Optimalkan Fungsi Jiwamu Maka Dirimu Akan Bahagia | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hakikat Kebebasan dan Batasan Jasmaniah
Menurut Plato, pada hakikatnya manusia itu bebas untuk memilih apa pun, namun kebebasan tersebut tetap memiliki batasan.
Batasan pertama adalah tuntutan jasmaniah. Seseorang tidak bisa memaksakan diri untuk tidak makan, tidak minum, atau tidak menikah selamanya karena tubuh memiliki kebutuhan natural yang harus dipenuhi.
Meskipun seseorang memiliki tekad yang kuat, tuntutan fisik akan tetap membelenggunya karena sifatnya yang alamiah.
Sebagai contoh, aksi mogok makan atau puasa terus-menerus memiliki batas kekuatan fisik.
Begitu pula dengan hasrat jiwa atau insting biologis yang tidak bisa ditekan sepenuhnya. Jika energi seseorang habis hanya untuk menahan insting tersebut, maka pikirannya tidak akan bisa fokus pada hal-hal lain yang lebih produktif.
Oleh karena itu, Plato menyarankan agar manusia mencari jalan yang baik untuk memenuhi hasrat tersebut sesuai kapasitasnya, bukan sekadar membendungnya secara paksa.
Tiga Kategori Manusia Menurut Plato
Plato membagi manusia ke dalam tiga kelompok berdasarkan kecenderungan dominan dalam jiwa mereka:
- Filosophos (Pencinta Logos):
Manusia yang fokus hidupnya tertuju pada pengetahuan, hikmah, dan ilmu pengetahuan.
Mereka bukan berarti tidak butuh makan atau materi, tetapi hal-hal tersebut bukan menjadi pusat perhatian utama hidup mereka. - Philonikon atau Philotimon (Pencinta Kehormatan):
Manusia yang sibuk memperjuangkan citra diri, nama baik, status sosial, dan kehormatan di masyarakat.
Fokus mereka adalah pada aspek tumos (semangat/harga diri). - Philo Prematon (Pencinta Kesenangan):
Manusia yang hidupnya didominasi oleh pencarian harta, kesenangan fisik, dan pemuasan nafsu (epitumia).
Plato menekankan bahwa setiap orang perlu melakukan muhasabah (introspeksi) untuk melihat manakah dari ketiga hal ini yang paling dominan dalam pikirannya.
Peran akal (rasio) sangat penting di sini; akal seharusnya berfungsi sebagai “raja” yang mengontrol.
Namun, sering kali akal justru menjadi “budak” yang digunakan hanya untuk membenarkan kesalahan atau ambisi pribadi demi memuaskan hasrat bawah perut (epitumia) atau hasrat harga diri (tumos).
Teori Keutamaan (Arete)
Dalam filsafat Plato, terdapat konsep Arete atau keutamaan. Sesuatu dikatakan memiliki keutamaan jika ia berfungsi secara optimal dan penuh (100%).
Misalnya, sebuah telinga dikatakan utama jika bisa mendengar dengan baik, atau seekor kuda dikatakan utama jika bisa lari dengan kencang.
Bagi manusia, keutamaan tercapai jika jiwanya berfungsi secara optimal.
Hal ini terjadi ketika bagian-bagian jiwa yang terdiri dari tiga elemen tadi (akal, semangat, dan nafsu) terimplementasi secara adil dan harmonis.
- Adil:
Berarti menempatkan sesuatu secara pas sesuai porsinya. Jika tubuh butuh makan, maka harus diberi makan secara proporsional. - Harmonis:
Berarti selaras, di mana akal sehat menjadi pemimpin bagi elemen jiwa lainnya. Harmoni tercipta jika tidak ada konflik internal, misalnya ketika akal melarang sesuatu yang buruk, maka nafsu tidak menerjang larangan tersebut.
Sebagai kesimpulan, kebahagiaan menurut filsafat Plato adalah ketika seseorang mampu mengoptimalkan fungsi-fungsi jiwanya sehingga tercipta keselarasan dan keadilan dalam dirinya sendiri.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







