18 October 2026

TULISAN 4

Di sinilah seluruh romantisasi terhadap Harun al-Rasyid harus dihentikan.

Imam Musa al-Kazim a.s. tidak berhadapan dengan Harun sebagai dua raja yang sedang memperebutkan wilayah. Imam tidak memiliki tentara, istana, atau pasukan pemberontak.
Kekuatan beliau adalah ilmu, kesalehan, nasab kenabian, keteguhan moral, serta kepercayaan masyarakat.

Justru kekuatan semacam itulah yang paling ditakuti oleh kekuasaan yang rapuh.

Imam Musa a.s. menjalankan imamah selama sekitar tiga puluh lima tahun, dan kurang lebih tiga belas tahun di antaranya bertepatan dengan pemerintahan Harun.
Tradisi Imamiyah mencatat bahwa beliau berulang kali ditahan dan pada masa Harun dipindahkan dari satu tempat penahanan ke tempat lainnya, termasuk pengawasan Isa bin Ja’far, al-Fadl bin Rabi’, al-Fadl bin Yahya, hingga al-Sindi bin Syahik.
Menurut Syekh al-Mufid dan tradisi Imamiyah, beliau akhirnya diracun atas perintah Harun dan wafat dalam tahanan Bagdad pada 183 H/799 M.

Mungkin seseorang berkata:

“Tetapi pada masa Harun ilmu pengetahuan berkembang.”

Jawabannya sederhana: apa hubungan perkembangan ilmu dengan hak seorang manusia suci untuk tidak dipenjara dan dibunuh?

Apakah sebuah perpustakaan memberi hak kepada penguasa untuk merantai seseorang?

Apakah penerjemahan filsafat Yunani dapat menebus kematian seorang Imam?

Apakah pembangunan kota membatalkan tanggung jawab moral atas penyiksaan tahanan politik?

Tidak.

Di sinilah kemajuan ilmu harus dipisahkan secara tegas dari legitimasi kekuasaan. Sebab apabila keduanya dicampur, kita akan sampai pada kesimpulan yang berbahaya:

selama seorang penguasa berhasil membangun, ia boleh dimaafkan karena menindas.

Itu bukan moralitas Islam. Itu adalah moralitas istana.

Al-Qur’an tidak memerintahkan manusia menimbang keadilan berdasarkan banyaknya gedung yang dibangun, luasnya wilayah, atau ramainya perdagangan. Allah memerintahkan amanah dan keadilan:

“Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”

(QS an-Nisa: 58)

Maka, dalam menilai Harun, kita tidak boleh bertanya hanya: “Apa yang dibangun pada masanya?” Kita juga wajib bertanya: “Siapa yang dipenjara? Siapa yang dibungkam? Siapa yang kehilangan nyawa karena kekuasaan itu?”

Dalam pengadilan moral, satu jiwa manusia tidak dapat ditimbang dengan ribuan rak buku.

(Bersambung)

Harun tulisan4

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1C4LPQwxE4/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us