Mengukur Waktu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Kritik St. Agustinus terhadap Pengukuran Waktu
St. Agustinus memiliki pandangan unik yang berbeda dari Plato dan Aristoteles.
Jika Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa waktu diukur berdasarkan gerakan benda-benda langit seperti bintang dan matahari, Agustinus menyanggah hal tersebut.
Ia memberikan ilustrasi melalui kisah Yosua (Yusak bin Nun) saat memimpin Bani Israil menaklukkan sebuah daerah.
Karena waktu sudah sore dan mendekati hari Sabat (hari di mana mereka tidak boleh berperang), Yosua berdoa agar Allah menghentikan matahari agar mereka bisa menyelesaikan tugasnya,.
Matahari pun berhenti hingga mereka menang, lalu bergerak kembali.
Logika Agustinus adalah: jika waktu adalah gerak, maka saat matahari berhenti seharusnya waktu juga berhenti.
Namun kenyataannya, orang tetap bisa bertanya, “Berapa lama matahari itu berhenti?” Pertanyaan “berapa lama” menunjukkan bahwa waktu tetap berjalan meskipun benda langit berhenti bergerak.
Hal serupa terjadi dalam kisah Arjuna yang bersumpah membunuh Jayadrata sebelum matahari terbenam.
Ketika Krishna menutupi matahari dengan senjata Cakra, Jayadrata mengira hari sudah malam dan keluar dari persembunyiannya, padahal waktu sebenarnya masih siang,.
Waktu Sebagai Konsep Mental
Agustinus berkesimpulan bahwa kunci waktu bukan terletak pada pergerakan benda alam, melainkan pada mental manusia.
Manusia-lah yang mengklasifikasikan waktu: mengingat masa lalu, menikmati masa kini, dan membayangkan masa depan.
Ketiga dimensi waktu ini hadir di dalam diri kita. Jadi, ukuran waktu yang sebenarnya adalah manusia itu sendiri, bukan benda-benda objektif di luar sana,.
Waktu Objektif vs. Waktu Subjektif
Berdasarkan pemikiran tersebut, waktu dibagi menjadi dua jenis:
- Waktu Objektif: Waktu yang tertera di kalender atau jam tangan.
- Waktu Subjektif: Waktu yang dirasakan dan diserap oleh diri sendiri.
Perbedaan ini sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, saat sedang mengantuk atau bosan mendengarkan ceramah, waktu terasa sangat lama.
Sebaliknya, jika kita sedang mengerjakan ujian yang sulit atau sedang bersenang-senang (seperti ditraktir teman atau menunggu pacar), waktu terasa sangat cepat,.
Contoh dalam Sejarah dan Agama
Konsep waktu objektif dan subjektif ini dapat menjelaskan beberapa peristiwa besar:
- Ashabul Kahfi:
Secara objektif, mereka tidur di gua selama 350 tahun (tiga setengah abad). Namun secara subjektif, mereka merasa hanya tidur selama satu malam saja. - Isra Mi’raj:
Nabi Muhammad SAW mengalami perjalanan yang secara subjektif terasa sangat jauh dan lama, namun secara objektif hanya memakan waktu yang sangat singkat. - Khutbah Jumat:
Bagi seorang khatib, materi yang disampaikan mungkin terasa penting sehingga waktu terasa singkat, namun bagi jamaah, khutbah tersebut bisa terasa sangat lama dan membosankan.
Ini membuktikan bahwa lama atau sebentarnya waktu sangat bergantung pada perspektif subjeknya,.
Sebagai penutup, memahami perbedaan ini penting agar kita bisa memahami mengapa persepsi setiap orang terhadap durasi suatu kejadian bisa berbeda-beda, karena waktu adalah pedang yang harus kita sikapi dengan bijak.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







