15 October 2026

“Mereka Memberi Petunjuk dengan Perintah Kami”

Setelah QS al-Baqarah 2:124 menjelaskan bahwa Imamah adalah:

«عَهْدِي»

“Perjanjian-Ku,”

dan bahwa Allah sendiri yang berkata:

«إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا»

“Sesungguhnya Aku menjadikanmu Imam bagi manusia,”

sekarang pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting:

APA SEBENARNYA FUNGSI SEORANG IMAM?

Apakah Imam hanya orang yang berdiri paling depan ketika salat?

Apakah ia sekadar kepala pemerintahan?

Apakah ia tokoh agama yang pendapatnya dihormati?

Ataukah Al-Qur’an memberikan fungsi yang jauh lebih dalam?

Allah SWT berfirman mengenai Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub dalam QS al-Anbiya 21:73:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ»

“Dan Kami menjadikan mereka para Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami. Dan Kami wahyukan kepada mereka perbuatan-perbuatan kebajikan, penegakan salat dan pemberian zakat; dan mereka adalah orang-orang yang beribadah kepada Kami.”

Al-Tabari menjelaskan bahwa Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub dijadikan Allah sebagai para Imam yang dicontoh dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah; mereka membimbing manusia dengan perintah Allah dan menyeru kepada-Nya serta kepada ibadah kepada-Nya.

Ayat ini sangat penting karena ia memberi kita tiga unsur dasar:

«جَعَلْنَاهُمْ» (Kami menjadikan mereka).

«أَئِمَّةً» (para Imam).

«يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا» (mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami).

Sumber Imamah: Allah.

Fungsi Imam: hidayah.

Cara Imam memberi hidayah: dengan perintah Allah.

Di sinilah Imamah mulai tampak bukan sebagai teori suksesi politik, tetapi sebagai:

SISTEM PETUNJUK ILAHI.

—

SEKALI LAGI: “KAMI MENJADIKAN MEREKA”

Perhatikan bagaimana bahasa QS 21:73 mengulang pola QS 2:124.

Kepada Ibrahim:

«إِنِّي جَاعِلُكَ» (“Aku menjadikanmu…”)

Sekarang terhadap Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub:

«وَجَعَلْنَاهُمْ» (“Dan Kami menjadikan mereka…”)

Kata dasarnya sama:

«جَعَلَ» (menjadikan).

Ini sangat penting.

Imam tidak lahir dari deklarasi dirinya sendiri.

Tidak karena orang banyak berteriak: “Engkau Imam!”

Tidak karena berhasil menguasai negara.

Tidak karena ayahnya seorang raja.

Tidak karena mempunyai tentara terbesar.

Al-Qur’an terus mengembalikan Imamah kepada:

JA‘L ALLAH. Allah yang menjadikan.

Manusia mengakui atau menolak.

Tetapi penolakan manusia tidak mengubah sumber maqam tersebut.

—

IMAM BUKAN SEKADAR ORANG YANG “DIIKUTI”

Secara umum, Imam memang berarti manusia yang berada di depan dan diikuti.

Karena itu al-Tabari menjelaskan:

«mereka dijadikan Imam agar dicontoh dan diikuti dalam ketaatan kepada Allah.

Ibn Kathir juga menjelaskan:

«أَئِمَّةً» – sebagai orang-orang yang dijadikan teladan,

dan:

«يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا» – sebagai orang yang menyeru kepada Allah dengan izin-Nya.

Tetapi Al-Qur’an tidak berhenti:

“mereka diikuti.”

Ia menjelaskan: mengapa mereka diikuti.

Karena:

«يَهْدُونَ» (mereka memberi petunjuk).

Seorang manusia dapat diikuti karena:

  • kekuasaan,
  • ketakutan,
  • popularitas,
  • kekayaan,
  • atau karisma.

Tetapi Imam Qur’ani diikuti karena:

IA MEMBAWA HIDAYAH.

—

INI MEMBEDAKAN IMAM DARI PENGUASA BIASA

Penguasa mempunyai fungsi administratif.

Ia dapat:

  • mengatur pajak,
  • membuat kebijakan,
  • menjaga keamanan,
  • mengelola negara.

Semua itu penting.

Tetapi Imam dalam QS 21:73 mempunyai fungsi yang lebih mendasar:

«يَهْدُونَ» – memberi petunjuk.

Artinya keberhasilan Imam tidak pertama-tama diukur dari:

  • berapa luas wilayah kekuasaannya,
  • berapa banyak pasukannya,
  • berapa besar kekayaan negaranya.

Tetapi:

APAKAH IA MEMBAWA MANUSIA KEPADA ALLAH?

Ini mengubah seluruh cara kita membaca sejarah.

Ibrahim tidak menjadi besar karena mempunyai istana.

Ya‘qub tidak dikenal sebagai kaisar.

Tetapi Al-Qur’an menyebut mereka:

Imam.

Mengapa?

Karena: mereka memberi petunjuk.

—

IMAMAH ADALAH KEPEMIMPINAN PETUNJUK

Ini mungkin definisi yang paling sederhana.

