1. Pendahuluan dan Tinjauan Ulang
Pertemuan ketiga ini merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai Wajibul Wujud (Keberadaan yang niscaya dan tidak bergantung pada apa pun). Sebagai pengingat, terdapat beberapa konsekuensi logis dari konsep Wajibul Wujud:
- Azali dan Abadi:
Karena tidak bergantung pada apa pun, Dia tidak pernah “tidak ada”. - Tidak Tersusun (Ghairu Murakkab):
Dia tidak terdiri dari bagian-bagian karena segala yang tersusun pasti bergantung pada bagian-bagiannya. - Tidak Terikat Ruang dan Waktu:
Segala yang terbatas oleh ruang dan waktu pasti bersifat bergantung, sedangkan Wajibul Wujud tidak terbatas. - Tidak Mengalami Perubahan:
Gerak, perubahan, dan evolusi selalu melibatkan waktu, sehingga mustahil terjadi pada Wajibul Wujud.
Secara umum, sifat Allah dibagi menjadi dua: Sifat Tsubutiyah (segala kesempurnaan yang ada pada-Nya) dan Sifat Salbiyah (penafian segala kekurangan dan keterbatasan dari-Nya).
2. Hakikat Sifat Allah: Sifat adalah Zat-Nya (Sifatullah ‘Ainu Dzatih)
Poin utama dalam kajian ini adalah membuktikan bahwa sifat-sifat Allah tidak terpisah dari zat-Nya.
Artinya, zat Allah adalah zat yang memiliki segala kesempurnaan tanpa ada pemisahan antara “zat” dan “sifat”.
Jika kita berasumsi bahwa sifat Allah terpisah dari zat-Nya, maka muncul dua kemungkinan yang secara logika tertolak:
- Sifat berada di dalam zat:
Ini akan menjadikan zat Allah bersifat heterogen atau tersusun dari bagian-bagian (sifat-sifat tersebut), padahal Wajibul Wujud mustahil tersusun karena akan menjadikannya bergantung pada bagian-bagiannya. - Sifat berada di luar zat:
- Jika sifat itu juga bersifat Wajibul Wujud, maka akan ada banyak Tuhan (berbilangnya Wajibul Wujud), yang mana hal ini mustahil.
- Jika sifat itu bersifat Mumkinul Wujud (ciptaan), berarti Allah menciptakan sifat-Nya sendiri lalu bergantung pada sifat tersebut. Ini mustahil karena Allah (Wajibul Wujud) tidak mungkin bergantung pada ciptaan-Nya.
Oleh karena itu, secara rasional terbukti bahwa sifat Allah adalah zat-Nya itu sendiri.
3. Allah sebagai Sebab Pemberi Keberadaan
Seluruh keberadaan yang bergantung disebut Mumkinul Wujud, dan rangkaian kebergantungan ini harus berakhir pada Wajibul Wujud sebagai Sebab Pemberi Keberadaan.
Berbeda dengan sebab material atau “sebab penyiap” (seperti orang tua bagi anak, atau tanah bagi tanaman), Sebab Pemberi Keberadaan memiliki keistimewaan khusus:
- Memiliki Kesempurnaan Mutlak:
Tuhan harus memiliki seluruh kesempurnaan yang ada pada makhluk-Nya dalam kualitas yang jauh lebih tinggi dan tak tertandingi. - Menciptakan dari Ketiadaan:
Hanya Allah yang mampu menciptakan dari tidak ada menjadi ada. - Pemberian yang Tidak Mengurangi Zat:
Saat memberikan anugerah atau ciptaan, tidak ada sedikit pun yang berkurang dari zat-Nya karena Dia tidak tersusun dari bagian-bagian. - Kebergantungan Mutlak:
Ciptaan selalu membutuhkan Allah setiap saat untuk tetap eksis. Kebergantungan ini bersifat mutlak, bahkan melebihi kebergantungan nyala lampu pada arus listrik.
4. Klasifikasi Sifat: Dzatiyah dan Fi’liyah
Para ulama membedakan sifat Allah menjadi dua kategori:
- Sifat Dzatiyah:
Kesempurnaan yang dipahami langsung dari zat Allah tanpa perlu menghubungkannya dengan makhluk, seperti Hayat (Hidup), Ilmu, dan Quidrah (Kuasa). - Sifat Fi’liyah:
Sifat yang dipahami dari hubungan antara zat Allah dengan makhluk-Nya, seperti Khaliq (Pencipta) dan Razak (Pemberi Rezeki). Sifat ini baru muncul ketika ada makhluk yang dicipta atau diberi rezeki.
Pemahaman ini juga menjawab polemik mengenai Al-Quran. Jika Al-Quran dipahami sebagai kemampuan bicara Allah (Sifat Dzatiyah), maka ia bersifat Qadim (abadi).
Namun, jika dipahami sebagai lafaz yang diturunkan dalam ruang dan waktu (Sifat Fi’liyah/makhluk), maka Al-Quran adalah Hadis (baru/diciptakan).
5. Penutup: Pesan dari Ahlul Bait
Berdasarkan riwayat dari para Imam Suci Ahlul Bait, ditekankan bahwa:
- Allah jauh lebih agung untuk dapat diselami hakikat zat-Nya oleh akal yang terbatas.
- Manusia dilarang menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak Dia sebutkan sendiri dalam Al-Quran.
- Allah mustahil menyerupai apa pun (Laisa kamitslihi syai’un);
Dia bukan benda, tidak memiliki gambar, dan tidak memiliki bentuk.
Kesimpulan: Seluruh konsekuensi logis dari Wajibul Wujud menafikan segala bentuk kekurangan dan kebergantungan dari Allah SWT, serta menetapkan segala kesempurnaan mutlak pada zat-Nya.

oleh Ustadz Abdillah Baabud
Judul video: Aqidah Islam Bag-3 – Sifat-sifat Allah SWT I Ustadz Abdillah Baabud I ALQURBA TV – Watch on Youtube


