18 October 2026

Ketika Seorang Khalifah Memerintahkan Rakyatnya untuk Berani Mengatakan Kebenaran

Dataran Shiffin masih diselimuti debu.

Di kejauhan, ribuan tombak berdiri seperti hutan besi. Bendera-bendera besar berguncang diterpa angin gurun. Kuda-kuda meringkik, sementara para prajurit menunggu hari esok yang mungkin tidak pernah mereka lihat.

Namun, di tengah ancaman perang yang semakin dekat, Imam Ali tidak sedang berbicara tentang pedang.

Beliau sedang berbicara tentang kekuasaan.

Orang-orang berkumpul mengelilinginya. Para panglima, prajurit, tetua kabilah, dan rakyat biasa berdiri dalam satu lingkaran. Tidak ada singgasana yang meninggikan Imam Ali dari mereka. Tidak ada barisan pengawal yang memisahkan pemimpin dari rakyatnya.

Imam Ali memandang mereka.

Suasana menjadi hening.

Kemudian suara beliau terdengar:

«“Karena Allah telah menyerahkan urusan kalian kepadaku, maka aku mempunyai hak atas kalian. Namun, kalian pun mempunyai hak atas diriku, sebagaimana aku mempunyai hak atas kalian.”»

Kalimat itu menghantam kesadaran mereka.

Mereka hidup pada masa ketika penguasa biasa berbicara tentang haknya untuk ditaati. Penguasa menuntut kesetiaan, pajak, penghormatan, dan kepatuhan.
Namun, jarang sekali seorang penguasa berdiri di hadapan rakyatnya dan mengakui bahwa rakyat juga mempunyai hak yang wajib ia tunaikan.

Imam Ali melanjutkan:

«“Kebenaran adalah sesuatu yang paling luas ketika dibicarakan, tetapi paling sempit ketika harus dilaksanakan.”»

Semua orang dapat berbicara tentang keadilan.

Para penguasa dapat menghiasi pidatonya dengan kata-kata tentang kesejahteraan. Para panglima dapat menyebut peperangannya sebagai perjuangan membela agama. Para pejabat dapat menyebut tindakannya sebagai pengabdian kepada rakyat.

Namun, ketika keadilan menuntut pengorbanan kepentingan pribadi, ruangnya mendadak menjadi sempit.

Ketika kebenaran harus ditegakkan kepada keluarga sendiri, sahabat sendiri, pendukung sendiri, bahkan kepada diri sendiri, tidak banyak orang yang sanggup berdiri di dalamnya.

Imam Ali menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki hak tanpa memikul kewajiban. Tidak ada rakyat yang dapat menuntut pemimpin memenuhi kewajibannya sementara mereka sendiri merusak tatanan.
Sebaliknya, tidak ada penguasa yang boleh menuntut ketaatan sambil mengabaikan hak rakyatnya.

Hak penguasa dan hak rakyat berdiri berhadapan seperti dua sisi timbangan.

Jika keduanya ditegakkan, keadilan akan hidup. Jalan-jalan agama menjadi lurus. Orang-orang baik memperoleh kehormatan, dan orang-orang jahat kehilangan kesempatan untuk menguasai keadaan.

Namun, apabila penguasa menindas rakyatnya atau rakyat membiarkan kebenaran dikalahkan oleh hawa nafsu, tanda-tanda kezaliman akan muncul.
Kebatilan akan dianggap biasa. Orang saleh direndahkan, sedangkan manusia durhaka dimuliakan.

Tidak ada pemerintahan yang dapat diselamatkan oleh pujian jika keadilan telah mati di dalamnya.

Setelah Imam Ali selesai berbicara, seorang lelaki dari kalangan sahabatnya bangkit.

Namanya tidak disebutkan dalam riwayat.

Ia menyampaikan pidato yang panjang. Ia memuji Imam Ali, menyatakan kesetiaan, ketaatan, dan kesediaannya mengikuti perintah. Kata-katanya indah. Kekagumannya mungkin tulus.

Orang-orang mendengarkan.