Kalau:

  • Raja memimpin negara,
  • panglima memimpin tentara,
  • guru memimpin kelas,

maka Imam Ilahi:

MEMIMPIN MANUSIA DALAM PETUNJUK.

Ia tidak hanya mengatakan: “Jalan itu ada di sana.”

Ia berjalan di depannya.

Tidak hanya memberi teori.

Ia menjadi manifestasi hidup dari jalan tersebut.

Karena itu seorang Imam harus:

  • berilmu,
  • bersih, dan
  • terjaga.

Bagaimana mungkin manusia menjadi pemandu jalan kalau dirinya sendiri tidak mengetahui jalan?

Bagaimana menjadi contoh jika dirinya dapat tersesat?

Di sini ‘ishmah dan ilmu kembali menjadi kebutuhan fungsional.

—

KATA YANG PALING DALAM: BI-AMRINĀ

Allah tidak hanya berkata:

«يَهْدُونَ» (“mereka memberi petunjuk.”)

Tetapi:

«بِأَمْرِنَا» (“dengan perintah Kami.”)

Inilah inti ayat.

Hidayah Imam bukan: proyek pribadinya.

Bukan: pendapat subjektif.

Bukan: ideologi ciptaannya.

Ia membimbing:

DENGAN AMR ALLAH.

Al-Tabari memahami frasa itu sebagai: mereka membimbing manusia sesuai perintah Allah kepada mereka, menyeru manusia kepada Allah dan ibadah kepada-Nya.

Ini sudah sangat besar.

Seorang Imam bukan orang yang berkata:

“Menurutku agama harus begini.”

Ia berkata:

“Inilah perintah Allah.”

—

DALAM TRADISI AHLUL BAIT, “BI-AMRINĀ” MEMPUNYAI KEDALAMAN LEBIH JAUH

Tradisi Imamiyah membaca:

«يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

bukan sekadar:

“mereka mengajarkan perintah Allah.”

Tetapi juga sebagai sebuah maqam hidayah yang mempunyai hubungan khusus dengan:

«أَمْرُ اللَّهِ»

amr Allah.

Allamah Thabathaba’i membedakan hidayah Imam dari sekadar irā’atu al-tharīq—menunjukkan jalan secara verbal.

Dalam pembacaan beliau, hidayah bi-amrillah mempunyai kedalaman eksistensial: Imam bukan hanya mengatakan di mana jalan berada, tetapi menjadi perantara hidayah Ilahi sesuai amr Allah, tentu seluruhnya karena izin dan kuasa-Nya.

Kita harus sangat berhati-hati memahami gagasan ini.

Bukan berarti Imam mempunyai kuasa independen untuk memasukkan hidayah ke hati manusia sesuka hati.

Allah tetap:

AL-HĀDĪ. Sumber seluruh petunjuk.

Tetapi sebagaimana Rasul menjadi medium penyampaian wahyu, Imam dapat menjadi medium hidayah yang Allah tetapkan.

Jadi: Allah memberi petunjuk.

Imam: membimbing dengan perintah Allah.

—

“BI-AMRINĀ” MENUTUP PINTU KULTUS

Kalimat pendek ini sangat penting untuk menjaga tauhid.

Bila Imam memberi petunjuk:

«بِأَمْرِنَا» – dengan perintah Kami.

Bukan: «“dengan kekuasaan independennya.”»

Bila Imam mengetahui: Allah mengajarkan.

Bila Imam mempunyai wilayah: Allah memberikan.

Bila Imam mempunyai kemampuan: Allah mengizinkan.

Tidak ada titik tempat Imam keluar dari: ‘ubudiyyah.

Justru semakin tinggi maqam Imam:

semakin sempurna penghambaan kepada Allah.

—

AYAT DITUTUP: “MEREKA ADALAH HAMBA KAMI”

Perhatikan penutup ayat:

«وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ»

“Dan mereka adalah orang-orang yang beribadah kepada Kami.”

Setelah Allah mengatakan:

  • mereka Imam,
  • memberi petunjuk,
  • mendapat wahyu tentang kebaikan,
  • salat,
  • dan zakat,

Allah menutup dengan:

HAMBA.

Mereka:

«عَابِدِينَ» (beribadah kepada Allah)

Inilah keseimbangan Al-Qur’an yang sangat indah.

Maqam mereka tinggi.

Tetapi mereka: hamba.

Mereka membimbing manusia.

Tetapi mereka: menyembah Allah.

Mereka mempunyai otoritas.

Tetapi: Allah adalah Tuhan mereka.

Setiap konsep Imamah yang membuat penghambaan Imam menjadi kabur berarti telah meninggalkan ujung ayat itu sendiri.

—

IMAM TIDAK MENYERU MANUSIA KEPADA DIRINYA

Imam yang benar berkata:

Datanglah kepada Allah. Bukan: “Sembahlah aku.”

Ali tidak mengajak manusia meninggalkan Muhammad.

Ia menjaga Muhammad.

Hasan tidak membangun agama Hasan.

Husain tidak mati agar dirinya dijadikan Tuhan.

Ja‘far ash-Shadiq tidak membangun wahyu baru.

Mereka semua berada di bawah:

«وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ»

Mereka adalah hamba-hamba Allah.

