Sesungguhnya kita ini hanya dititipkan. Oleh karena itu, jaga baik-baik amanah-Nya. Dan yakin ketika kita diberi musibah kehilangan pun sesungguhnya kita sudah diberi kesiapan untuk menerimanya, karena Allah SWT tidak pernah zalim pada kita.
Hakikat Kepemilikan: Mengapa Kita Meratapi Kehilangan?
Sering kali perasaan “Ya Allah, aku belum siap kehilangan” hinggap di benak dan hati kita.
Perasaan ini muncul saat kita menghadapi kemungkinan kehilangan pasangan, jabatan, harta, anak, hingga sahabat.
Ketika kehilangan itu benar-benar terjadi, kita sering merasakan kesedihan yang mendalam hingga menangis tersedu-sedu.
1. Larangan Meratapi Kehilangan secara Berlebihan
Dalam Islam, menangis tersedu-sedu atau meratap secara berlebihan karena kehilangan sesuatu adalah perkara yang dilarang.
Hal ini dianggap sebagai simbol ketidakridaan kita atas takdir atau qadha dan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah.
Penting untuk diingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki—termasuk diri kita sendiri—sebenarnya adalah milik Allah.
Nabi Muhammad saw. pun pernah merasakan kesedihan saat kehilangan putranya, Ibrahim.
Namun, beliau mencontohkan bahwa menangis diperbolehkan dalam batas yang wajar sebagai bentuk kemanusiaan, tanpa harus meratap secara berlebihan.
2. Kesadaran “Innalillahi”: Bukan Sekadar Kata-Kata
Kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali) sering kali hanya diucapkan di lisan.
Padahal, inti dari kalimat ini adalah sebuah kesadaran penuh bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar milik kita.
Semua yang ada di tangan kita—pasangan, anak, harta, tahta, bahkan raga kita sendiri—hanyalah titipan yang suatu hari pasti akan kembali kepada-Nya.
Jika kita merasa sangat sedih saat sesuatu hilang, ingatlah bahwa dulu kita pun tidak memilikinya dan kita baik-baik saja. Perasaan memiliki yang berlebihanlah yang justru membuat kita menderita.
3. Rumus Allah: Kita Pasti Siap
Kalimat “aku belum siap” sebenarnya adalah pernyataan yang keliru jika merujuk pada prinsip dalam Al-Baqarah ayat 286, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Artinya, jika Allah memberikan ujian berupa kehilangan, maka secara sistematis kita sebenarnya sudah siap untuk menerimanya.
Perasaan “belum siap” itu hanyalah persepsi emosional manusiawi yang harus dilawan dengan keimanan. Alih-alih bersikap destruktif dengan marah pada takdir, kita harus bersikap konstruktif dengan mempersiapkan diri dan meyakini ketetapan-Nya.
4. Pentingnya Menjaga Amanah
Rasa sedih yang sangat berat saat kehilangan sering kali berakar dari penyesalan karena kita tidak menjaga amanah tersebut dengan baik saat masih memilikinya.
- Kita sering tidak membahagiakan pasangan saat mereka masih ada, namun sangat sedih ketika mereka pergi.
- Kita sering melalaikan tanggung jawab saat memegang jabatan, namun merasa sangat kehilangan saat jabatan itu dicabut.
Allah terkadang mencabut sebuah nikmat bukan karena sudah waktunya hilang, tetapi karena kita tidak memegang amanah tersebut dengan baik.
Ibarat menjaga kesehatan gigi: jika gigi tanggal karena usia tua setelah dirawat dengan baik, kita akan lebih ikhlas menerimanya.
Namun, jika gigi harus dicabut di usia muda karena kelalaian kita sendiri dalam merawatnya, rasa sakit dan penyesalannya akan jauh lebih dalam.
Kesimpulan
Jangan sia-siakan apa pun yang sedang Allah titipkan kepada kita saat ini. Peganglah amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.
Dengan menjaga titipan tersebut secara maksimal, maka ketika waktunya tiba bagi Allah untuk mengambilnya kembali, kita akan lebih rela dan tenang karena tahu bahwa kita telah menjalankan tugas kita dengan baik.
Jagalah apa yang dititipkan-Nya agar kita tidak perlu lagi berkata, “Ya Allah, aku belum siap kehilangan”.

Sambil diresapi resapi ilmunya, boleh dong di-subscribe, like, dan share ke orang-orang terdekat kamu. Insya Allah video ini akan memberikan manfaat bagi yang menontonnya.
#CahayauntukIndonesia #HabibHuseinJafar
————————————————————————————————————————————————————————
Follow media sosial Cahaya untuk Indonesia di:
Twitter: https://twitter.com/cahayauntukindo
Instagram: https://www.instagram.com/cahayauntukindonesia
Facebook: https://www.facebook.com/cahayauntukindo

