1. Konteks Kajian

Ini merupakan pertemuan keempat dalam seri kajian aqidah, yang secara khusus membahas pembuktian rasional bahwa Tuhan (Wajibul Wujud) itu Esa dan tidak mungkin lebih dari satu,.
Sebelumnya, kajian telah membahas bukti keberadaan Allah, konsep Wajibul Wujud (Wujud yang tidak bergantung), serta sifat-sifat Allah.

2. Dua Dalil Utama Keesaan Allah

  • Dalil Tamannu’ (Argumen Kontradiksi):
    Berasal dari para ulama kalam (Mutakallimin) dan berpijak pada Surat Al-Anbiya ayat 22,
    لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (الأنبياء ۲۲)“Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai/mengatur ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”Logikanya adalah jika ada dua Tuhan yang sama-sama memiliki kuasa penuh, maka akan terjadi kekacauan,
    Misalnya, jika Tuhan A ingin menciptakan sesuatu sementara Tuhan B tidak, maka secara bersamaan benda itu harus ada dan tidak ada, yang merupakan sebuah kontradiksi mustahil,.
    Jika hanya kehendak salah satu yang terlaksana, maka yang kehendaknya gagal bukanlah Tuhan karena dia memiliki kelemahan.
  • Dalil Hukama (Argumen Filsuf):
    Jika terdapat dua Wajibul Wujud, maka harus ada faktor pembeda di antara keduanya agar bisa disebut “dua”,
    Adanya faktor pembeda ini meniscayakan bahwa zat Tuhan tersebut tersusun atau memiliki bagian-bagian,.
    Padahal, telah dibuktikan sebelumnya bahwa Wajibul Wujud tidak mungkin tersusun karena setiap yang tersusun pasti bergantung pada bagian-bagiannya.

3. Makna-Makna Tauhid

Keesaan Allah mencakup beberapa dimensi penting:

  • Tauhid dalam Zat:
    Allah itu satu, tidak berbilang, dan tidak tersusun dari bagian apa pun,.
    Konsekuensinya, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai atau menandingi-Nya (Laisa kamislihi syaiun),.
  • Tauhid dalam Sifat:
    Sifat-sifat Allah adalah identik dengan zat-Nya; tidak ada perbedaan antara zat dan sifat-Nya.
    Jika sifat dianggap terpisah dari zat, maka akan muncul konsep ketergantungan atau kebilangan yang mustahil bagi Tuhan.
  • Tauhid dalam Af’ali (Perbuatan):
    Hanya Allah yang dapat berbuat dan memberikan pengaruh secara independen.
    Seluruh makhluk bergantung mutlak kepada-Nya dalam segala hal, termasuk dalam daya dan kekuatan (La haula wala quwwata illa billah),. Dialah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta.
  • Tauhid dalam Ibadi (Ibadah):
    Karena hanya Allah yang Maha Sempurna dan tempat bergantung segala sesuatu, maka hanya Dia yang layak disembah (Iyyaka na’budu),.

4. Keterbatasan Akal dalam Menjangkau Zat Allah

Akal manusia mampu sampai pada keyakinan bahwa Tuhan itu ada dan Esa, namun akal memiliki kapasitas terbatas sehingga tidak akan pernah mampu menjangkau hakikat zat Allah,.
Mengetahui bahwa kita tidak mampu menjangkau zat-Nya adalah bagian dari kebenaran rasional, karena yang terbatas (manusia) tidak mungkin melingkupi yang tidak terbatas (Allah),.

5. Pesan dari Ahlul Bait

Kutipan dari para Imam Suci:

  • Imam Ali bin Abi Thalib as.:
    Berpesan agar manusia tidak membayangkan zat Allah dengan daya pikir yang terbatas dan tidak menuduh Allah tidak adil hanya karena keterbatasan ilmu manusia dalam memahami hikmah di balik peristiwa dunia,.
  • Imam Baqir as. & Imam Shadiq as.:
    Menganjurkan manusia untuk merenungi keagungan Allah melalui ciptaan-Nya daripada menghabiskan waktu berdiskusi tentang zat-Nya yang berada di luar kapasitas logika manusia,.
    Jika seseorang mencoba membahas zat Allah, cukup katakan bahwa Dia Esa dan tidak seperti apa pun.

Dalil Rasional Ke Esaan Allah

Bersama Ust. Abdillah Ba’abud

Judul video: Aqidah Islam Bag-4 – Dalil-dalil Ke-Esaan Allah SWT I Ustadz Abdillah Baabud I ALQURBA TV – Watch on Youtube

Yuk Subscribe Channel ALQURBA TV:
Subscribe Channel ALQURBA TV

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us