Sampirkan Jiwamu Dari Badanmu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Epithumia: Dimensi Terendah Jiwa
Dalam filsafat Plato, bagian jiwa yang letaknya paling bawah dan merupakan nafsu paling rendah disebut sebagai epithumia atau epic thumos.
Unsur ini mencakup tiga nafsu utama, yaitu nafsu makan, nafsu minum, dan nafsu seks, termasuk di dalamnya keinginan untuk menumpuk harta kekayaan demi memenuhi kebutuhan perut dan apa yang ada di bawah perut.
Secara anatomis, Plato menempatkan wilayah ini jauh dari kepala agar sulit dikendalikan oleh akal.
Sifat utama dari epithumia adalah irasional dan mortal, artinya ia memiliki jangkauan yang pendek dan hanya mencari kesenangan sesaat untuk hari ini saja,.
Dampak Dominasi Nafsu terhadap Akal
Ketika seseorang dikuasai oleh nafsu perut ke bawah, akalnya biasanya tidak lagi berfungsi dengan baik.
Sebagai contoh, saat seseorang sangat haus atau lapar, ia tidak akan peduli lagi dengan ceramah atau ilmu pengetahuan karena fokus utamanya hanyalah mencari air atau makanan.
Akal menjadi tidak berdaya dan tidak operatif lagi jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi. Meskipun demikian, nafsu ini tidak boleh dibunuh, karena tanpa makan, minum, dan reproduksi, kehidupan manusia akan berakhir.
Plato menggunakan beberapa simbol untuk menggambarkan sifat epithumia:
- Ember Bocor atau Kantong Bolong:
Seperti sosok Petruk dalam pewayangan, nafsu ini tidak akan pernah merasa puas; sebanyak apa pun diisi, ia akan tetap merasa kurang,. - Hydra atau Rahwana (Dosomuko):
Nafsu ini diibaratkan seperti binatang berkepala banyak yang jika dipotong satu, akan tumbuh lagi yang lain,. Keinginan jasmani bersifat repetitif; setelah makan dan kenyang, manusia akan merasa lapar lagi, dan begitu seterusnya.
Kualitas Hidup dan Kendali Jiwa
Jika seluruh pikiran dan waktu seseorang hanya dihabiskan untuk memikirkan urusan makan, minum, dan seks, maka hidupnya menjadi tidak berkualitas.
Dr. Fahrudin Faiz menekankan bahwa kebutuhan tersebut adalah insting yang tidak perlu dipikirkan terlalu dalam atau dicari referensinya secara berlebihan karena akan berjalan secara alami.
Penting untuk dipahami bahwa meskipun disebut nafsu badaniah, sumber utamanya tetaplah jiwa, bukan badan.
Badan hanyalah tanda atau alat yang mengikuti perintah dari dalam jiwa.
Menyampirkan Jiwa dari Badan
Untuk menjadi seorang filosof sejati, seseorang harus mampu “menyampirkan” atau menyapih jiwanya dari badannya.
Hal ini berarti mengambil jarak dari nafsu rendah (epithumia) sejauh mungkin dalam hidup, bukan membuangnya sama sekali.
Tanpa kemampuan mengambil jarak ini, hidup manusia tidak akan berkualitas dan hanya akan setara dengan level hewan yang kegiatannya hanya makan, minum, dan bermain.
Sebagai bahan refleksi, kita perlu mengevaluasi alokasi pikiran kita sehari-hari.
Seringkali manusia lebih panik ketika kehabisan uang untuk makan daripada ketika tidak memahami pelajaran atau ilmu pengetahuan.
Hal ini menunjukkan bahwa fokus hidup masih terjebak pada level terendah jiwa, yaitu urusan perut dan bawah perut.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