Maka wilayah yang benar tidak menjauhkan dari tauhid.

Ia justru memperdalam: tauhid.

—

BAHKAN “FELAKAN KEBAIKAN” MEREKA BERASAL DARI WAHYU ALLAH

Ayat melanjutkan:

«وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ»

“Kami wahyukan kepada mereka perbuatan-perbuatan kebaikan.”

Kemudian:

«وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ» (“penegakan salat dan pemberian zakat.”)

Ini menarik.

Imam bukan hanya: orang yang mengetahui kebaikan.

Allah menghubungkan hidupnya dengan: perbuatan kebaikan.

Ilmu Imam tidak berhenti di kepala.

Ia menjadi: amal.

Karena itu Imamah tidak dapat dipisahkan dari: akhlak.

—

“FI‘L AL-KHAYRĀT” BUKAN HANYA “KAMI PERINTAHKAN MEREKA BERBUAT BAIK”

Ungkapan:

«وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ»

memiliki susunan yang indah.

Tidak sekadar:

“kami mewahyukan kepada mereka: berbuat baiklah.”

Tetapi: Kami mewahyukan kepada mereka perbuatan kebaikan.

Seolah kebaikan telah begitu menyatu dalam diri para Imam sehingga hidup mereka menjadi manifestasi:

amal saleh.

Mereka tidak hanya mengajar kebaikan.

Mereka melakukannya.

Ibn Kathir bahkan menutup penjelasan ayat ini dengan makna bahwa mereka melakukan apa yang mereka perintahkan manusia lakukan.

Ini syarat pemimpin sejati.

—

IMAM YANG MEMERINTAHKAN SESUATU TETAPI SENDIRI MELANGGARNYA TELAH GAGAL MENJADI TELADAN

Bayangkan seorang pemimpin agama berkata:

“Jangan korupsi.” Tetapi ia sendiri korup.

“Berlaku adillah.” Tetapi ia nepotis.

“Jaga amanah.” Tetapi ia berkhianat.

Secara administratif mungkin tetap memegang jabatan.

Tetapi bagaimana ia menjadi:

«إِمَامًا» – teladan yang diikuti?

QS 21:73 menghubungkan:

Imamah dengan fi‘l al-khayrat.

Maka moralitas Imam bukan aksesoris.

Ia adalah:

BAGIAN DARI FUNGSI IMAMAH.

—

INI KEMBALI MENJELASKAN ‘ISHMAH

Mengapa Imam harus maksum?

Bukan karena kita ingin mempunyai manusia sempurna untuk dibanggakan.

Tetapi karena Imam adalah: teladan petunjuk.

Kalau ia berkata satu hal dan melakukan kebalikannya: petunjuk rusak.

Kalau dapat berbuat zalim, bagaimana menjadi contoh?

Kalau dapat menyesatkan, bagaimana umat diminta mengikuti?

Maka QS 21:73 bertemu dengan QS 2:124:

«لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ» – (Orang zalim tidak menerima ‘ahd Imamah).

Dan di sini:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا» – Mereka dijadikan Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Allah.

Kualifikasinya semakin jelas.

—

ADA IMAM YANG MEMBAWA KE SURGA—DAN ADA IMAM YANG MEMBAWA KE NERAKA

Ini salah satu kenyataan Qur’ani yang sangat penting.

Kata:

«إِمَام»

sendiri tidak otomatis berarti: “orang suci.”

Al-Qur’an juga berkata tentang Fir‘aun dan pemimpin-pemimpin kesesatan:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ» – “Dan Kami jadikan mereka imam-imam yang menyeru kepada neraka.”

QS al-Qasas 28:41.

Jadi ada IMAM HUDA. Dan ada IMAM DHALALAH.

Pemimpin petunjuk. Pemimpin kesesatan.

Ini sangat penting.

Karena hanya berkata: “Dia Imam,” belum cukup.

Pertanyaannya:

IMAM KE MANA?

—

DUA JENIS IMAM DALAM TRADISI AHLUL BAIT

Al-Kafi mempunyai bab khusus:

«“Dua jenis Imam disebut dalam Kitab Allah: Imam yang menyeru kepada Allah dan Imam yang menyeru kepada neraka.”

Dalam sebuah riwayat dari Imam ash-Shadiq as dijelaskan:

Allah berfirman mengenai Imam petunjuk:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

Mereka mendahulukan: perintah Allah atas perintah mereka sendiri,

dan:

hukum Allah atas hukum mereka sendiri.

Sedangkan mengenai Imam kesesatan:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ»

mereka mendahulukan: perintah mereka sendiri atas perintah Allah,

dan

keinginan mereka atas Kitab Allah.

Ini merupakan salah satu definisi paling cerdas mengenai dua jenis kepemimpinan.

—

PERBEDAANNYA BUKAN PADA GELAR, TETAPI ARAH

Keduanya dapat mempunyai:

  • pengikut.
  • Kekuasaan.
  • Pidato.
  • Simbol agama.

Tetapi satu berkata:

“APA PERINTAH ALLAH?”

Yang lain:

“BAGAIMANA AGAMA DAPAT DISESUAIKAN DENGAN PERINTAHKU?”

