Beranilah Menunjukan Siapa Dirimu | Ngaji Filsafat | Ust. Dr. Fahrudin Faiz
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Pondasi Dasar Mencintai Diri Sendiri
Dunia filsafat menawarkan banyak sudut pandang menarik mengenai self-love. Buddha menegaskan bahwa engkau, sebagaimana siapapun di seluruh alam semesta ini, berhak atas cinta dan kasih sayang.
Hidup seharusnya diisi dengan cinta, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri. Jika kita siap berkorban demi orang yang kita cintai, maka seharusnya kita juga siap berkorban untuk kesuksesan, keberhasilan, dan kenyamanan hidup diri sendiri.
Kualitas cinta dalam diri layaknya makanan bergizi; tidak hanya untuk dibagikan kepada orang lain, tetapi juga harus kita nikmati sendiri.
Senada dengan hal tersebut, Thich Nhat Hanh menyebutkan bahwa mencintai diri sendiri adalah fondasi untuk mencintai orang lain.
Tanpa mencintai diri sendiri, mustahil kita bisa benar-benar mencintai orang lain.
Sementara itu, Osho mengingatkan kita untuk menghargai dan mencintai diri sendiri karena tidak pernah ada orang yang persis seperti kita dan tidak akan pernah ada lagi di masa depan.
Menyadari Keunikan dan Keistimewaan Diri
Kita harus bangga dan menyadari keunikan diri sebagai karya Tuhan yang istimewa dan tidak ada yang sia-sia.
Meskipun kita mungkin tidak merasa lebih hebat dari orang lain, setiap individu memiliki kekhasan masing-masing.
Seringkali, kita merasa tidak percaya diri (minder) sehingga tidak berani menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Padahal, jika kita tidak ada, dunia akan kehilangan sosok yang unik. Oleh karena itu, mencintai diri sendiri harus menjadi dasar utama sebelum mencintai hal-hal di luar diri kita.
Self-Love sebagai Kewarasan, Bukan Kesombongan
Menurut Lao Tzu, menjadi pribadi yang sepenuhnya alami itu sangat penting.
Mengasihi diri sendiri bukanlah bentuk kesombongan, melainkan sebuah kewarasan alami manusia.
Ada pepatah Jawa “Tresno jalaran soko kulino” (cinta tumbuh karena terbiasa), dan sosok yang paling dekat serta terbiasa dengan kita adalah diri kita sendiri. Orang yang waras secara alami akan menginginkan kesehatan, kenyamanan, dan kebahagiaan bagi dirinya.
Spinoza bahkan menyebut bahwa memelihara dan peduli pada diri sendiri termasuk kebajikan yang tertinggi.
Puncaknya adalah mencintai diri sendiri sebelum mampu mencintai yang lain.
Kendali Diri dan Penghormatan dari Orang Lain
Filosof Stoik, Marcus Aurelius, menekankan bahwa terlepas dari apa yang terjadi atau bagaimana orang lain memperlakukanmu, bagaimana engkau memperlakukan dirimu sendiri sepenuhnya berada di tanganmu.
Kita adalah penguasa atas diri kita sendiri yang bisa mengatur pikiran untuk tetap bahagia dan bersyukur, meskipun ada orang lain yang mengkritik atau menyerang. Kendali hidup sepenuhnya ada pada kita, bukan pada komentar atau pengaruh orang lain.
Terakhir, jika engkau tidak menghormati keinginan dan dirimu sendiri, maka jangan harap orang lain akan menghargaimu. Orang lain cenderung akan bersikap sesuai dengan cara kita memperlakukan diri sendiri.
Jika kita merendahkan diri sendiri, lingkungan sekitar akan menyesuaikan diri dengan sikap tersebut.
Sebaliknya, jika kita memiliki respek dan harga diri, orang lain pun akan menghargai kita sebagaimana kita menghargai diri sendiri.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







