada orang yang telah berjalan jauh, mengumpulkan banyak amal, memperoleh penghormatan, dan dikenal karena kebaikannya. Justru ketika merasa telah aman, kakinya mulai tergelincir.
Doa Kumail membuat kita mengingat:
> “Betapa banyak ketergelinciran yang telah Engkau cegah.”
Kita sering membanggakan dosa yang tidak kita lakukan. Kita merasa mampu menahan diri, kuat menghadapi godaan, atau lebih baik daripada orang yang terjatuh.
Namun pernahkah kita memikirkan kemungkinan bahwa kita tidak melakukan dosa itu karena Allah tidak membukakan kesempatannya?
Mungkin bukan kekuatan kita yang menyelamatkan. Mungkin Allah menghadirkan seseorang tepat sebelum keputusan buruk diambil. Mungkin sebuah rencana gagal sehingga pintu kemaksiatan tertutup.
Mungkin rasa takut, kegelisahan, atau ingatan terhadap nasihat datang beberapa detik sebelum langkah dilanjutkan.
Ada banyak pertolongan Allah yang menyamar sebagai gangguan terhadap keinginan kita.
Kita kecewa karena suatu pertemuan batal, padahal mungkin di sanalah keburukan sedang menunggu. Kita merasa dipermalukan oleh nasihat, padahal nasihat itu sedang menahan kaki di tepi jurang.
Kita mengeluhkan sebuah pintu yang tertutup, padahal Allah mengetahui apa yang akan terjadi seandainya pintu itu terbuka.
Lebih halus lagi adalah ketergelinciran setelah ketaatan.
Seseorang dapat selamat dari dosa besar, tetapi jatuh karena merasa bangga telah meninggalkannya. Ia dapat rajin beribadah, kemudian merendahkan orang lain.
Ia dapat membela kebenaran, tetapi perlahan mencintai kemenangan dirinya lebih daripada kebenaran itu sendiri.
Karena itulah Imam Zainal Abidin as memohon agar ibadah tidak dirusak oleh ‘ujub. Amal masih terlihat utuh di mata manusia, tetapi ruhnya telah runtuh di hadapan Allah.
Orang yang menyadari penjagaan Allah tidak mudah menghina manusia yang jatuh. Ia mengetahui bahwa jika Allah melepaskannya kepada dirinya sendiri, ia pun dapat tergelincir pada tempat yang sama—atau bahkan lebih buruk.
Istiqamah bukan medali yang telah selesai dimenangkan. Ia adalah pertolongan yang harus terus dimohonkan.
Kita tidak hanya berdoa agar Allah menunjukkan jalan.
Kita berdoa agar setelah menemukan jalan itu, kaki kita tidak dibiarkan berjalan sendirian.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CHuCRSdAv/