Itulah perbedaannya.

Imam petunjuk: menundukkan dirinya kepada wahyu.

Imam kesesatan: menundukkan wahyu kepada dirinya.

Yang satu: membawa manusia kepada Allah.

Yang lain: membawa manusia kepada kekuasaan dan hawa nafsunya.

—

SEORANG PENGUASA DAPAT MEMAKAI AYAT, TETAPI TETAP MENJADI IMAM KESESATAN

Inilah mengapa simbol agama tidak cukup.

Fir‘aun pun mempunyai struktur kekuasaan.

Penguasa zalim dapat:

  • membangun masjid,
  • mempunyai ulama,
  • mengutip Al-Qur’an, dan
  • memakai slogan Islam.

Tetapi kalau:

  • kehendaknya mendahului Allah,
  • keadilan dikorbankan,
  • agama dipelintir demi politik,

ia tidak menjadi Imam petunjuk hanya karena mempunyai gelar agama.

Ukuran QS 21:73:

«بِأَمْرِنَا» – dengan perintah Kami.

—

“BI-AMRINĀ” ADALAH FILTER TERHADAP SELURUH KEPEMIMPINAN

Kalau kita ingin menilai seorang pemimpin:

tanyakan:

Apakah ia mendahulukan: perintah Allah atau kepentingannya?

Apakah ketika hukum Allah bertabrakan dengan egonya: ia tunduk?

Atau mencari penafsir untuk membenarkan dirinya?

Apakah kekuasaan dipakai untuk: keadilan?

Atau agama dipakai untuk: kekuasaan?

Maka QS 21:73 bukan hanya ayat tentang masa lalu.

Ia adalah:

UKURAN KEPEMIMPINAN SEPANJANG ZAMAN.

—

TETAPI IMAM ILAHI MEMPUNYAI SESUATU LEBIH DARI SEKADAR PEMIMPIN SALEH

Ada banyak orang saleh.

Banyak ulama.

Banyak pemimpin adil.

Apakah semuanya Imam dalam maqam QS 2:124 dan 21:73?

Tidak.

Karena ayat mengatakan:

«وَجَعَلْنَاهُمْ» – Kami menjadikan mereka.

Jadi ada perbedaan antara:

orang yang secara moral layak diteladani

dan

orang yang Allah tetapkan pada maqam Imamah.

Seorang alim saleh dapat menjadi teladan.

Tetapi tidak otomatis mempunyai:

«عَهْدِي» – ‘ahd Allah.

Maka konsep Imamah tetap mempunyai:

dimensi penunjukan Ilahi.

—

INI JUGA MENJELASKAN KENAPA ULAMA TIDAK OTOMATIS MENJADI IMAM

Seorang ulama dapat:

  • berilmu,
  • saleh,
  • adil.

Tetapi tetap: tidak maksum.

  • Dapat salah dalam ijtihad.
  • Dapat berubah pendapat.
  • Dapat tidak mengetahui satu hal.

Ini tidak mengurangi kehormatannya.

Tetapi Imam Ilahi mempunyai fungsi yang berbeda.

Ia adalah:

HUJJAH.

Maka harus ada:

  • penunjukan,
  • ilmu,
  • kesucian, dan
  • hidayah bi-amrillah.

—

APA PERBEDAAN HĀDĪ DAN IMAM?

Setiap Imam Ilahi adalah:

hadi.

Tetapi tidak setiap orang yang memberi petunjuk dalam pengertian umum otomatis menjadi Imam Ilahi.

  • Seorang guru dapat memberi petunjuk.
  • Ulama dapat memberi nasihat.
  • Seorang sahabat dapat menunjukkan jalan.

Tetapi Imam dalam QS 21:73: Allah sendiri yang menjadikannya

dan hidayahnya:

«بِأَمْرِنَا»

Dengan demikian: hidayah adalah fungsi,

sedangkan: Imamah adalah maqam yang ditetapkan.

—

AYAT INI BERBICARA TENTANG IBRAHIM, ISHAQ, DAN YA‘QUB—BUKAN LANGSUNG DUA BELAS IMAM

Sekali lagi disiplin harus dijaga.

QS 21:73 secara langsung berbicara mengenai para nabi yang disebut pada ayat sebelumnya:

Jangan berkata:

“QS 21:73 secara literal adalah tentang Imam Ali dan sebelas Imam setelahnya.”

Tidak.

Fungsi ayat bagi teologi Ahlul Bait adalah:

MENJELASKAN POLA IMAMAH ILAHI.

Allah menjadikan Imam.

Imam memberi petunjuk.

Hidayahnya dengan perintah Allah.

Imam menjadi contoh amal.

Kemudian kita bertanya:

Apakah pola yang sama berlanjut dalam umat Muhammad?

Tradisi Ahlul Bait menjawab:

ya.

—

IMAM AL-BAQIR DAN IMAM ASH-SHADIQ MEMBACA AYAT INI SEBAGAI POLA PARA IMAM

Literatur Imamiyah menghubungkan ayat tersebut dengan konsep para Imam dari Ahlul Bait.

