SYARAH DOA KUMAIL (34) – ALAM TIDAK PERNAH BERJALAN SENDIRIAN
Teks Doa Kumail
> وَجَرَتْ قُدْرَتُكَ
Wa jarat qudratuka.
“Dan berlakulah kekuasaan-Mu.”
Terjemahan penjelasnya: “Dan kuasa-Mu terus berlaku pada seluruh keberadaan.”
Kata jarat secara harfiah dapat menggambarkan sesuatu yang berjalan atau mengalir. Dalam penggalan ini, ia tidak berarti Zat Allah mengalir di dalam alam.
Maksudnya adalah bahwa kekuasaan, pengaturan, dan kehendak-Nya berlaku tanpa ada sesuatu pun yang berada di luar kerajaan-Nya.
Tema utama
Allah tidak menciptakan alam lalu meninggalkannya berjalan sendiri. Seluruh sebab, hukum alam, kehidupan, dan perubahan terus berada di bawah pemeliharaan serta kekuasaan-Nya.
Keteraturan alam bukan pesaing bagi kekuasaan Allah. Api membakar, air menghidupkan, obat membantu penyembuhan, dan benih tumbuh melalui sifat-sifat yang Allah ciptakan pada semuanya.
Mengakui sebab-sebab alam tidak berarti mengeluarkan Allah dari kehidupan. Sebab hanya bekerja karena diberi sifat, kesempatan, dan batas oleh-Nya. Allah dapat memberikan hasil melalui sebab, menahan hasil meskipun sebab telah tersedia, atau membuka jalan melalui sebab yang tidak pernah kita perhitungkan.
Ayat Al-Qur’an
- QS Fathir 35:41
> إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar keduanya tidak lenyap.”
Keberadaan alam bukan hanya membutuhkan Allah pada permulaan penciptaan. Setiap saat, ia membutuhkan pemeliharaan-Nya agar tetap ada dan teratur. QS Fathir 35:41
- QS Ar-Rahman 55:29
> كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
“Setiap saat Dia berada dalam suatu urusan.”
Ayat ini tidak menunjukkan perubahan atau kesibukan pada Zat Allah. Ia menunjukkan kesinambungan perbuatan-Nya: menciptakan, memelihara, memberi, menahan, menghidupkan, serta mengatur makhluk. QS Ar-Rahman 55:29
- QS Al-Mulk 67:19
> مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ
“Tidak ada yang menahan burung-burung itu selain Yang Maha Pengasih.”
Burung terbang melalui sayap, udara, susunan tubuh, dan hukum-hukum alam. Namun Al-Qur’an melihat lebih dalam: seluruh sebab itu diciptakan dan dipelihara oleh Ar-Rahman. QS Al-Mulk 67:19
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa ke-7 Ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, terdapat ungkapan yang sangat dekat:
> وَجَرَى بِقُدْرَتِكَ الْقَضَاءُ، وَمَضَتْ عَلَى إِرَادَتِكَ الْأَشْيَاءُ
“Dengan kekuasaan-Mu ketetapan berlaku, dan segala sesuatu berjalan menurut kehendak-Mu.”
Doa tersebut juga menyebut bahwa sebab-sebab dipersiapkan melalui kelembutan Allah. Dengan demikian, kekuasaan-Nya tidak meniadakan sebab; Dia justru menciptakan dan mengatur jaringan sebab itu. Ash-Sahifah as-Sajjadiyyah, Doa 7
Catatan: Teks ini merupakan doa yang secara masyhur dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as.
Kerangka pembahasan
- Makna jarat qudratuka: kuasa Allah terus berlaku.
- Allah bukan hanya pencipta pertama, tetapi juga pemelihara setiap keberadaan.
- Hukum alam merupakan bentuk keteraturan yang diciptakan Allah.
- Sebab mempunyai pengaruh dengan izin-Nya, bukan secara mandiri.
- Tawakal tidak menolak ilmu, pengobatan, perencanaan, dan usaha.
- Usaha tanpa Allah melahirkan kesombongan; tawakal tanpa usaha berubah menjadi kelalaian.
- Kesadaran terhadap pemeliharaan Allah mengubah peristiwa biasa menjadi tanda-tanda kehadiran kuasa-Nya.
Pembuka syarah
Alam tampak berjalan sendiri.
Matahari terbit pada waktunya. Hujan turun melalui pertemuan awan. Tubuh menyembuhkan luka melalui proses biologis. Benih pecah, akar tumbuh, lalu batang mencari cahaya.
Karena semua itu berlangsung secara teratur, manusia mudah mengira bahwa alam tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Seakan-akan Allah hanya menciptakan permulaan, kemudian meninggalkan ciptaan bekerja sendirian.
Doa Kumail meruntuhkan anggapan tersebut:
> “Dan berlakulah kekuasaan-Mu.”
Kekuasaan Allah tidak berhenti setelah langit dan bumi diciptakan. Alam membutuhkan-Nya bukan hanya untuk mulai ada, melainkan untuk tetap ada pada setiap saat.
Hukum alam bukan mesin yang mengambil alih pekerjaan Tuhan. Ia adalah pola keteraturan yang diciptakan Tuhan.
Obat mempunyai khasiat karena Allah menciptakan susunan serta kemampuannya. Dokter menyembuhkan melalui ilmu, tetapi kemampuan berpikir, bahan obat, tubuh pasien, dan hukum biologis semuanya berada di dalam kerajaan Allah.
Petani menanam benih, tetapi tidak menciptakan kehidupan yang membuat benih itu terbuka dan tumbuh.
Karena itu, iman tidak menyuruh manusia meninggalkan sebab-sebab.
Orang sakit tetap berobat. Orang lapar tetap bekerja. Orang yang menghadapi bahaya tetap menyusun perlindungan.
Menolak usaha dengan alasan tawakal bukanlah pengagungan terhadap kekuasaan Allah, sebab Allah sendiri menjadikan usaha sebagai bagian dari jalan pertolongan-Nya.
Namun sebab tidak boleh berubah menjadi tuhan baru.
Ada orang yang merasa aman hanya karena mempunyai uang, jaringan, teknologi, atau rencana yang matang. Ia lupa bahwa semua sebab mempunyai batas.
Obat dapat tersedia, tetapi tubuh belum tentu merespons. Pintu terlihat terbuka, tetapi langkah belum tentu sampai. Rencana tampak sempurna, tetapi satu kejadian kecil dapat mengubah seluruh hasilnya.
Kesadaran bahwa kuasa Allah terus berlaku menempatkan usaha dan tawakal pada tempatnya.
Kita bekerja sebaik mungkin karena sebab-sebab adalah amanah-Nya. Namun kita tidak menyembah hasil karena hasil bukan milik kita.
Alam memang bergerak melalui hukum-hukumnya.
Tetapi tidak pernah satu detik pun ia berjalan sendirian.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JLaoPCkhF/
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN


