Hakikat Al Azm
Al-Azm dalam bahasa Arab bermakna al-qasdu ash-shadiq, yaitu sebuah tujuan yang ingin dicapai dengan kesungguhan yang luar biasa.
Tingkatan ini lebih kuat daripada sekadar niat; para ulama bahasa menyebutkan bahwa Al-Azm adalah permulaan nyata dari sebuah tindakan untuk mewujudkan apa yang diinginkan.
Dalam Al-Qur’an (Surah Ali Imran: 159), Allah memerintahkan agar setelah melakukan musyawarah dan pertimbangan matang, seseorang harus berazam dan kemudian bertawakal kepada Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa ketika azam sudah ditetapkan, hati tidak boleh lagi berpaling pada hal lain.
Keteladanan dalam Al-Qur’an
Istilah “Ulul Azmi” diberikan kepada para rasul pilihan yang memiliki keteguhan luar biasa dalam menanggung ujian demi menjalankan amanah risalah. Sebaliknya, Al-Qur’an mengisahkan Nabi Adam as. yang saat itu “tidak didapati padanya azam” (kesungguhan) dalam menjaga perjanjian untuk tidak mendekati pohon terlarang karena ia lupa. Lupa atau kelalaian merupakan tanda tiadanya kesungguhan (azam) dalam mencapai tujuan utama.
Tiga Tingkatan Al-Azm dalam Tasawuf
Dalam perjalanan ruhani (tasawuf), Al-Azm merupakan salah satu manzilah (kedudukan) yang harus dilalui oleh seorang penempuh jalan spiritual (salik):
- Tingkatan Pertama:
Seseorang mulai mendahulukan pengalaman ruhaninya (intuisi) di atas analisis logika rasional.
Ia mulai merasakan kilatan mukasyafah (penyingkapan batin) dan cahaya petunjuk.
Pada tahap ini, seorang salik berupaya keras untuk “membunuh” hawa nafsunya agar pengaruh material berkurang dan ruang ruhani terbuka. - Tingkatan Kedua:
Seseorang tenggelam dalam musyahadah (penyaksian objek-objek ruhani) dan mengikuti cahaya yang menerangi perjalanannya.
Di sini, ia harus mampu membaca pesan-pesan simbolik dan tetap teguh memegang syariat meski telah merasakan hal-hal dahsyat.
Banyak orang tersesat di tahap ini karena meninggalkan syariat setelah merasa dekat dengan Allah. - Tingkatan Ketiga:
Ini adalah puncak tertinggi, yaitu melepaskan azam atau kehendak diri sendiri untuk kemudian melebur dalam kehendak Allah (Fana).
Seseorang menyadari bahwa yang menarik dirinya bukanlah upayanya sendiri, melainkan daya tarik Ilahiah.
Penutup dan Doa
Perjalanan ruhani bukanlah proses instan, melainkan jalan yang penuh ujian dan memerlukan keseriusan.
Kajian ini diakhiri dengan doa agar kita diberikan kekuatan untuk melangkah dalam proses penyucian diri dan mendoakan para jamaah haji agar mendapatkan haji yang mabrur dan transformasi ruhani yang sejati.

Belajar Tasawuf (Seri 28) AL-Azm (Tekad dan Upaya mewujudkan keinginan Allah)
Senin 4 Juli 2022 Jam 20.00 – Selesai WIB LIVE STREAMING.
YouTube: Misykat TV
SoundCloud: SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify: Misykat Bandung
Web: Misykat.net