Dalam surat yang dinisbatkan kepada Imam ash-Shadiq kepada para pengikutnya, QS 21:73 digunakan untuk menjelaskan para Imam yang wilayah dan ketaatannya diperintahkan Allah, dibedakan dari para pemimpin kesesatan yang membawa manusia menjauh dari-Nya.

Ini adalah:

jary dan penerapan pola Qur’ani.

Bukan penghapusan konteks Ibrahim.

Pola pertama: Ibrahim dan keturunannya.

Pola lanjutan: Muhammad dan Ahlul Baitnya.

—

KENAPA POLA ITU BISA BERLANJUT?

Karena kita telah melihat pada QS 2:124:

Ibrahim meminta:

«وَمِنْ ذُرِّيَّتِي»

dan Allah tidak menolak kesinambungan Imamah dalam keturunannya.

Yang ditolak adalah:

«الظَّالِمِينَ» – orang zalim.

Muhammad SAW adalah keturunan Ibrahim melalui Ismail.

Maka secara teologis:

tidak ada masalah dengan gagasan bahwa ‘ahd Imamah terus hadir dalam keturunan Ibrahim melalui garis Muhammad.

Tinggal dibuktikan: siapa manusia yang Allah pilih?

Dan untuk itu kita mempunyai jaringan dalil Ahlul Bait.

—

“MEREKA MEMBERI PETUNJUK”—BUKAN SEKADAR MEMILIKI GELAR

Ini juga menjadi kritik kepada keberagamaan simbolik.

Tidak cukup berkata: “Aku Imam.”

Tidak cukup mempunyai:

  • nasab.
  • Jubah.
  • Gelar.
  • Kursi.
  • Pengikut.

Fungsi Imam:

«يَهْدُونَ» – membimbing.

Maka Imam sejati menghasilkan:

  • manusia yang lebih dekat kepada Allah,
  • lebih adil,
  • lebih berilmu,
  • lebih bersih.

Kalau seorang pemimpin agama justru membawa pengikutnya kepada:

  • kebencian,
  • kebodohan,
  • kemaksiatan,
  • kultus pribadi, dan:
  • kezaliman,

kita harus berani bertanya:

hidayah macam apa yang dibawanya?

—

IMAM TIDAK BISA MENUNJUKKAN JALAN YANG TIDAK DIKETAHUINYA

Di sinilah ilmu Imam kembali menjadi sangat penting.

«يَهْدُونَ»

menuntut: pengetahuan tentang tujuan dan jalan.

Seorang pemandu yang tidak mengetahui jalan justru berbahaya.

Maka Imam Ilahi harus mempunyai: ilmu yang memadai secara sempurna.

Dan tradisi Ahlul Bait bahkan menggambarkan ilmu Imam jauh lebih luas:

  • ‘Ilmu al-Kitab.
  • Ta’wil.
  • Apa yang telah dan akan terjadi.
  • Dan ketika Imam hendak mengetahui, Allah memberitahukannya.

Ini bukan tambahan yang tidak berkaitan.

Ia adalah:

KUALIFIKASI UNTUK HIDAYAH.

—

KENAPA ILMU IMAM HARUS LUAS?

Karena manusia yang dibimbing hidup dalam:

  • zaman berbeda,
  • persoalan berbeda, dan
  • fitnah berbeda.

Kalau ilmu Imam hanya terbatas kepada kondisi masa lalu:

bagaimana menjadi hujjah bagi zaman berikutnya?

Maka Allah memberikan ilmu sesuai maqam dan kebutuhan hujjah.

Dan karena sumbernya:

ilmu Allah,

tidak ada alasan membatasi pemberian itu menurut ukuran manusia biasa.

Tetapi sekali lagi:

pemberian luas tidak berarti:

ilmu dzati.

—

HIDAYAH IMAM TIDAK TERPUTUS KETIKA IA TIDAK MEMEGANG NEGARA

Ini salah satu konsekuensi terbesar.

Kalau fungsi Imam adalah:

«يَهْدُونَ» – membimbing,

maka kehilangan pemerintahan politik tidak otomatis menghilangkan Imamah.

Imam Zainal Abidin tetap membimbing melalui:

  • doa,
  • akhlak,
  • dan ilmu.

Imam al-Baqir melalui:

  • pengajaran.

Imam ash-Shadiq melalui:

  • madrasah ilmu.

Imam Musa al-Kazhim bahkan dalam penjara tetap menjadi:

  • hujjah.

Kekuasaan politik dapat dirampas.

Tetapi:

FUNGSI HIDAYAH TIDAK DAPAT DIRAMPAS SELAMA HUJJAH MASIH ADA.

—

INILAH MENGAPA IMAM HASAN TETAP IMAM SETELAH PERDAMAIAN

Kalau Imamah identik dengan pemerintahan politik, ketika Imam Hasan menyerahkan pemerintahan:

Imamahnya harus berakhir.

Tetapi dalam teologi Ahlul Bait:

tidak.

Karena yang dilepaskan adalah:

pengelolaan politik aktual.

Bukan: «عَهْدِي» Allah.

Imam Hasan tetap: hujjah.

Tetap: pembimbing.

Maka perdamaian politik tidak membatalkan Imamah.

Ini sangat penting membaca sejarah tanpa mengukur kebenaran hanya dari kursi pemerintahan.

—

DEMIKIAN PULA IMAM HUSAIN

Yazid mempunyai pemerintahan.

Husain tidak.

Kalau Imamah = penguasa aktual:

Yazidlah Imam.

Tetapi hampir tidak ada hati Muslim yang rela menerima konsekuensi seperti itu.

Mengapa?

Karena kita sadar bahwa penguasa dapat sesat.

QS al-Qasas 28:41 bahkan menyebut adanya:

«أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ» – imam-imam yang menyeru kepada neraka.

Jadi kemenangan politik tidak menjamin hidayah.

—

IMAM PETUNJUK DAN IMAM API

Mari letakkan dua ayat berdampingan.

QS 21:73:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

“Kami menjadikan mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.”

QS 28:41:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ»

“Kami jadikan mereka imam-imam yang menyeru kepada neraka.”

Dua imam.

Satu: membawa kepada Allah.

Satu: membawa ke neraka.

Jadi pada Hari Kiamat pertanyaan bukan:

“Apakah engkau punya Imam?”

Karena semua manusia mengikuti sesuatu.

Pertanyaannya:

“IMAM SIAPA YANG ENGKAU IKUTI?”

Ini akan membawa kita nanti kepada QS al-Isra 17:71:

«يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ»

“Pada hari Kami memanggil setiap kelompok manusia bersama Imam mereka.”

—

MANUSIA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR HIDUP TANPA IMAM

Kalau tidak mengikuti Imam petunjuk:

manusia tetap dapat mengikuti:

  • pemimpin politik,
  • ideolog,
  • budaya,
  • hawa nafsu,
  • tokoh, atau
  • sistem nilai tertentu.

Dengan pengertian ini, tidak mempunyai Imam adalah ilusi.

Pertanyaan sebenarnya:

siapa yang menjadi arah hidup kita?

Al-Qur’an mengenal: Imam petunjuk dan Imam api.

Maka memilih Imam adalah:

memilih arah akhir.

—

IMAM PETUNJUK MENDAHULUKAN ALLAH ATAS DIRINYA

Riwayat Imam ash-Shadiq yang membandingkan dua jenis Imam sangat indah.

Imam petunjuk: «mendahulukan perintah Allah sebelum perintah dirinya.»

Imam api: «mendahulukan perintah dirinya sebelum perintah Allah.

Ini mungkin ukuran kepemimpinan paling sederhana sepanjang sejarah.

Kalau kepentingan pribadinya bertentangan dengan Allah:

mana yang ia pilih?

Di situlah ketahuan imam jenis apa.

—

DAN INI JUGA BERLAKU KEPADA KITA

Kita mungkin bukan Imam umat.

Tetapi setiap manusia mempunyai wilayah kecil:

  • orang tua pada keluarga,
  • guru terhadap murid,
  • pemimpin pada organisasi,
  • pejabat pada masyarakat.

Ayat ini mengajarkan:

kepemimpinan yang benar selalu bertanya:

“APA PERINTAH ALLAH?”

Bukan:

“Bagaimana caranya supaya aku selalu menang?”

Dengan demikian konsep Imamah mempunyai refleksi moral untuk semua orang.

—

“WA AWHAYNĀ ILAYHIM”

Ayat berkata:

«وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ» – “Kami wahyukan kepada mereka.”

Dalam konteks langsung, Ibrahim, Ishaq dan Ya‘qub memang nabi.

Maka kata awhaynā di sini adalah wahyu kepada para Nabi.

Ketika pola ayat diterapkan kepada para Imam setelah Rasulullah SAW:

jangan menyimpulkan:

para Imam menerima wahyu kenabian yang sama.

Tidak.

Kenabian telah berakhir.

Penerapan kepada Imam berada pada fungsi:

hidayah bi-amrillah, ilmu, dan penunjukan,

bukan pada kenabian baru.

Ini batas yang sangat penting.

—

IMAM TIDAK MEMBAWA SYARIAT BARU

  • Ali tidak mempunyai: wahyu syariat baru.
  • Hasan tidak.
  • Husain tidak.
  • Al-Baqir tidak.
  • Ash-Shadiq tidak.
  • Al-Mahdi pun kelak tidak membawa agama yang menggantikan Islam Muhammad SAW.

Mereka menjaga Islam Muhammad.

Maka kalau seseorang datang mengaku Imam kemudian membawa:

  • Kitab baru,
  • syariat baru, atau
  • membatalkan kenabian final Muhammad,

ia justru bertentangan dengan konsep Imamah Ahlul Bait.

—

MENGAPA SALAT DAN ZAKAT DISEBUT?

Allah berkata:

«وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ»

  • Penegakan salat.
  • Pemberian zakat.

Dua amal ini mewakili dua arah.

  • Salat: hubungan dengan Allah.
  • Zakat: hubungan dengan manusia.

Seorang Imam tidak hanya membawa manusia kepada langit sambil melupakan bumi.

Dan tidak hanya mengurus kesejahteraan bumi sambil melupakan Tuhan.

