Hadits – Hadits Tentang Ahlul Bait Nabi SAW

Mengapa Al-Quran hanya bisa dipahami dan ditafsirkan oleh Rasulullah saww dan Ahlulbait as saja?

Karena hanya manusia-manusia suci dan disucikan oleh Allah yg mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran. Hal ini sesuai dengan nash al-Quran, yaitu dalam surat Al-Waqi’ah ayat 79:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya (al-Quran) kecuali orang-orang yang disucikan.”

Menyentuhnya disini bukan dimaknai secara tekstual sebagai menyentuh/memegang kitab suci Al-Quran, namun harus dimaknai secara kontekstual yaitu yg mampu memahami dan menafsirkan Al-Quran.

Lalu siapa yg dimaksudkan oleh Allah orang-orang yang disucikan tersebut?

Orang-orang yang disucikan itu terdapat dalam Surat Al-Ahzab 33:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“…Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan noda dari kamu, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”

Ayat Thathir (Penyucian) diatas adalah diwahyukan ketika Nabi saww berada di rumah Ummu Salamah, salah satu istri Nabi.

Asbabun Nuzul ayat ini dijelaskan dalam hadis yg sangat masyhur, shahih dan mutawatir yaitu Hadis Al-Kisa’.

Tidak main-main, hadis Al-Kisa’ ini diriwayatkan oleh 2 istri Nabi saww dan sedikitnya 17 sahabat Nabi saww dalam kitab-kitab Shahih Sunni maupun Syiah, dan hanya yg bersikap jahil dan keras kepala saja yang meragukan atau menolak hadis ini.

Hadis Al-Kisa’ yg diriwayatkan oleh Ummu Salamah:

شهر بن حوشب، عن أم سلمة : إن النبي صلى الله عليه و آله جلل على علي و حسن و حسين و فاطمة كساء، ثم قال : اللهم هؤلاء أهل بيتي و خاصتي، اللهم أذهب عنهم الرجس و طهرهم تطهيرا. فقالت أم سلمة : و أنا منهم؟ قال : انك الى خير

Syahr bin Hausyab mengutip dari Ummu Salamah yang berkata, “Sesungguhnya Nabi saww meletakkan kain Kisa’ di atas kepala Ali, Hasan, Husain dan Fathimah sambil berkata, ‘Ya Allah! Mereka inilah Ahlulbaitku. Ya Allah! Hilangkanlah dari mereka segala kenajisan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’. Maka Ummu Salamah bertanya, ‘Bukankah aku termasuk diantara mereka juga?’ Nabi saww menjawab, ‘Engkau berada di atas jalan kebenaran.”‘

Sumber : Musnad Ahmad bin Hambal jilid 10 halaman 197 hadis ke 26659, Sunan Tirmidzi jilid 5 halaman 699 hadis ke 3871)

Sedangkan berikut ini, Hadis Al-Kisa’ yg diriwayatkan oleh Aisyah:

صفية بنت شيبة : قالت عائشة : خرج النبي صلى الله عليه و آله غداة و عليه مرط مرحل من شعر أسود، فجاء الحسن بن علي فأدخله، ثم جاء الحسين فدخل معه، ثم جاءت فاطمة فأدخلها، ثم جاء علي فأدخله، ثم قال : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا.

Shafiyah binti Syaibah mengutip Aisyah yg berkata, “Nabi saww keluar rumah di suatu pagi dengan mengenakan pakaian wol hitam. Kemudian Hasan bin Ali masuk dan Nabi saww menempatkannya di bawah selendang (Kisa’). Setelah itu, Husain bin Ali pun datang dan Nabi saww menyelimutinya dengan selendang beliau itu juga. Kemudian Fathimah datang dan Nabi saww menempatkannya juga di bawah selendang itu, dan akhirnya Ali tiba dan bergabung dengan keluarganya di bawah kain Kisa’ itu. Lalu Nabi saww membacakan ayat, ‘Sesungguhnya Allah hanya berkehendak untuk menghilangkan kenajisan dr kalian, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”‘

Sumber : Shahih Muslim jilid 4 halaman 1883 hadis ke 2424, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain jilid 3 halaman 159 hadis ke 4707

Riwayat ini juga terdapat dalam kitab :

1. Kitab Shahîh Sunan At-Tirmizi, karya Tirmidzi, {lahir tahun 824-892 M} halaman 870, hadis nomer 3871, terbitan Maktabah Ma’arif, Riyadh cetakan ke-dua tahun 2007 M, yang disahihkan oleh Al- Albâni:
“… dari Syahr bin Hausyab dariUmmu Salamah: …….”

2. Kitab Sunan Tirmizi, {lahir tahun 824-892 M} jilid 6, hal 387-388, hadis nomer 4121, Terbitan Risalah A’lâmiyah, Cetakan pertama tahun 2009 M* yang di tahqiq oleh Syuaib Arnaut.
“… dari Syahr bin Hausyab dariUmmu Salamah: …….”

3.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal {lahir tahun 780-855 M} jilid 28, halaman 195-196, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakanaan ke-dua tahun 2008 M* yang disahihkan oleh Syuaib Arnaut, hadis riwayat Watsilah bin Al-Asqâ’.

4.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, {lahir tahun 780-855 M} Jilid 44, halaman 118-119, terbitan Muassasah Ar-Risalah, cetakan ke-dua tahun 2008 M, yang disahihkan oleh Syuaib Arnaut: diriwayatkan oleh Ummu Salamah.

5.  Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 11, Halaman 258, hadis nomer 13663, terbitan Dâr Al  Hadis Al-Qahirah, cetakan pertama tahun 1995 M, yang dihasankan oleh Hamzah Ahmad Zain [DL)* diriwayatkan dari anas bin malik

6.  Kitab Syarah Musykil Al Atsar, karya Abu Ja’far Ath Thahhâwi {lahir tahun 852-933 M} Jilid 8, halaman 479, terbitan Dâr Al Balansiyah cetakan pertama tahun 1999 M*
Ath Thahhâwi berkata: “Dari Anas, “Sesungguhnya Rasulullah saw  “

7.   Kitab Asy-Syari’ah, karya Âjuri  {wafat tahun 970 M} , jilid 5, hal 2208, hadis nomer 1696, terbitan Dâr Al  Al Wathan, Riyadh, cetakan. pertama tahun 1997 M, yang dihasankan oleh Muhaqiq  kitab; Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji [DL], dari riwayat Ummu Salamah.

Siapa Itu Ahlu Dzikr Yang Dimaksud Al-Qur’an?

Hal ini diperjelas lagi dengan ayat Al-Quran yang lain tentang siapa yang dapat memahami dan menafsirkan Al-Quran dengan benar.

Terdapat dalam surat An-Nahl ayat 43…

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki risalah (Ahlu Dzikr) jika kalian tidak mengetahui.”

Risalah/al-Dzikr (Pemberi Peringatan) yang dimaksud dalam ayat diatas adalah Rasulullah saww, dan orang2 yg memiliki (Ahlu Dzikr) itu adalah keluarga/Ahlulbait Rasulullah as.

Rasulullah saww ketika ditanya tentang ayat ini siapa yg dimaksud dengan Ahlu Dzikr? Beliau saww menjelaskan…

قال رسول الله صلى الله عليه و آله : الذكر أنا و الأئمة أهل الذكر

Rasulullah saww bersabda, “Yg dimaksud dengan al-Dzikr (pemberi peringatan) itu adalah aku, sedangkan para Imam adalah Ahlu Dzikr.”

Sumber : Al-Kafi jilid 1 halaman 210 hadis ke 1

Begitu juga ketika Imam Muhammad Al-Baqir as ditanya mengenai ayat tersebut, beliau as menjelaskan…

قال امام الباقر عليه السلام : نحن أهل الذكر

Imam Muhammad Al-Baqir as berkata, “Kami adalah Ahli Dzikr yg dimaksud”.

Sumber : Tafsir Thabari jilid 10 halaman 17 hadis ke 5 dan Ibnu Syahr Asyub dalam Manaqibnya jilid 4 halaman 178

Dan masalah ini dipertegas lagi dalam surat At-Thalaq ayat 10-11…

فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا
رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ…

“Maka takutlah kalian kepada Allah wahai orang-orang yang memiliki pemahaman, yang telah beriman, karena Allah sesungguhnya telah menurunkan kepada kalian Dzikr (pemberi peringatan) seorang Rasul yang membacakan atas kalian ayat-ayat Allah yg mengandung keterangan-keterangan yang jelas…”

Jadi jelas dalam firman Allah diatas bahwa Dzikr (pemberi peringatan) adalah Rasulullah saww, sedangkan Ahlu Dzikr adalah ‘Itrah Ahlulbait (para Imam Ahlulbait as) dimana Allah perintahkan bagi umat manusia untuk tempat bertanya.

Disamping penjelasan ayat-ayat dan hadis-hadis diatas, maka penjelasan hadis Shahih Ats-Tsaqolain dibawah ini semakin menegaskan bahwa Ahlulbait as itu adalah padanan Al-Qur’an, dimana keduanya adalah Tali Allah yg membentang dari langit ke bumi, dan berpegang teguh kepada Tali Allah tersebut adalah suatu kewajiban agar manusia tidak tersesat setelah wafatnya Rasulullah saww.

قال رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم : إني تارك فيكم ما أن تمسكتم به لن تضلوا بعدي، أحدهما أعظم من آخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض و عترتي أهل بيتي و لن يتفرقوا حتى يردا علي الوضع فانظروا كيف تخلفوني فيهما

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan bagi kalian yg jika berpegang teguh padanya niscaya kalian tidak akan tersesat setelah aku tiada. Yang satunya lebih besar dari yang satunya lagi, yaitu Kitabullah yang merupakan Tali yang membentang dari langit ke bumi, dan ‘Itrahku, Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga bergabung denganku di Telaga Haudh. Maka perhatikanlah bagaimana kalian bersikap terhadap keduanya sepeninggalku.”

Sumber : Sunan Turmudzi jilid 5 halaman 663 hadis ke 3788 dan Al-Kafi jilid 1 halaman 294 hadis ke 3.