13 October 2026

1. Pengantar: Menyikapi Keterbatasan Pengetahuan Manusia

Kajian ini melanjutkan bagian akhir dari pertemuan sebelumnya.
Imam Ali AS berwasiat kepada putranya, Imam Hasan AS: Fain askala ‘alaika syai’un—jika ada hal-hal atau peristiwa dalam kehidupan dunia ini yang tidak dapat kamu pahami, kamu tidak perlu gusar atau gelisah.

Sebagai manusia, pengetahuan dan pemahaman kita sangat terbatas. Hakikatnya, hal-hal yang tidak kita ketahui jauh lebih banyak dibandingkan dengan apa yang kita ketahui.
Oleh karena itu, masukkanlah ketidaktahuan itu ke dalam “gudang ketidaktahuanmu”. Sejak awal manusia dilahirkan dari perut ibunya, manusia tidak mengetahui apa-apa (wallahu akhrajakum min butuni ummahatikum la ta’lamuna syai’a).
Seiring proses pendewasaan, banyak hal yang tadinya tidak kita pahami perlahan menjadi jelas, bahkan ada hal-hal yang baru akan menjadi terang benderang menjelang atau setelah kematian nanti.

2. Bersandar dan Berlindung Sepenuhnya kepada Allah Sang Pencipta

Dalam menghadapi berbagai kebingungan dan ketidaktahuan, satu hal yang pasti adalah kesadaran bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Kita yakin bahwa kita tidak tercipta dari ketiadaan dan tidak menciptakan diri kita sendiri.

Imam Ali AS menegaskan (faktazim):

  • Berpegang dan Bersandarlah kepada Penciptamu:
    Manusia sama sekali tidak memiliki sumbangsih dalam proses keberadaan dirinya—mulai dari terbentuknya organ tubuh, berjalannya logika, hingga kehidupan di dalam rahim ibu. Seluruhnya adalah anugerah dan rezeki dari Allah.
  • Menyerahkan Pengabdian Murni (Ta’abbud):
    Pengabdian, penyembahan, dan ketundukan harus diserahkan sepenuhnya hanya kepada Sang Pencipta, bukan kepada selain-Nya. Sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Yasin (Wa mali la a’budul ladzi fatharani), secara nalar tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak menghamba kepada Zat yang telah menciptakannya.
  • Menujukan Harapan (Roja’) dan Rasa Takut (Khauf):
    Tujukan seluruh harapan, cita-cita, dan rasa takut hanya kepada Allah.
    Bagi para kekasih Allah (Auliyaullah), tidak ada rasa takut kepada selain Allah; satu-satunya kekhawatiran mereka adalah jika tidak mendapat ridha-Nya atau mendapat murka-Nya.
    Jika seseorang sudah berlindung kepada Sang Pencipta, seluruh permasalahan pada hakikatnya telah tuntas.

3. Rasulullah SAW dan Ahlulbait sebagai Pemandu (Roid) dan Pemimpin (Qoid)

Imam Ali AS melanjutkan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan dan mengenalkan Allah secara lebih sempurna, benar, dan komprehensif melebihi apa yang diberitakan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, kita harus rela dan pasrah menjadikan Rasulullah SAW sebagai pembawa petunjuk, pemandu, dan pemimpin menuju keselamatan.

Dalam kajian bahasa, terdapat perbedaan antara peran Qoid dan Roid dalam perjalanan kafilah di padang pasir:

  • Qoid: Pemandu atau pemimpin yang berjalan bersama kafilah di dalam rombongan.
  • Roid: Pemandu yang berjalan jauh di depan untuk membuka jalan, mengamankan rute, dan memberikan tanda-tanda rintangan.

Rasulullah SAW memerankan kedua fungsi tersebut sekaligus (Roid dan Qoid).
Seluruh khazanah petunjuk dari Rasulullah SAW ini kemudian diteruskan melalui pintu kota ilmunya, yaitu Imam Ali bin Abi Thalib AS, serta para Imam suci setelah beliau.

4. Keterbatasan Akal dan Kepasrahan pada Petunjuk Agama

Imam Ali AS mengingatkan bahwa manusia tidak perlu berusaha mencari jalan sendiri atau hanya mengandalkan akal dan pemikiran pribadinya untuk menemukan prinsip-prinsip kehidupan.
Sehebat apa pun manusia berpikir dan bersungguh-sungguh, ia tidak akan pernah melampaui puncak kebenaran yang telah disampaikan oleh Imam Ali AS sebagai pewaris ilmu Rasulullah SAW.

5. Kedudukan Muhammad dan Ali sebagai “Orang Tua Agama/Ideologis”

Dalam tradisi riwayat Ahlulbait, selain orang tua nasab (biologis), manusia memiliki Orang Tua Agama/Ideologis (Abah ad-Din), yaitu Rasulullah SAW dan Imam Ali AS.