Dalam dirinya bertemu:

IBADAH DAN KEADILAN SOSIAL.

Ini mengingatkan kembali Ayat Wilayah:

Ali berada dalam rukuk. Tetapi tangannya tetap memberi.

Salat dan sedekah. Dua dunia yang sama.

—

IMAM PETUNJUK HARUS MENGHUBUNGKAN LANGIT DAN BUMI

Agama yang hanya berbicara akhirat,

tetapi membiarkan orang miskin ditindas: tidak utuh.

Agama yang hanya berbicara:

keadilan sosial, tetapi memutus manusia dari Allah: juga tidak utuh.

QS 21:73 menggabungkan:

  • hidayah,
  • kebaikan,
  • salat,
  • zakat, dan
  • penghambaan.

Inilah profil Imam.

Ia tidak hanya: ulama.

Tidak hanya: aktivis.

Tidak hanya: penguasa.

Tetapi:

MANUSIA YANG MEMBAWA SELURUH DIMENSI PETUNJUK.

—

INILAH ALASAN IMAM ALI SANGAT UNIK

Pada Ali kita menemukan:

  • mihrab dan medan perang.
  • Ilmu dan keadilan.
  • Ibadah dan kepedulian sosial.
  • Pemerintahan dan kezuhudan.
  • Pedang dan air mata.

Ia bukan figur satu dimensi.

Kalau seorang pemimpin hanya:

  • berani tetapi tidak berilmu, bahaya.
  • Berilmu tetapi tidak adil, bahaya.
  • Saleh secara pribadi tetapi tidak peduli pada kezaliman, belum cukup.

Ali memperlihatkan:

integrasi.

Dan itulah bentuk Imam yang digambarkan ayat:

«يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

—

IMAM BUKAN HANYA MENUNJUKKAN ARAH; IA SENDIRI BERADA DI DEPAN

Itulah makna dasar:

«إِمَام»

Seseorang yang berada di depan.

Bukan berdiri di belakang sambil berteriak:

“Majulah!”

Imam Husain tidak mengirim orang lain ke Karbala lalu tinggal aman.

Ia berada: di depan.

Ali tidak hanya menyuruh manusia berperang di Khandaq.

Ia maju.

Hasan tidak hanya menyuruh orang menerima konsekuensi perdamaian.

Ia sendiri menanggung tuduhan dari sebagian pengikutnya.

Inilah Imamah.

Pemimpin menanggung harga lebih dahulu.

—

KALAU IMAM MEMBIMBING “DENGAN PERINTAH ALLAH”, IA TIDAK BOLEH MENJADI BUDAK OPINI PUBLIK

Ini konsekuensi penting.

Pemimpin politik sering menyesuaikan diri dengan:

  • survei,
  • mayoritas,
  • tekanan massa.

Itu wajar dalam politik tertentu.

Tetapi Imam sebagai hujjah tidak menentukan kebenaran melalui: polling.

Kalau seluruh umat memilih kebatilan: kebatilan tidak menjadi benar.

Imam membimbing:

«بِأَمْرِنَا»

bukan: «“berdasarkan apa yang paling populer.”»

Ini sebab Imam kadang: sendirian.

Karena kebenaran tidak selalu mempunyai mayoritas.

—

IMAM HUSAIN ADALAH CONTOH PALING DRAMATIS

Kalau ukuran benar adalah jumlah, Husain kalah.

Kalau ukuran benar adalah kekuasaan, Husain kalah.

Kalau ukuran benar adalah keselamatan dunia, Husain kalah.

Tetapi kalau ukuran adalah:

«بِأَمْرِنَا» – perintah Allah, maka Karbala mempunyai bacaan lain.

Seorang Imam tidak bertanya:

“Berapa banyak yang ikut?”

Ia bertanya: “Apa amanah Allah?”

Dan ketika jawaban telah jelas: ia berjalan.

—

“BI-AMRINĀ” JUGA MENJELASKAN MENGAPA IMAM BISA MENGAMBIL STRATEGI BERBEDA

Ali berperang.

Hasan berdamai.

Husain bangkit.

Zainal Abidin membangun spiritualitas.

Al-Baqir dan ash-Shadiq memperluas ilmu.

Apakah itu berarti mereka berbeda agama?

Tidak.

Karena:

situasinya berbeda.

Yang sama adalah:

«بِأَمْرِنَا» – orientasi kepada Allah.

Imam bukan meniru tindakan Imam sebelumnya secara mekanis.

Ia menjalankan: amanah yang tepat bagi zamannya.

Inilah hikmah Imamah.

—

KARENA ITU TIDAK BOLEH MENILAI IMAM HASAN DENGAN MENUNTUTNYA MENJADI HUSAIN

Dan tidak boleh bertanya:

“Kalau Husain benar bangkit, mengapa Hasan berdamai?”

Pertanyaan itu hanya melihat: bentuk tindakan.

Tidak melihat: amr.

Imam mengetahui:

  • kapan berdiri,
  • kapan menahan diri,
  • kapan mengajar,
  • kapan diam, dan
  • kapan syahadah menjadi bahasa paling kuat.