Pujian itu mengalir semakin tinggi, seakan hendak mengangkat Imam Ali melampaui semua orang yang berada di hadapannya.

Namun, Imam Ali tidak membiarkan pujian membangun singgasana di dalam hatinya.

Beliau tidak tersenyum dengan kebanggaan seorang raja. Tidak pula meminta lelaki itu melanjutkan pujiannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi pandangannya menjadi semakin tajam.

Beliau lalu menjawab:

«“Seburuk-buruk keadaan seorang penguasa dalam pandangan orang-orang saleh ialah apabila disangka menyukai kemegahan dan dianggap membangun pemerintahannya di atas kesombongan.”»

Angin berembus melewati barisan.

Sejumlah orang menundukkan kepala.

Imam Ali sedang mengajarkan bahwa kehancuran seorang pemimpin tidak selalu dimulai ketika ia merampas harta rakyat. Kerusakan itu dapat dimulai jauh sebelumnya—ketika ia mulai menikmati sanjungan.

Pujian membuat seorang penguasa hanya ingin mendengar suara yang menyenangkan hatinya. Orang-orang jujur perlahan dijauhkan. Para penjilat mengambil tempat di sekelilingnya.
Kesalahan disebut kebijaksanaan. Kekalahan diumumkan sebagai kemenangan. Kezaliman dihias dengan bahasa pengabdian.

Akhirnya, penguasa tidak lagi mengetahui keadaan rakyatnya. Ia hanya mendengar gema dari suaranya sendiri.

Imam Ali melanjutkan:

«“Aku tidak suka jika terlintas dalam pikiran kalian bahwa aku menyukai pujian dan senang mendengarkan sanjungan.”»

Beliau tidak membutuhkan kata-kata indah sebagai imbalan karena telah menjalankan kewajibannya.

Menegakkan keadilan bukanlah jasa seorang pemimpin kepada rakyat. Itu adalah utangnya.

Mengurus orang miskin bukan kemurahan hatinya. Itu kewajibannya.

Menjaga harta negara bukan keutamaannya. Itu amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Kemudian suara Imam Ali terdengar lebih tegas. Kalimat berikutnya membelah tradisi kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan:

«“Janganlah kalian berbicara kepadaku seperti cara berbicara kepada para penguasa tiran.”»

Mata-mata terangkat.

Seakan Imam Ali sedang merobohkan dinding tak terlihat yang biasa dibangun para penguasa di antara dirinya dan rakyatnya.

Jangan memilih kata-kata hanya karena takut membuatku tersinggung.

Jangan menyembunyikan keadaan sebenarnya karena khawatir terhadap kemarahanku.

Jangan berdiri di hadapanku dengan kepura-puraan.

Jangan mengubah kritik menjadi pujian hanya untuk menyelamatkan kedudukan kalian.

Sebab, apabila rakyat telah takut mengatakan kebenaran, penguasa akan kehilangan cermin yang memperlihatkan wajahnya sendiri.

Imam Ali melanjutkan:

«“Jangan bergaul denganku dengan menjilat. Jangan mengira aku merasa berat apabila kebenaran disampaikan kepadaku atau suatu perkara keadilan diajukan kepadaku.”»

Lalu datanglah kalimat yang menembus jantung setiap kekuasaan:

«“Barang siapa merasa berat ketika kebenaran dikatakan kepadanya, akan lebih berat baginya untuk melaksanakan kebenaran itu.”»

Kesunyian menyelimuti majelis.

Di hadapan mereka berdiri seorang khalifah yang memerintahkan rakyatnya untuk tidak takut kepadanya.

Seorang panglima tertinggi yang memberi hak kepada prajurit paling sederhana untuk menunjukkan perkara keadilan.

Seorang pemimpin yang tidak menuntut agar rakyat selalu membenarkannya, tetapi meminta mereka membantu menegakkan kebenaran.

Kemudian Imam Ali menutup pintu bagi segala bentuk pengkultusan kekuasaan:

«“Janganlah kalian berhenti mengatakan kebenaran atau memberikan pendapat yang adil.”»

