Konsep Wajibul Wujud (Akidah Bagian ke-2)
1. Pendahuluan: Pembuktian Rasional Keberadaan Tuhan
Kajian ini merupakan pertemuan kedua yang membahas landasan paling penting dalam akidah, yaitu pembuktian keberadaan Tuhan secara rasional.
Dalil ini bersifat sederhana, mudah dimengerti, namun memiliki kekuatan logika yang luar biasa untuk membangun keyakinan tentang Allah SWT,.
2. Definisi Wajibul Wujud vs. Mumkinul Wujud
Berdasarkan pengandaian akal, segala sesuatu yang ada terbagi menjadi dua kategori:
- Wajibul Wujud:
Keberadaan yang pasti, mutlak, tidak bergantung pada apa pun, dan tidak membutuhkan pencipta atau sebab lain yang mengadakannya,,. - Mumkinul Wujud:
Keberadaan yang tidak pasti, bersifat bergantung, dan membutuhkan sebab atau pencipta untuk menjadi ada.
Akal memahami bahwa tidak mungkin semua keberadaan di alam semesta ini bersifat Mumkinul Wujud,.
Jika segala sesuatu membutuhkan sebab untuk ada, dan sebab tersebut juga membutuhkan sebab lain tanpa akhir, maka konsekuensi logisnya adalah tidak akan pernah ada sesuatu yang benar-benar ada.
Karena kenyataannya keberadaan itu ada, maka secara otomatis Wajibul Wujud harus ada sebagai titik akhir yang tidak bergantung pada apa pun,.
3. Analogi Logika Kebergantungan
Untuk mempermudah pemahaman, diberikan dua contoh sederhana:
- Jamuan Makan:
Jika ada 10 orang yang semuanya berkomitmen tidak akan makan sebelum orang lain mulai makan, maka hidangan tersebut tidak akan pernah termakan selamanya,.
Jika hidangan itu akhirnya termakan, pasti ada satu orang yang memulai makan tanpa menggantungkan aksinya pada orang lain,. - Lomba Lari:
Jika semua pelari di garis start berkomitmen tidak akan melangkah sebelum pelari lain melangkah, maka lomba lari tidak akan pernah terjadi,.
Terjadinya lomba lari membuktikan adanya pelari yang memulai langkah pertama secara mandiri,.
Demikian pula dengan alam semesta; karena keberadaan itu nyata adanya, maka harus ada satu Keberadaan Utama yang tidak bergantung pada pencipta lain,.
4. Konsekuensi Logis dari Wajibul Wujud
Setelah meyakini adanya Wajibul Wujud, terdapat beberapa konsekuensi logis yang menjadi sifat-sifat-Nya:
- Azali dan Abadi (Sarmadi):
Karena tidak bergantung pada apa pun, Wajibul Wujud tidak pernah “tidak ada” (Azali) dan tidak akan pernah sirna (Abadi),. Sesuatu yang pernah tidak ada pasti membutuhkan pencipta, sehingga ia bukan lagi Wajibul Wujud,. - Tidak Tersusun (Bukan Materi):
Wajibul Wujud tidak tersusun dari bagian-bagian (ghairu murakkab). Segala sesuatu yang tersusun pasti bergantung pada bagian-bagiannya, sedangkan Wajibul Wujud tidak boleh bergantung pada apa pun. Oleh karena itu, Tuhan bukan materi karena materi selalu tersusun dan terbatas,. - Tidak Terjangkau Indra Fisik:
Karena bukan materi, Tuhan tidak dapat dilihat, didengar, atau diraba oleh indra fisik,. Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa Tuhan dilihat dengan “mata hati” melalui hakikat keimanan, bukan dengan mata kepala,. - Tidak Terikat Ruang dan Waktu:
Ruang dan waktu adalah dimensi yang lahir dari keberadaan makhluk yang terbatas,. Wajibul Wujud yang tidak terbatas tidak mungkin dilingkupi oleh ruang dan waktu yang diciptakan-Nya sendiri,. - Tidak Bergerak dan Tidak Berubah:
Gerak, perubahan, dan evolusi adalah ciri kekurangan karena menunjukkan adanya proses menuju kesempurnaan atau keterikatan pada waktu,. Wajibul Wujud adalah kesempurnaan mutlak yang tetap (tsabat), sehingga gerak tidak dapat diasumsikan bagi-Nya,.
5. Kesimpulan: Sifat Salbiyah dan Tsubutiyah
- Sifat Salbiyah: Penafian atau pembersihan segala bentuk kekurangan, kebutuhan, dan keterbatasan dari zat Allah,.
- Sifat Tsubutiyah: Penetapan bahwa segala bentuk kesempurnaan dimiliki oleh Allah dalam kualitas yang tak tertandingi,.
Pemahaman tentang Wajibul Wujud ini menjadi pijakan dasar yang sangat kuat untuk mengurai dan memahami berbagai masalah akidah lainnya di masa mendatang,.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
Judul video: Serial Akidah Islam Bag-2 – Wajibul Wujud – I Ustadz Abdillah Baabud I ALQURBA TV – Watch on Youtube


