Jangan Buat Dirimu Putus Asa | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Peran Doa sebagai Penguat Manusia
Doa merupakan pendukung dan penguat, sementara usaha adalah sarana untuk mewujudkan sesuatu.
Dalam kajian psikologi agama, doa diperlukan karena manusia memiliki keterbatasan dalam pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan diri.
Selain itu, manusia cenderung labil dan mudah berubah-ubah dalam keinginan maupun cita-citanya.
Manusia juga tidak memiliki kontrol penuh atas hasil perbuatannya. Sebagai contoh, seseorang bisa berusaha untuk minum, namun ia tidak berkuasa atas hilangnya rasa haus; hal itu merupakan kendali Allah melalui mekanisme tubuh.
Mengacu pada konsep teologi Al-Ghazali, sebab-akibat bukanlah hukum mutlak, melainkan urutan peristiwa yang penentu akhirnya adalah Allah.
Oleh karena itu, doa berfungsi sebagai sandaran atas kelemahan manusia sekaligus sarana untuk memohon pengabulan keinginan.
Dengan doa, paradoks harapan dapat diatasi karena seseorang memiliki sandaran jika harapannya tidak terpenuhi, yakni dengan meyakini bahwa Allah belum memberikan izin.
Konsep Rojaโ dalam Tasawuf
Dalam dunia tasawuf, harapan dikenal dengan istilah maqom Rojaโ. Menurut Al-Ghazali, Rojaโ adalah optimisme untuk memperoleh karunia dan nikmat yang telah disediakan Allah bagi hamba-Nya.
Kebalikan dari Rojaโ adalah putus asa, yang sangat dilarang dalam agama.
Kita diingatkan untuk tidak membuat diri sendiri maupun orang lain putus asa.
Salah satu bentuk membuat orang lain putus asa adalah dengan mudah menyesatkan atau mengafirkan sesama.
Tindakan ini berbahaya karena dapat membuat seseorang merasa kehilangan rahmat Allah dan benar-benar terjerumus pada kekafiran akibat kehilangan harapan.
Sebaliknya, kita harus memberikan semangat dan harapan bahwa setiap dosa bisa diampuni jika diikuti dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Ciri-Ciri dan Keutamaan Rojaโ
Ibnu Qoyyim menyebutkan tiga ciri utama harapan yang benar: mencintai yang diharapkan, takut kehilangan harapan tersebut, dan berusaha keras untuk mencapainya.
Dalam hal ini, objek harapan tertinggi adalah Allah. Keutamaan dari sifat Rojaโ meliputi:
- Semangat dalam ketaatan dan merasa ringan dalam beribadah.
- Tumbuhnya rasa cinta kepada Allah, karena harapan akan kedekatan merupakan salah satu ciri cinta.
- Prasangka baik (Husnuzon) terhadap Allah, di mana segala ujian atau musibah tetap dipandang sebagai bentuk kasih sayang dan pengingat dari-Nya.
Tingkatan dan Jenis Rojaโ
Terdapat tiga tingkatan Rojaโ berdasarkan pelakunya:
- Rojaโ Orang Awam:
Berharap mendapatkan pahala dan balasan surga beserta segala kenikmatannya. Hal ini tidak perlu direndahkan, karena ibarat anak kecil yang semangat belajar demi hadiah, tujuannya tetap tercapai meski motivasinya adalah imbalan. - Rojaโ Orang Khawas:
Fokus utamanya adalah mengharapkan keridaan Allah. - Rojaโ Khawasul Khawas:
Tingkatan tertinggi di mana seseorang hanya ingin selalu bersama dan dekat dengan Allah (maโrifat atau musyahadah).
Secara kualitas, Rojaโ terbagi menjadi dua:
- Rojaโ Mahmudah (Terpuji):
Harapan yang dibarengi dengan ketaatan atau harapan akan ampunan setelah melakukan dosa dan bertaubat. - Rojaโ Mazmumah (Tercela):
Harapan palsu di mana seseorang terus melakukan maksiat atau kecurangan namun merasa aman karena menganggap Allah Maha Pengampun tanpa adanya keinginan untuk berhenti atau bertaubat.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