Berdasarkan riwayat dari Imam Hasan Al-Askari AS (tercantum dalam tafsir beliau hal. 333), barangsiapa yang mendahulukan ketaatan dan pemuliaan kepada kedua Orang Tua Agamanya (Muhammad dan Ali) di atas orang tua nasabnya, maka Allah SWT berfirman bahwa orang tersebut telah mengutamakan Allah.
Sebagai balasannya, Allah akan memuliakannya di hadapan kedua orang tua agamanya. Wasiat Imam Ali AS ini hakikatnya adalah wasiat dari orang tua ideologis kita yang kedudukannya lebih tinggi daripada orang tua nasab.

6. Argumen Tauhid dan Keesaan Allah (Wajibul Wujud)

Imam Ali AS menyampaikan pembuktian tauhid dengan logika yang rasional dan sederhana:

  1. Ketiadaan Sekutu bagi Allah:
    Seandainya Tuhan memiliki sekutu, tentu rasul-rasul dari sekutu tersebut akan datang membawa risalah dan memperlihatkan kebesaran kerajaannya.
    Namun kenyataannya, seluruh nabi dan rasul yang datang membawakan risalah dari Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Keharmonisan Alam Semesta:
    Adanya keterhubungan, keselarasan, dan sinkronisasi antara seluruh ciptaan di alam semesta (seperti keterhubungan antara mata dan cahaya langit, atau tubuh dan air) membuktikan bahwa seluruh alam adalah karya dari satu Pencipta yang Tunggal.
  3. Zat Yang Maha Sempurna (Wajibul Wujud):
    Allah tidak memiliki tandingan, tidak bermula (Bila Awaliah), tidak pernah tidak ada, dan tidak akan sirna/berakhir (Bila Nihayah). Pertanyaan “kapan Tuhan ada?” hanya berlaku bagi sesuatu yang pernah tidak ada.

7. Keagungan Allah Melampaui Jangkauan Akal dan Panca Indra

Allah Maha Agung (A’zhamu) untuk dapat ditetapkan rububiyah-Nya melalui jangkauan pemikiran hati, akal, maupun panca indra manusia.

Jika Tuhan dapat dijangkau atau dibayangkan oleh akal dan panca indra, berarti Tuhan itu terbatas dan kecil. Keagungan Allah justru terletak pada fakta bahwa Dia tidak terbatas dan tidak dapat diliputi oleh persepsi makhluk.
Orang yang mengira Tuhan dapat dijangkau oleh inderanya akan salah mempersepsikan Tuhan sejak awal, sehingga ia akan tersesat, menyembah makhluk (seperti matahari atau api), atau jatuh pada pengingkaran.
Hal ini sesuai dengan firman Allah: Laisa kamitslihi syai’un (Dia tidak serupa dengan apa pun).

8. Kesadaran Diri sebagai Makhluk yang Bergantung dan Ketaatan Mutlak

Menyadari keagungan Tuhan dan keterbatasan diri, Imam Ali AS berwasiat (fa’fal):

  • Sadar Diri dan Jangan “Banyak Gaya”:
    Manusia adalah makhluk yang serba terbatas (terbatas penglihatan, pendengaran, ilmu, dan kekuatan). Keberadaan manusia di setiap detik sepenuhnya bergantung pada Allah.
  • Fokus Utama Manusia:
    Fokus konsentrasi manusia seharusnya adalah memaksimalkan kepatuhan (tha’ah), ketaatan, serta rasa takut akan murka Allah.
  • Jaminan Kebaikan:
    Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali untuk kebaikan yang sempurna, dan tidak pernah melarang sesuatu kecuali untuk membebaskan manusia dari keburukan secara sempurna.

9. Perumpamaan Hakikat Dunia dan Akhirat

Di akhir kajian, Imam Ali AS memberikan dua perumpamaan (metafora) indah mengenai orang yang memahami hakikat dunia dan orang yang tertipu oleh dunia:

  1. Perumpamaan Orang yang Memahami Dunia:
    • Ibarat sekelompok musafir yang berada di tanah yang tandus, gersang, dan tidak layak huni (dunia), lalu melakukan perjalanan menuju tanah yang subur, kaya akan sumber air, dan penuh buah-buahan (akhirat).
    • Meskipun perjalanan menuju tanah subur itu melelahkan, penuh rintangan, dan membutuhkan pengorbanan, para musafir tetap bersabar dan bahagia karena mengetahui tempat tujuan mereka jauh lebih indah dan abadi.
      Bagi orang seperti ini, saat-saat mendekati kematian/akhirat ibarat saat-saat paling membahagiakan ketika seorang musafir semakin dekat dengan tanah yang subur.
  1. Perumpamaan Orang yang Tertipu oleh Dunia:
    • Ibarat orang yang berada di tanah yang subur, namun dipaksa pindah menuju tanah yang tandus dan gersang.
    • Selama perjalanan dan ketika semakin dekat dengan tanah yang tandus (duniawi/kehampaan), mereka merasakan ketakutan, penyesalan, dan rasa sakit yang luar biasa karena harus berpisah dari tanah yang subur.

AB Wasiat Imam Ali tentang Kehidupan10

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us