Beliau tidak sedang memberikan kemurahan hati kepada rakyat untuk berbicara.

Beliau sedang menegaskan hak mereka.

Kebenaran tidak boleh bergantung pada suasana hati penguasa. Nasihat yang adil tidak boleh menunggu izin dari istana. Kritik bukanlah pengkhianatan apabila disampaikan untuk menegakkan keadilan.

Imam Ali bahkan menyatakan bahwa dirinya dan mereka semua adalah hamba milik Allah. Tidak seorang pun berhak memakai kekuasaan untuk mengambil kemuliaan yang hanya pantas bagi-Nya.

Di hadapan Allah, khalifah dan rakyat sama-sama hamba.

Mahkota tidak menghapus penghambaan.

Pedang tidak memberikan kesucian kepada kezaliman.

Jabatan tidak membuat seseorang kebal dari nasihat.

Pada malam itu, di tengah pasukan yang bersiap menghadapi peperangan, Imam Ali sesungguhnya sedang menghadapi musuh yang lebih berbahaya daripada pasukan di seberang medan: kesombongan kekuasaan.

Beliau menghunus kebenaran sebelum menghunus pedang.

Ali mengetahui bahwa negeri tidak selalu hancur karena musuh menyerbu dari luar. Sebuah pemerintahan dapat membusuk dari dalam ketika pemimpinnya hanya dikelilingi orang-orang yang berkata:

“Benar, wahai pemimpin.”

“Hebat, wahai pemimpin.”

“Tidak ada yang salah, wahai pemimpin.”

Di hadapan Ali, kesetiaan tidak berarti membenarkan semua tindakan penguasa.

Kesetiaan berarti membantu pemimpin tetap berada di jalan keadilan.

Imam Ali tidak meminta rakyatnya menjadi bisu. Beliau meminta mereka menjadi penjaga kebenaran. Beliau tidak menganggap kritik sebagai penghinaan. Beliau melihat nasihat yang adil sebagai pertolongan.

Itulah sebabnya sejarah mengenal banyak raja yang membangun istana megah, tetapi hanya sedikit pemimpin yang berani mengucapkan:

«“Jangan berbicara kepadaku seperti kepada seorang tiran.”»

Karena hanya pemimpin yang tidak takut kehilangan kebesaran palsu yang berani membiarkan kebenaran berdiri tegak di hadapannya.

Dan hanya seorang Ali yang mampu mengubah sebuah majelis pujian menjadi sekolah keberanian bagi rakyatnya.

Jangan berbicara

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan Rujukan:

Pokok peristiwa ini bersumber dari Nahjul Balaghah, Khutbah 216, yang disampaikan Imam Ali di Shiffin tentang hubungan timbal balik antara hak penguasa dan hak rakyat.
Teks tersebut juga mencatat seorang sahabat menyampaikan pidato panjang yang berisi pujian dan pernyataan ketaatan, lalu Imam Ali menanggapinya dengan penolakan terhadap sanjungan, penjilatan, dan cara berbicara kepada penguasa tiran. Lihat “Nahjul Balaghah, Khutbah 216”.

Dalam pembacaan Ahlul Bait yang menyertai edisi rujukan, ungkapan Imam Ali tentang kemungkinan manusia melakukan kekeliruan—kecuali ketika Allah melindunginya—bukanlah pengakuan bahwa beliau pernah berbuat dosa atau menyimpang.
Kalimat itu menegaskan bahwa keterjagaan seorang manusia suci tetap bersumber dari pertolongan dan penjagaan Allah, bukan dari kekuatan yang berdiri terpisah dari-Nya.

Nama sahabat yang menyampaikan pujian tidak disebutkan dalam teks. Gambaran angin, debu, tatapan para prajurit, gerakan tubuh, serta suasana dramatik majelis merupakan pengembangan sastra untuk menghidupkan kisah.
Adapun pokok pidato, pujian sahabat, dan jawaban Imam Ali berpijak pada khutbah tersebut.

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/18bpHyMv51/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us