Belajar TASAWUF (2): Enam Tahap Pengolahan Diri | Ustadz Dr Kholid Al Walid
Enam Tahap Pengolahan Diri
- Musyarathah (Perjanjian Diri)
Tahap awal ini adalah membuat perjanjian dengan diri sendiri untuk taat mengikuti kehendak Allah.
Di sini, akal digunakan sebagai penerang untuk menetapkan syarat bahwa kita harus berada di jalan yang baik dan menjauhi hal-hal yang diharamkan.
Tujuannya adalah agar manusia naik kelas dari sekadar manusia biologis (Insan Basyari) menuju manusia intelektual (Insan Aqli), manusia ruhani (Insan Malakuti), hingga mencapai derajat tertinggi yaitu Manusia Ilahi (Insan Ilahi). - Muraqabah (Pengawasan Diri)
Muraqabah adalah kondisi kesadaran kontinu bahwa Allah selalu mengawasi kita, baik secara lahir maupun batin.
Seorang penempuh jalan ruhani harus sadar bahwa keberadaannya bergantung sepenuhnya pada pancaran wujud Allah (Fakir Wujudi).
Dengan merasa selalu diawasi, seseorang akan lebih disiplin dalam menjaga sikap, perilaku, dan isi hatinya. - Muhasabah (Evaluasi Diri)
Tahap ini adalah melakukan introspeksi atau hisab terhadap diri sendiri.
Kita perlu mengevaluasi apakah hidup kita telah mengalami kemajuan ruhani atau hanya berputar di tempat seperti keledai yang menggiling gandum.
Muhasabah mencakup evaluasi terhadap seluruh perjalanan hidup maupun evaluasi terhadap setiap amal yang kita lakukan setiap hari. - Muaqabah (Sanksi Diri)
Jika dalam tahap evaluasi ditemukan kesalahan, maka kita harus memberikan sanksi atau hukuman kepada diri sendiri sebelum Allah yang memberikan sanksi di akhirat. Sanksi ini bersifat mendidik, seperti menambah ibadah puasa, bersedekah, atau segera melakukan kebaikan di tempat yang sama saat kita melakukan kesalahan untuk menutupi dosa tersebut. - Mujahadah (Kesungguhan)
Mujahadah adalah kesungguhan dalam menjalankan ibadah dan berhijrah dari kegelapan jiwa menuju cahaya Allah.
Ibadah yang paling berat sering kali adalah yang paling dicintai Allah, seperti bangun di tengah malam (sholat malam) dan memperbanyak puasa untuk menundukkan nafsu. - Muatabah (Merasa Rendah Diri/Evaluasi Akhlak)
Tahap terakhir ini adalah menjaga agar kita tidak merasa lebih mulia dari makhluk Allah yang lain.
Seseorang harus selalu memandang ada kemuliaan pada orang lain yang mungkin tidak dimiliki dirinya sendiri.
Menghindari sifat bangga diri (Ujub) sangat penting karena kesombongan atas kesalehan bisa menjadi penghalang cahaya (Hijab Nuriyah) yang menjauhkan hamba dari Tuhannya.
Kesimpulan
Keenam tahap ini—Musyarathah, Muraqabah, Muhasabah, Muaqabah, Mujahadah, dan Muatabah—harus dijalankan secara bersamaan dan konsisten. Tujuan akhirnya bukanlah untuk mencapai gelar tertentu, melainkan untuk terus berjalan mendekat kepada Allah dalam setiap aktivitas kehidupan kita.

Silahkan membagikan/share video. Semoga jari-jemari Anda akan menjadi saksi mencintai Allah Swt, Rasul dan Ahlulbaitnya. Bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad.
LIVE Belajar TASAWUF bersama Ustadz Dr Khalid al-Walid, setiap Ahad Jam 19.45 – 21.00
Pusat Kajian Tasawuf Misykat:
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : www.misykat.net
Donasi Dakwah Digital:
Bank BRI 1141 01 000 401 56 2 an Yayasan Bahtera Cinta Almustofa
Cp WA 0812 239 14000
#DiskusiDigital #MisykatTV
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






