Jangan Biarkan Dirimu Terpotong Oleh Waktu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Analogi Cahaya Bintang dan Jejak Masa Lalu
Segala sesuatu yang kita alami hari ini sebenarnya adalah pantulan dari apa yang telah kita perbuat di masa lalu.
Fenomena ini serupa dengan cahaya bintang yang sampai ke mata kita hari ini; bintang tersebut mungkin sudah tidak ada jutaan tahun yang lalu, namun cahayanya baru kita nikmati sekarang.
Pesan spiritualnya adalah bercahayalah seterang-mungkin saat ini, karena meskipun kelak kita sudah tiada, manfaat dan “cahaya” kebaikan kita akan terus dinikmati oleh generasi setelah kita.
Jangan pernah meremehkan apa yang dilakukan sekarang, karena efeknya akan menjangkau jauh ke masa depan.
Waktu Ibarat Pedang
Imam Syafi’i memberikan nasihat terkenal bahwa “waktu ibarat pedang”.
Jika kita tidak menggunakan waktu untuk memotong (melakukan sesuatu), maka waktulah yang akan memotong dan menggilas kita.
Waktu bisa menjadi senjata untuk menaklukkan dunia atau justru menjadi sesuatu yang menelan kita.
Kuncinya terletak pada pengelolaan diri: jika jiwa (nafsu) tidak disibukkan dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkan kita dengan kebatilan atau hal-hal sia-sia.
Di era sekarang, kesibukan terhadap hoaks dan kebohongan adalah contoh nyata bagaimana waktu terbuang tanpa menghasilkan apa pun selain permusuhan dan kerusakan.
Empat Konsep Waktu dalam Islam
Dalam Al-Qur’an dan tradisi Islam, terdapat beberapa istilah untuk memahami dimensi waktu:
- Ajal (Batas Akhir):
Mengingatkan bahwa segala sesuatu, baik kesedihan maupun kesenangan, memiliki batasnya. Jangan terlalu galau saat susah dan jangan lupa diri saat senang, karena semua ada masa berakhirnya. - Dahar (Durasi):
Merujuk pada rentang waktu dari awal hingga akhir. Ini mengingatkan bahwa semua makhluk memiliki titik awal dan titik akhir, kecuali Allah. - Waktu (Peluang/Kesempatan):
Menekankan pada momentum yang terbatas. Seperti halnya waktu salat atau masa kuliah, jika momen tersebut dilewatkan, maka kita akan kehilangan kesempatan tersebut selamanya. - Ashar (Masa Menjelang Akhir):
Menggambarkan urgensi untuk segera berbuat baik sebelum “matahari terbenam” atau sebelum kesempatan tertutup oleh kematian (malam).
Solusi agar Tidak Merugi (Surah Al-Asr)
Melalui Surah Al-Asr, kita diingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang mengisi waktunya dengan tiga pilar utama:
- Beriman:
Menyadari keterbatasan diri dan ketergantungan kepada Sang Pencipta. - Beramal Saleh:
Melakukan kebaikan sekecil apa pun yang diketahui. - Saling Menasihati:
Membangun hubungan sosial dengan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Dengan menjalankan ketiga hal iniโiman, amal saleh, dan muamalah yang baikโkita tidak akan “ditelan” oleh waktu, melainkan menjadi pribadi yang beruntung.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







