Pernah terlintas pertanyaan “kenapa harus aku terus sih yang berkorban?”.
Rasa-rasanya kita harus meletakkan keinginan, kenyamanan, dan kepentingan diri ini demi orang lain.
Kalau pernah atau mungkin sedang ada di posisi ini, coba simak baik-baik penjelasan dari Habib Husein Ja’far tentang berkorban.
Menghancurkan Jebakan Ego Melalui Pengorbanan
Perasaan lelah atau bertanya-tanya mengapa kita terus-menerus harus berkorban sering kali muncul dalam hati.
Namun, sejatinya perasaan tersebut lahir dari ketidakpahaman bahwa pada dasarnya tidak ada sesuatu pun yang benar-benar menjadi hak milik kita.
Islam mengajarkan bahwa hidup bukan tentang “saya, saya, dan saya,” karena fokus yang berlebihan pada diri sendiri adalah ego, dan ego merupakan jebakan terbesar bagi manusia.
1. Setiap Orang Memiliki Lanskap Pengorbanannya Sendiri
Sering kali kita merasa hanya kita yang dituntut untuk berkorban sementara orang lain tidak.
Perasaan ini muncul karena ketidaktahuan kita bahwa setiap individu memiliki “lanskap pengorbanan” masing-masing.
Ada yang berkorban demi anak, pasangan, agama, bangsa, atau keluarga besarnya.
Kita tidak pernah tahu beban yang dipikul orang lain, maka jangan pernah merasa bahwa hanya kita yang sedang berjuang.
2. Pengorbanan Adalah Tanda “Manusia Pilihan”
Alih-alih mengeluh, terpilih untuk berkorban dalam kebaikan seharusnya membuat kita merasa spesial dan berbesar hati.
Dalam prinsip Islam, pengorbanan disebut sebagai jihad, yakni jalan keislaman yang paling mulia.
Mereka yang wafat dalam keadaan berkorban di jalan ini dianggap sebagai Syahid, kewafatan yang paling terhormat.
Kisah para Nabi dan Rasul adalah rangkaian kisah pengorbanan.
Nabi Ibrahim mengorbankan egonya dan cintanya yang besar kepada putranya, Nabi Ismail, demi ketaatan kepada Allah.
Begitu pula Nabi Muhammad saw., Nabi Yunus, dan Nabi Musa; kehidupan mereka sepenuhnya didedikasikan untuk berkorban di jalan Allah.
3. Berkorban dalam Kesenangan dan Kesedihan
Pengorbanan bukan hanya tentang melewati masa sulit atau perasaan sedih.
Bahkan dalam keadaan senang pun, manusia dituntut untuk berkorban dengan cara mengendalikan perasaan senang tersebut agar tidak melalaikan diri dari Tuhan.
Para kekasih Allah (Sufi) justru merasa khawatir saat hidup mereka terlalu tenang atau penuh kenikmatan, karena kesenangan bisa menjadi ujian yang samar.
Mereka lebih memilih ujian berupa kesulitan agar terus diingatkan untuk bersandar kepada Allah.
4. Menjadi “Duta Tuhan” di Muka Bumi
Dunia ini terkadang berjalan tidak wajar karena adanya “duta-duta setan” yang mengambil hak orang lain secara tidak bertanggung jawab.
Oleh karena itu, Allah memilih individu-individu tertentu sebagai “Duta Tuhan” untuk melakukan misi kepemimpinan.
Melalui pengorbanan—yaitu memberikan sebagian hak kita kepada mereka yang dirampas haknya—kehidupan di masyarakat dapat kembali berjalan seimbang dan wajar.
Jadi, pengorbanan sebenarnya adalah soal rasa syukur, bukan kesedihan.
5. Paradigma Kewajiban vs Hak
Ego manusia sering kali membuat kita hanya menuntut Hak Asasi Manusia (HAM), tetapi melupakan Wajib Asasi Manusia.
Padahal, tugas utama kita di bumi adalah menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah.
Menganggap pengorbanan sebagai beban adalah pandangan sekuler yang seolah-olah menganggap kehidupan hanya ada di dunia.
Dalam perspektif Islam, tidak ada yang namanya “pengorbanan” dalam arti merugi, karena:
- Segala sesuatu adalah milik Allah; kita hanya memberikan kembali sebagian kecil dari apa yang telah Dia berikan kepada kita.
- Setiap kebaikan dan pengorbanan pasti akan kembali kepada diri kita sendiri (Ahsantum ahsantum li anfusikum).
- Pengorbanan di dunia hanyalah “gaji tertunda” yang akan dibayarkan berlipat ganda dengan kebahagiaan abadi di akhirat.
Kesimpulan: Melawan Ego “Firaun”
Dunia adalah tempat menanam, dan akhirat adalah tempat memanen. Jangan sia-siakan pengorbanan dengan keluhan, karena ketidakikhlasan hanya akan menghapus balasan dari Allah.
Prinsip tertinggi seorang Muslim adalah menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain (Khairunnas anfa’uhum linnas).
Lawanlah ego yang selalu mengatakan “saya, saya, dan saya” dengan penuh keangkuhan, karena ego seperti itu adalah sifat Firaun.
Antitesis dari Firaun adalah mereka yang mengedepankan kepentingan dan kemanfaatan bagi orang lain.
Itulah jalan menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Sambil diresapi resapi ilmunya, boleh dong di-subscribe, like, dan share ke orang-orang terdekat kamu. Insya Allah video ini akan memberikan manfaat bagi yang menontonnya.
#CahayauntukIndonesia #HabibHuseinJafar #Berkorban
————————————————————————————————————————————————————————
Follow media sosial Cahaya untuk Indonesia di:
Twitter: https://twitter.com/cahayauntukindo
Instagram: https://www.instagram.com/cahayauntukindonesia
Facebook: https://www.facebook.com/cahayauntukindo

