Aqidah yang Rasional
Kajian ini menyajikan materi aqidah praktis yang sederhana agar dapat dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari yang muda hingga orang tua.
Dalam pandangan ajaran Ahlul Bait, masalah aqidah adalah hal mendasar (fundamental) yang harus diyakini berdasarkan dalil-dalil dan bukti rasional.
Seorang Muslim tidak dibenarkan hanya mengikuti (taklid) keyakinan orang lain atau orang tuanya dalam hal aqidah, melainkan harus memiliki keyakinan yang berdasar pada bukti yang mendatangkan kemantapan hati.
Empat Pertanyaan Fundamental Manusia
Terdapat empat pertanyaan universal yang menjadi masalah paling mendasar dalam kehidupan setiap manusia:
- Dari mana kita berasal?
- Di mana kita berada sekarang?
- Bagaimana kita mengisi kehidupan ini?
- Ke mana kita akan pergi dan apa yang terjadi setelah kematian?
Pertanyaan-pertanyaan ini diibaratkan seperti seseorang yang baru siuman dari pingsan; hal pertama yang ia tanyakan adalah keberadaannya, asalnya, dan tujuannya.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi prinsip hidup, ideologi, dan konsep yang mengikat pemikiran serta perilaku seseorang.
Definisi dan Unsur Utama Aqidah
Aqidah adalah rangkaian jawaban atas masalah-masalah fundamental tersebut.
Dalam ajaran Ahlul Bait, jawaban ini terangkum dalam lima prinsip (Ushuluddin):
Tauhid, Adalah (Keadilan Ilahi), Nubuwwah (Kenabian), Imamah (Kepemimpinan), dan Ma’ad (Hari Kebangkitan).
Secara ringkas, setiap Nabi membawa tiga dakwah utama yang sama, yaitu:
- Tauhid: Keyakinan akan keberadaan dan keesaan Tuhan beserta sifat-sifat-Nya.
- Nubuwwah: Keyakinan akan adanya pemberi petunjuk (Nabi, Rasul, dan Imam).
- Ma’ad: Keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian.
Pembuktian Sederhana Keberadaan Tuhan (Burhan Syukur Nikmat)
Untuk membuktikan keberadaan Tuhan, kita dapat menggunakan logika sederhana yang disebut para ulama sebagai Burhan Syukur Nikmat.
Berdasarkan Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 78, manusia lahir dari rahim ibu dalam keadaan tidak tahu apa-apa, lalu Allah memberikan pendengaran, penglihatan, dan akal.
Keberadaan diri kita, panca indera, instalasi pencernaan, hingga oksigen dan air di luar diri kita adalah anugerah mutlak yang tersedia tanpa campur tangan atau desain kita sendiri.
Jika kita tidak meragukan keberadaan nikmat-nikmat tersebut, maka secara logika kita tidak punya alasan untuk meragukan adanya Sang Pemberi Nikmat (Tuhan).
Catatan Logika tentang Penciptaan
- Ketiadaan Pengakuan Lain:
Dalam sejarah, tidak ada zat selain Allah yang berani mengaku sebagai Pencipta langit dan bumi. Jika ada yang mengaku tuhan, seperti Namrud, ia dengan mudah terbukti sebagai pendusta ketika ditantang untuk mengubah arah terbit matahari. - Mustahil Menciptakan Diri Sendiri:
Sesuatu tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Secara logika, ketiadaan tidak mungkin menghasilkan keberadaan. Jika sesuatu sudah ada, ia tidak perlu menciptakan dirinya lagi; dan jika ia belum ada, ia tidak bisa bertindak untuk menciptakan apa pun. - Kebutuhan Manusia akan Bukti:
Tuhan yang Maha Sempurna sebenarnya tidak membutuhkan bukti, namun manusialah yang membutuhkan bukti untuk meyakini-Nya karena keterbatasan akal manusia.
Sifat Allah: Antara yang Nampak dan Tersembunyi
Allah disifati sebagai Yang Awal, Yang Akhir, Yang Dzahir (Nampak), dan Yang Batin (Tersembunyi). Allah menjadi “Batin” justru karena Ia terlalu “Dzahir” atau terlalu nyata.
Diibaratkan dengan warna putih; jika seluruh alam semesta berwarna putih tanpa ada warna lain sebagai pembatas, maka kita justru akan kehilangan pemahaman tentang dimensi warna putih itu sendiri.
Karena keberadaan Allah begitu mutlak dan ada di mana-mana, terkadang manusia yang terbatas justru luput menyadarinya.

Bersama: oleh Ust. Abdillah Ba’abud
Judul video: Kajian Aqidah Islam (Sesi 1) | Ust. Abdillah Ba’abud – Watch on Youtube
Yuk Subscribe Channel ALQURBA TV:

#dasaragama #akidahislam #tauhid #keberadaantuhan #ALQURBATV