Inilah salah satu alasan keluasan ilmu Imam menjadi sangat penting.

—

HANYA ORANG YANG MENGETAHUI KESELURUHAN KONTEKS DAPAT MEMILIH TINDAKAN YANG TEPAT

Manusia biasa melihat: sepotong.

Imam sebagai hujjah mendapat ilmu yang Allah perlukan baginya untuk menjalankan amanah.

Maka dua tindakan yang tampak berlawanan dapat sebenarnya berasal dari:

satu sumber petunjuk.

Ini tidak berarti kita bebas membenarkan setiap tindakan apa pun dengan berkata:

“Rahasia Imam.”

Tidak.

Riwayat tetap diteliti.

Sejarah tetap diperiksa.

Tetapi secara teologis:

perbedaan strategi tidak membatalkan: kesatuan Imamah.

—

IMAM PETUNJUK TIDAK MEMBAWA MANUSIA KEPADA KETERGANTUNGAN PADA DIRINYA

Tujuannya bukan:

“Tanpa aku kalian tidak punya Allah.”

Tetapi:

“Melalui petunjuk Allah yang kuemban, jangan kehilangan jalan kepada-Nya.”

Ahlul Bait bukan:

penghalang antara Allah dan manusia.

Mereka: penunjuk.

Mereka tidak mengambil cahaya Allah.

Mereka: memantulkannya.

Kalau seseorang berhenti pada Imam dan tidak sampai kepada Allah:

ia salah memahami wilayah.

—

APA YANG SEBENARNYA DIBUKTIKAN QS AL-ANBIYA 21:73?

Sekarang kita simpulkan secara disiplin.

Pertama, QS 21:73 secara langsung berbicara tentang Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub serta menyebut mereka:

«أَئِمَّةً» – para Imam.

Kedua, sumber Imamah mereka adalah:

«جَعَلْنَاهُمْ» – “Kami menjadikan mereka.”

Ini menguatkan QS 2:124 bahwa Imamah bersumber dari ja‘l Ilahi, bukan sekadar penunjukan manusia.

Ketiga, fungsi Imam adalah:

«يَهْدُونَ» – memberi petunjuk.

Jadi Imamah Qur’ani lebih luas daripada pemerintahan politik.

Keempat, hidayah itu adalah:

«بِأَمْرِنَا» – “dengan perintah Kami.”

Dalam tafsir klasik ini berarti mereka membimbing sesuai perintah Allah dan menyeru manusia kepada-Nya.

Kelima, tradisi Ahlul Bait membaca hidayah bi-amrillah sebagai salah satu karakter khas Imamah Ilahi, bukan otoritas yang independen dari Allah.

Keenam, ayat menghubungkan Imamah dengan:

  • kebaikan,
  • salat,
  • zakat, dan
  • penghambaan.

Artinya Imam bukan hanya pemilik otoritas, tetapi teladan amal.

Ketujuh, penutup:

«وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ» – menegaskan bahwa setinggi apa pun maqam Imam, ia tetap hamba Allah.

Kedelapan, Al-Qur’an juga mengenal imam kesesatan dalam QS 28:41. Dengan demikian kata “Imam” sendiri tidak otomatis menunjukkan kesucian; yang membedakan Imam Ilahi adalah arah hidayah dan hubungannya dengan perintah Allah.

Kesembilan, al-Kafi mencatat pembagian dua jenis Imam: yang mendahulukan perintah Allah dan yang mendahulukan kehendaknya sendiri atas perintah Allah.

Kesepuluh, QS 21:73 tidak secara literal menyebut dua belas Imam Ahlul Bait. Fungsinya dalam argumentasi Imamiyah adalah menetapkan pola Qur’ani Imamah:

ALLAH MENJADIKAN.

IMAM MEMBIMBING.

BIMBINGANNYA DENGAN PERINTAH ALLAH.

Dan tradisi Ahlul Bait kemudian mengidentifikasi kelanjutan pola itu dalam:

para Imam dari keluarga Muhammad SAW.

—

DARI “HIDAYAH” MENUJU DUA SYARAT BESAR: SABAR DAN YAQIN

Sekarang pertanyaan berikutnya:

Kalau Allah menjadikan manusia sebagai Imam yang memberi petunjuk dengan perintah-Nya,

apa kualitas jiwa yang memungkinkan manusia memikul maqam seperti itu?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat menarik dalam QS as-Sajdah 32:24:

«وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ»

“Dan Kami jadikan di antara mereka para Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.”

Perhatikan:

ungkapan yang sama kembali:

«أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

Tetapi sekarang Allah menambahkan dua kualitas:

«لَمَّا صَبَرُوا» – karena mereka bersabar.

Dan:

«وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ» – mereka mempunyai yaqīn terhadap ayat-ayat Kami.

Sabar. Yaqin. Bukan popularitas. Bukan: kekayaan. Bukan: jumlah pengikut.

Dua syarat batin inilah yang akan membuka dimensi berikutnya dari Imamah.

Bagian 15

AYAT SABAR DAN YAQIN

Dua Pilar Jiwa Seorang Imam yang Memberi Petunjuk

Ahlul bait dalam14

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DzjvmcaPN/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us