19 October 2026

1. Rujukan Pertama: Kitab Al-Jami’ As-Sahih (Sahih Al-Bukhari)

Pembahasan diawali dengan merujuk pada kitab Al-Jami’ As-Sahih atau yang lebih dikenal dengan Sahih Al-Bukhari, Jilid ke-3, terbitan Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah (cetakan pertama, tahun 2011 M / 1432 H), halaman 591.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau menceritakan saat Rasulullah SAW diberi sepotong daging dan mengangkat bagian lengannya.
Beliau bersabda bahwa beliau adalah pemimpin seluruh manusia pada hari kiamat. Pada hari itu, Allah akan mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir di satu tanah lapang.
Suasana sangat mencekam: penyeru terdengar, pandangan menembus, serta matahari mendekat sehingga duka dan kesusahan manusia mencapai batas yang tidak sanggup dipikul.

Manusia kemudian saling mengajak untuk mencari pertolongan kepada para nabi:

  • Nabi Adam a.s.:
    Manusia mendatangi Nabi Adam a.s. sebagai bapak manusia yang diciptakan langsung dengan tangan Allah dan ditiupkan ruh padanya.
    Namun, Nabi Adam a.s. menyampaikan bahwa Tuhannya saat itu sangat murka—kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi setelahnya.
    Beliau teringat larangan mendekati pohon yang telah dilanggar, sehingga beliau tidak dapat memberikan syafaat dan menyarankan manusia mendatangi Nabi Nuh a.s..
  • Para Nabi Ulul ‘Azmi:
    Pada halaman 592, manusia mendatangi Nabi Nuh a.s., tetapi beliau mengarahkan mereka kepada Nabi Ibrahim a.s..
    Nabi Ibrahim a.s. mengarahkan kepada Nabi Musa a.s., Nabi Musa a.s. mengarahkan kepada Nabi Isa a.s., dan akhirnya Nabi Isa a.s. menyerahkan sepenuhnya kepada Rasulullah SAW dengan berkata: “Ithabu ila Muhammad” (Pergilah kalian kepada Nabi Muhammad SAW).
  • Rasulullah SAW:
    Para nabi (Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa a.s.) tidak dapat memberikan syafaat pada saat itu. Ketika manusia menemui Nabi Muhammad SAW dan menyebutkan kemuliaan beliau sebagai utusan Allah yang diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun terkemudian, Rasulullah SAW tersungkur sujud di bawah ‘Arsy Tuhannya.
    Dikatakan kepada beliau: “Ya Muhammad, irfa’ ra’saka…” (Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah niscaya diberikan, dan berilah syafaat niscaya diizinkan). Beliau mengangkat kepalanya dan memohon: “Ummati ya Rabbi, ummati ya Rabbi” (Umatku ya Allah, umatku ya Allah).

Dari riwayat ini terlihat keagungan Rasulullah SAW dibandingkan para nabi lainnya, di mana para nabi yang memiliki hak syafaat dari Allah justru menyerahkan seluruh poros syafaat tersebut kepada Rasulullah SAW.


2. Rujukan Kedua: Kitab Thariq Al-Hijratain karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Rujukan kedua diambil dari kitab Thariq Al-Hijratain karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (murid Ibnu Taimiyah), terbitan Darul Bayan Al-‘Arabi (tahun 2006 M), halaman 320.

Dalam kitab ini, Ibnu Qayyim menjelaskan keutamaan dan kemuliaan para nabi:

  • Keutamaan Para Nabi:
    Cukuplah kemuliaan mereka (wa yakfi fi fadlihim wa syarafihim) bahwa Allah mengkhususkan mereka dengan wahyu-Nya, menjadikan mereka pengemban amanat risalah, serta perantara (wasilah) antara Allah dan hamba-hamba-Nya.
  • Karamah Khusus:
    Allah menganugerahkan kemuliaan khusus, seperti Nabi Ibrahim a.s. yang diangkat sebagai Khalilullah (kekasih Allah) dan Nabi Musa a.s. yang diajak bicara langsung (Kalimullah).
  • Perantara Kebaikan:
    Seluruh kebaikan dunia dan akhirat (khoirud dunya wal akhirah) didapatkan hamba-hamba Allah melalui perantara tangan para nabi.
    Kedudukan mereka adalah yang paling dekat wasilah-nya, paling tinggi derajatnya, paling dicintai, dan paling mulia di sisi Allah.
  • Poros Syafaat:
    Sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Asy-Syura ayat 13, para nabi Ulul ‘Azmi menjadi poros syafaat yang pada akhirnya menyerahkan syafaat tersebut kepada penutup dan nabi paling mulia (Afdhalul Anbiya’), yaitu Rasulullah SAW.

3. Kesimpulan Utama Pemateri Video

Dari pemaparan teks-teks kitab di atas, pemateri menyimpulkan dua poin penting:

  1. Kebaikan Melalui Perantara Nabi:
    Segenap makhluk memperoleh kebaikan dunia maupun akhirat—termasuk karamah—melalui perantara tangan para nabi, khususnya umat Nabi Muhammad SAW melalui beliau.
    Walaupun Rasulullah SAW telah wafat, beliau masih menyaksikan umatnya dan menjadi wasilah bagi hamba menuju Allah SWT.
  2. Sanggahan Terhadap Pandangan Tanpa Wasilah:
    Pernyataan Ibnu Qayyim menjadi sanggahan bagi pihak yang beranggapan bahwa manusia dapat memperoleh sesuatu langsung tanpa melalui perantara para nabi.
    Penjelasan Ibnu Qayyim menegaskan bahwa kebaikan dunia dan akhirat tidak didapatkan kecuali melalui para nabi, sehingga ketika bermohon kepada Allah SWT, hendaknya berwasilah melalui Rasulullah SAW.

Dalil2 Syafaat dan Wasilah Para Nabi

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad

—

Video sumber: Dalil-dalil Channel, Yuk Subscribe Dalil-dalil Channel:
Subscribe Channel Dalil-dalil Channel

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us