Ngabuburit – Belajar Melihat Keindahan Puasa
Oleh: Habib Husein Ja’far Al Hadar
Menemukan Keindahan Spiritual di Balik Rasa Lapar dan Haus
Meningkatkan Kualitas Ibadah dari Beban Menjadi Cinta
Sering kali saat berpuasa, kita mengeluhkan rasa lapar dan haus, baik melalui lisan maupun dalam pikiran.
Hal ini sangat manusiawi, terutama ketika kita melihat makanan dan minuman lezat di depan mata.
Namun, seorang Muslim diajak untuk beranjak dari sekadar nilai kemanusiaan menuju nilai spiritualitas yang lebih tinggi.
Penyair sufistik Jalaluddin Rumi menyatakan bahwa jika kita masih merasakan ibadah sebagai beban, itu adalah tanda bahwa kualitas ibadah kita perlu ditingkatkan.
Sebaliknya, seseorang yang beribadah dengan dasar cinta akan hanyut dalam kenyamanan dan kenikmatan, bahkan merasa “kecanduan” untuk terus menambah amalannya.
Puasa seharusnya dinikmati sebagai sebuah proses, bukan sekadar menunggu waktu berbuka tiba.
Kritik Terhadap Materialisme Modern
Manusia modern sering terjebak dalam materialisme, di mana ukuran kesuksesan adalah terpenuhinya seluruh kebutuhan materi demi rasa aman, bahkan hingga tujuh turunan. Kita sering menumpuk harta dan asuransi untuk menghindari kekurangan materi, namun sering kali lupa diri dan terus mengejar kekayaan dengan cara yang tidak diperkenankan agama.
Dalam pandangan materialis, rasa lapar dan haus dianggap sebagai ancaman negatif. Di sinilah puasa hadir untuk mendidik kita agar bijak melihat realitas. Islam tidak mengajarkan kita untuk anti-materi atau anti-dunia, melainkan menempatkan dunia secara proporsional.
3. Konsep Zuhud: Dunia sebagai Jembatan
Puasa mengajarkan prinsip zuhud, yaitu meletakkan dunia pada tempatnya yang adil. Dunia bukanlah tujuan utama, melainkan jembatan atau tempat kita “meninggal” (sementara), sementara akhirat adalah kampung halaman yang sejati. Melalui puasa, kita belajar bahwa:
- Lapar dan haus memiliki nilai positif dalam posisinya sendiri, sebagaimana kenyang juga baik pada posisinya.
- Kemiskinan atau rasa lapar bisa menjadi jalan yang lapang menuju Tuhan, karena saat susah, manusia cenderung lebih mudah mengingat Penciptanya.
- Rumi menyebutkan bahwa perut yang lapar adalah “Singgasana Tuhan” dan jalan yang lembut menuju keharibaan-Nya.
4. Puasa untuk Kesehatan dan Pengendalian Diri
Secara jasmani, puasa adalah sarana pembersihan diri. Prinsip “Sumuhu Tasihhu” (berpuasalah maka kamu akan sehat) sejalan dengan berbagai konsep diet modern yang membatasi asupan makanan dalam jangka waktu tertentu.
Secara spiritual, para sufi mengibaratkan pikiran dan hati seperti balon terbang, sedangkan urusan perut dan syahwat adalah batu pemberatnya. Agar spiritualitas kita bisa “terbang” tinggi, kita harus meminimalisir beban materi dan biologis tersebut. Puasa mendidik kita agar:
- Pikiran dan hati tidak dikendalikan oleh kebutuhan perut dan biologis.
- Mampu menahan amarah. Rasulullah saw. mengajarkan jika kita dipancing amarah saat puasa, katakanlah: “Inni Soimah” (Aku sedang berpuasa), karena puasa adalah tentang pengendalian diri.
- Menjadi solusi bagi mereka yang belum mampu menikah untuk mengendalikan nafsu biologisnya.
5. Kesimpulan: Segala Aktivitas sebagai Jalan Ibadah
Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman spiritualitas puasa, kita dapat menjadikan segala aktivitas materi—seperti makan, minum, dan hubungan biologis—sebagai jalan ibadah. Selama hal-hal tersebut dilakukan sesuai tuntunan agama dan tidak berlebihan, maka kita tetap berada dalam kendali diri yang kuat dan terjaga.


