SYARAH DOA KUMAIL (30) – KETINGGIAN YANG TIDAK DIUKUR DENGAN ARAH
Teks Doa Kumail
> وَعَلَا مَكَانُكَ
Wa ‘alā makānuka.
“Dan Mahatinggi kedudukan-Mu.”
Tema utama
Ketinggian Allah adalah ketinggian kedudukan, kekuasaan, dan kesempurnaan—bukan keberadaan fisik pada suatu tempat atau arah.
Kata makān pada penggalan ini tidak boleh dipahami secara jasmani sebagai “tempat” yang ditempati Allah.
Terjemahan “Mahatinggi kedudukan-Mu” lebih menjaga maksud tauhid daripada gambaran seolah-olah Allah berada pada suatu titik yang lebih tinggi di dalam alam.
Tempat, arah, jarak, dan ukuran adalah ciptaan. Allah tidak mungkin dibatasi oleh sesuatu yang diciptakan-Nya.
Dia Mahatinggi tanpa membutuhkan arah atas, dekat tanpa berpindah, serta meliputi segala sesuatu dengan ilmu dan kekuasaan tanpa menyatu dengan ciptaan.
Ayat Al-Qur’an
- QS An-Nahl 16:60
> وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Bagi Allah sifat dan kedudukan yang Mahatinggi. Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Ketinggian Allah adalah kesempurnaan yang tidak dapat dibandingkan dengan ketinggian makhluk. QS An-Nahl 16:60
- QS Al-Hadid 57:3
> هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Allah tidak berada di dalam urutan ruang dan waktu sebagaimana makhluk. Dia tidak didahului ketiadaan dan tidak diakhiri kebinasaan. QS Al-Hadid 57:3
- QS Al-Ikhlas 112:4
> وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Apa pun gambaran jasmani yang muncul dalam pikiran merupakan gambaran makhluk, sedangkan Allah tidak menyerupai makhluk. QS Al-Ikhlas 112:4
Riwayat Ahlul Bait
Syekh ash-Shaduq meriwayatkan dari Imam Musa al-Kazim as:
> إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يُوصَفُ بِمَكَانٍ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ
“Sesungguhnya Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi tidak dapat disifati dengan tempat, dan waktu tidak berlaku atas-Nya.”
Imam menjelaskan bahwa perjalanan Mikraj tidak berarti Rasulullah saw mendatangi tempat fisik yang ditempati Allah. Allah tidak dibatasi oleh tempat dan waktu; perjalanan itu memuliakan Rasul serta memperlihatkan tanda-tanda keagungan-Nya.
Al-Tawḥīd, Bab Penafian Tempat dan Gerak dari Allah, hadis 5
Catatan: Riwayat ini dicantumkan oleh Syekh ash-Shaduq dengan sanad, tetapi halaman rujukan tidak memberikan penilaian akhir atas kekuatan sanadnya. Karena itu, ia disebut “diriwayatkan dari Imam Musa al-Kazim as”.
Kerangka pembahasan
- Makna makān sebagai kedudukan, bukan tempat fisik bagi Allah.
- Ruang, arah, jarak, dan waktu adalah ciptaan.
- Pencipta ruang tidak mungkin membutuhkan atau dibatasi ruang.
- Ketinggian Allah adalah ketinggian kesempurnaan dan kekuasaan.
- Bahasa manusia harus dipahami dalam kerangka penyucian Allah dari keserupaan.
- Tauhid menjaga hati dari membentuk gambaran jasmani tentang Tuhan.
Pembuka syarah
Bahasa manusia lahir dari pengalaman makhluk.
Ketika mendengar kata “tinggi”, kita membayangkan puncak gunung, langit, atau sesuatu yang berada di atas kepala.
Ketika mendengar kata “tempat”, pikiran segera mencari arah, batas, dan jarak.
Namun Allah bukan bagian dari alam yang dapat ditempatkan di salah satu sudut alam.
Doa Kumail mengatakan:
> “Dan Mahatinggi kedudukan-Mu.”
Ketinggian Allah bukan ketinggian sebuah benda atas benda lainnya. Jika Allah ditempatkan dalam suatu arah, berarti arah itu membatasi-Nya. Jika Dia membutuhkan ruang untuk berada, berarti ruang menjadi lebih dahulu atau lebih luas daripada-Nya. Mahasuci Allah dari seluruh gambaran demikian.
Allah menciptakan atas dan bawah.
Dia menciptakan dekat dan jauh.
Dia menciptakan ruang tempat benda-benda berada serta waktu tempat peristiwa-peristiwa berlangsung. Maka Dia tidak tunduk kepada ukuran ciptaan-Nya.
Penggalan ini mendidik kita agar tidak menyamakan ketinggian Allah dengan ketinggian seorang raja yang duduk di atas singgasana.
Seorang raja menjadi tinggi karena kedudukannya diangkat oleh rakyat dan ditopang oleh kekuasaan.
Allah Mahatinggi dalam diri-Nya sendiri—tanpa tempat yang menopang, arah yang membatasi, atau makhluk yang mengukuhkan-Nya.
Akan tetapi, penyucian ini tidak menjadikan Allah jauh.
Dia tidak dibatasi oleh tempat, tetapi mengetahui setiap tempat. Dia tidak bergerak mendekati manusia, tetapi mengetahui bisikan yang paling tersembunyi.
Dia tidak menempati hati, tetapi tidak ada isi hati yang luput dari pengetahuan-Nya.
Ketika tangan terangkat berdoa ke langit, gerakan itu bukan penunjuk alamat fisik Allah. Ia merupakan bahasa kehambaan: pengakuan bahwa pertolongan datang dari kedudukan yang melampaui seluruh kemampuan makhluk.
Tauhid yang matang tidak mencoba menggambar Allah.
Ia menundukkan imajinasi di hadapan keagungan-Nya dan mengakui: apa pun yang dapat kubayangkan memiliki bentuk dan batas, sedangkan Tuhanku Mahatinggi dari keduanya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DeD7GrADQ/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


