SYARAH DOA KUMAIL (26) – KEFAKIRAN YANG MEMBONGKAR ILUSI KEMANDIRIAN
Teks Doa Kumail
> اَللّٰهُمَّ وَأَسْأَلُكَ سُؤَالَ مَنِ اشْتَدَّتْ فَاقَتُهُ
Allāhumma wa as’aluka su’āla man isytaddat fāqatuhu.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang telah sangat mendesak kebutuhannya.”
Tema utama
Kefakiran yang dimaksud Doa Kumail bukan hanya kekurangan harta, melainkan kesadaran bahwa seluruh keberadaan manusia—napas, kekuatan, petunjuk, dan keselamatannya—setiap saat bergantung kepada Allah.
Kata fāqah menunjuk kepada kebutuhan yang dalam dan mendesak. Seorang hamba tidak datang kepada Allah sekadar membawa daftar keinginan tambahan. Ia datang karena menyadari bahwa tanpa Allah, dirinya tidak memiliki dasar untuk berdiri.
Kesadaran ini tidak berarti memuliakan kemiskinan material atau membiarkan manusia hidup dalam kekurangan. Islam tetap memerintahkan keadilan, zakat, sedekah, dan pembelaan terhadap kaum lemah.
Yang dibongkar oleh penggalan ini adalah ilusi bahwa kekayaan membuat manusia tidak lagi membutuhkan Allah.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Qasas 28:24
> رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.”
Nabi Musa as mengucapkan doa ini setelah menolong dua perempuan di Madyan. Beliau telah berusaha dan melakukan kebaikan, tetapi tetap mengakui kefakirannya kepada Allah. Kebutuhan kepada Allah tidak meniadakan usaha; ia menyucikan usaha dari kesombongan. QS Al-Qasas 28:24
- QS Al-‘Alaq 96:6–7
> كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia melihat dirinya telah merasa cukup.”
Bahaya terbesar bukan mempunyai kecukupan, melainkan mengira bahwa kecukupan itu menjadikan manusia mandiri dari Allah. Perasaan tidak membutuhkan Tuhan merupakan akar dari banyak tindakan melampaui batas. QS Al-‘Alaq 96:6–7
- QS Muhammad 47:38
> وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ
“Allah Mahakaya, sedangkan kalianlah orang-orang yang membutuhkan.”
Kefakiran kepada Allah bukan keadaan sementara yang berakhir ketika rezeki bertambah. Orang miskin membutuhkan-Nya dalam kekurangan; orang kaya membutuhkan-Nya agar kekayaan tidak menghancurkan dirinya. QS Muhammad 47:38
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa ke-13 ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, disebutkan:
> وَنَسَبْتَهُمْ إِلَى الْفَقْرِ وَهُمْ أَهْلُ الْفَقْرِ إِلَيْكَ، فَمَنْ حَاوَلَ سَدَّ خَلَّتِهِ مِنْ عِنْدِكَ، وَرَامَ صَرْفَ الْفَقْرِ عَنْ نَفْسِهِ بِكَ، فَقَدْ طَلَبَ حَاجَتَهُ فِي مَظَانِّهَا، وَأَتَى طَلِبَتَهُ مِنْ وَجْهِهَا
“Engkau menisbatkan mereka kepada kefakiran, dan memang mereka sepenuhnya membutuhkan-Mu. Maka siapa yang berusaha memenuhi kekurangannya dengan apa yang berada di sisi-Mu dan menghilangkan kefakirannya melalui-Mu, sungguh ia telah mencari kebutuhannya pada tempatnya dan mendatangi permohonannya dari arah yang benar.”
Doa tersebut kemudian mengingatkan: “Bagaimana mungkin seorang yang membutuhkan meminta kepada sesama yang membutuhkan?”
Catatan: Doa ini termasuk dalam korpus inti ash-Sahifah as-Sajjadiyyah dan secara masyhur dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as. Kajian sanad independen tidak saya lakukan di sini.
Kerangka pembahasan
- Makna fāqah sebagai kebutuhan yang mendasar dan mendesak.
- Kefakiran ruhani berbeda dari kemiskinan material.
- Manusia bergantung kepada Allah bahkan ketika merasa kuat dan berkecukupan.
- Usaha merupakan kewajiban, tetapi hasil tetap berada dalam kekuasaan Allah.
- Kesadaran akan kebutuhan menghancurkan kesombongan, bukan martabat.
- Memohon kepada Allah membebaskan manusia dari penghambaan mutlak kepada makhluk.
Pembuka syarah
Manusia paling mudah lupa kepada kebutuhannya ketika segala sesuatu berjalan lancar.
Tubuh sehat, penghasilan datang, keluarga berada di dekatnya, dan rencana-rencana terlaksana. Perlahan-lahan ia mulai mengira bahwa hidup berdiri di atas kemampuan dirinya sendiri.
Ia masih menyebut nama Allah, tetapi hanya sebagai pelengkap.
Kemudian satu bagian kecil dari kehidupannya berubah. Tubuh melemah. Pekerjaan terganggu. Orang yang dicintai pergi. Pintu yang dianggap pasti terbuka tiba-tiba tertutup.
Saat itulah ia mengetahui bahwa selama ini dirinya tidak pernah benar-benar mandiri.
Doa Kumail mengajarkan pengakuan tersebut sebelum kehidupan memaksanya:
> “Aku memohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang telah sangat mendesak kebutuhannya.”
Penggalan ini bukan ajakan untuk merasa tidak berharga. Kefakiran kepada Allah justru merupakan kemuliaan. Manusia menjadi hina ketika merasa tidak membutuhkan Allah, lalu menggantungkan seluruh dirinya kepada kekuasaan, kekayaan, dan penerimaan makhluk.
Kita membutuhkan Allah bukan hanya ketika sakit, melainkan juga agar kesehatan tidak disalahgunakan. Kita membutuhkan-Nya bukan hanya ketika miskin, melainkan juga agar kekayaan tidak berubah menjadi kesombongan.
Kita membutuhkan-Nya bukan hanya ketika tersesat, melainkan pada setiap langkah agar tidak kehilangan jalan.
Bahkan kemampuan untuk menyebut kebutuhan kita di hadapan-Nya adalah pemberian.
Maka seorang hamba datang bukan dengan kebanggaan atas apa yang dimilikinya, tetapi dengan pengakuan yang jujur: seluruh yang berada dalam tanganku berasal dari-Mu, dan seluruh yang kubutuhkan hanya dapat sampai kepadaku dengan izin-Mu.
Kefakiran semacam ini tidak membuat manusia berhenti berusaha.
Ia membuatnya bekerja keras tanpa menyembah hasil.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JHZhtvTWh/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


