Rujukan Kitab dan Teks Hadis yang Dibahas
Penjelasan diawali dengan merujuk kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah karya Muhammad Nashiruddin al-Albani, jilid kelima, yang diterbitkan oleh Maktabah al-Ma’arif di Riyadh, Arab Saudi, pada tahun 1995 Masehi atau 1415 Hijriah.
Pada halaman 261, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalih:
“Apa yang kalian inginkan dari Ali? Sesungguhnya Ali berasal dariku dan aku berasal darinya, dan dia adalah pemimpin (wali) bagi setiap orang beriman sepeninggalku.”.
Jalur Periwayatan dan Penilaian Perawi
Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi dan juga diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i melalui jalur periwayatan Ja’far bin Sulaiman adh-Dhuba’i.
Al-Albani menerangkan bahwa hadis ini juga memiliki jalur periwayatan penguat lain yang diriwayatkan melalui Ajlah al-Kindi. Kedua tokoh inilah yang menjadi pokok bahasan.
Pada halaman 262, Al-Albani menyatakan bahwa sanad dari jalur Ajlah berstatus hasan. Para perawinya dinilai terpercaya dan merupakan perawi dua kitab sahih (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim), selain sosok Ajlah al-Kindi (putra dari Abdullah al-Kindi).
Status Ajlah sendiri diperselisihkan oleh para ulama; ada yang mensahihkannya dan ada pula yang mendhaifkannya. Namun, dalam kitab Taqrib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Hajar menegaskan bahwa Ajlah adalah seorang Syiah yang jujur.
Kaidah Al-Albani Mengenai Perawi Syiah
Al-Albani kemudian menguraikan sebuah pertanyaan retoris: jika ada yang mempertanyakan bahwa perawi pada jalur penguat (Ajlah) adalah seorang Syiah, dan perawi pada sanad pertama (Ja’far bin Sulaiman) juga seorang Syiah—di mana jalur Ajlah memperkuat riwayat Ja’far—apakah keterlibatan perawi Syiah tersebut tidak dianggap sebagai cela atau kecacatan dalam periwayatan?.
Al-Albani menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah cela.
Beliau menjelaskan bahwa tolak ukur utama dalam penerimaan periwayatan hadis adalah kejujuran dan ketelitian (kekuatan hafalan), sedangkan mazhab yang diyakini perawi adalah urusan pribadi antara dirinya dengan Tuhannya.
Berdasarkan kaidah itulah para penyusun kitab sahih, yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim, tetap meriwayatkan hadis dari perawi-perawi terpercaya yang akidahnya bertentangan dengan Ahlussunnah (dalam pandangan Al-Albani), seperti kaum Khawarij dan kaum Syiah.
Penilaian Ibnu Hibban dan Praktik Ulama Hadis
Sebagai bukti konkret, hadis yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Sulaiman tersebut telah disahihkan oleh Ibnu Hibban.
Bersamaan dengan pensahihan itu, dalam kitabnya yang berjudul Masyahir Ulama al-Amshar, Ibnu Hibban mencatat bahwa Ja’far bin Sulaiman berpaham Syiah, bahkan berlebihan dalam kesyiahannya, namun hadis yang diriwayatkannya tetap dinilai sahih.
Hal ini membuktikan bahwa perawi yang bermazhab Syiah tetap diterima riwayatnya oleh Al-Albani.
Bahkan yang lebih istimewa, Ibnu Hibban memasukkan perawi Syiah ke dalam kitabnya, Ats-Tsiqat, yaitu kitab yang secara khusus hanya memuat perawi-perawi yang terpercaya.
Demikian pula Imam Bukhari dan Imam Muslim banyak meriwayatkan hadis dari para perawi bermazhab Syiah, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Albani dalam kitabnya.

Video sumber: Dalil-dalil Channel

