Pikiranmu Menentukan Seperti Apa Kamu Akan Menjadi | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hambatan dalam Menempuh Jalan Kebenaran
Dalam menyadari kebenaran yang sudah kita pahami, seringkali kita melakukan dua kesalahan besar: tidak mengerahkan seluruh daya upaya (not going all the way) dan tidak kunjung memulai (not starting).
Banyak orang tidak berani “gaspol” atau mati-matian menghidupkan kebenarannya sendiri karena rasa malas, mencari kenyamanan, atau sekadar ingin cepat sampai tanpa proses maksimal.
Selain itu, penyakit akut lainnya adalah terlalu banyak pertimbangan dan alasan sehingga tidak pernah benar-benar melangkah.
Padahal, sebagai seorang musafir dalam kehidupan, kita harus berani memulai sekarang juga dan memberikan upaya 100 persen terhadap apa yang sedang kita kerjakan, baik itu tugas, skripsi, maupun tujuan hidup lainnya.
Kunci Kebahagiaan: Membuang Ego dan Hasrat
Kebahagiaan sebenarnya sangat sederhana jika kita memahami rumusnya: “I Want Happiness”.
Jika kamu ingin bahagia, buanglah kata “I” (ego) dan buanglah kata “Want” (keinginan/hasrat), maka yang tersisa hanyalah “Happiness” (kebahagiaan).
Ego dan hasrat yang tak terkendali seringkali menciptakan parameter kebahagiaan yang rumit, sehingga kita lupa untuk bersyukur atas apa yang ada saat ini.
Jika kamu mampu mengontrol ego dan hasratmu, maka detik ini pun kamu bisa merasakan kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam.
Kekuatan Pikiran dan Fokus pada Masa Kini
Apa yang kamu pikirkan, rasakan, dan bayangkan akan membentuk realitasmu.
“What you think, you become; what you feel, you attract; what you imagine, you create”โpikiran menentukan akan menjadi apa kamu, perasaan akan menarik hal-hal ke arahmu, dan imajinasi adalah apa yang akan kamu wujudkan.
Oleh karena itu, janganlah terpaku pada masa lalu (do not dwell in the past) dan jangan hanya bermimpi tentang masa depan (do not dream of the future).
Masa lalu sudah lewat dan masa depan belum jelas; satu-satunya yang nyata adalah saat ini.
Orang yang hidup di masa lalu biasanya akan merasa susah, sementara yang terlalu mencemaskan masa depan akan merasa tidak nyaman hidup di masa kini.
Fahrudin Faiz mengisahkan seorang murid sufi yang tidak bisa tidur nyenyak di kasur empuk karena merasa gelisah memikirkan panah dan tombak yang ada di sekelilingnya.
Hal ini merupakan analogi bagi kita yang seringkali gagal menikmati kenyamanan hari ini karena terlalu gelisah memikirkan nasib di masa depan atau menyesali masa lalu.
Hadapilah realitas hari ini dengan penuh kesadaran tanpa harus ingin kembali ke masa lalu atau terburu-buru ke masa depan.
Kesadaran akan Kematian
Banyak orang tidak menyadari bahwa waktu kita di dunia ini sangat terbatas.
Bagi mereka yang sadar akan kematian, hidup akan menjadi lebih ringan karena tidak akan menyibukkan diri dengan perdebatan yang sia-sia, konflik, atau keinginan untuk terus dipuji.
Mengingat kematian adalah nasihat terbaik untuk membuat kita lebih realistis dan fokus mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan.
Relevansi dengan Nilai-Nilai Universal
Ajaran-ajaran mengenai pikiran, ucapan, dan perilaku yang benar ini memiliki keselarasan yang sangat kuat dengan nilai-nilai Islami dan ayat-ayat Allah, meskipun mungkin tidak berasal dari kitab suci yang secara khusus dikenal dalam dunia Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran filosofis mengenai kualitas diri bersifat universal dan dapat digali lebih dalam melalui perspektif iman maupun akal.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







