Hari itu, sejarah menyaksikan sesuatu yang ganjil.
Di sebuah istana yang penuh kemegahan, seorang penguasa duduk di atas singgasananya. Di sekelilingnya ada para pembesar, prajurit, simbol-simbol kekuasaan, dan aroma kemenangan yang sedang dipamerkan. Di hadapannya berdiri para tawanan:
perempuan-perempuan letih, anak-anak yang baru saja melewati padang duka, dan keluarga Nabi yang tubuhnya masih membawa debu Karbala.
Secara lahiriah, Yazid menang.
Ia memiliki istana.
Ia memiliki pasukan.
Ia memiliki harta.
Ia memiliki pedang.
Ia memiliki kepala-kepala suci yang telah dipenggal dari tubuh para syuhada.
Tetapi sejarah tidak selalu ditulis oleh siapa yang duduk di singgasana. Kadang sejarah justru ditentukan oleh siapa yang berdiri dalam keadaan terbelenggu, tetapi jiwanya tidak dapat ditaklukkan.
Di ruangan itu, manusia paling bebas bukanlah Yazid.
Manusia paling bebas di ruangan itu adalah Sayyidah Zainab binti Ali bin Abi Thalib.
Perempuan itu baru saja kehilangan saudara tercintanya, Imam Husain. Ia melihat putra-putranya gugur. Ia menyaksikan putra-putra keluarga Nabi SAW syahid satu per satu. Ia melihat kemah dibakar. Ia mendengar tangisan anak-anak yang kehausan.
Ia melewati malam setelah pembantaian.
Ia dibawa sebagai tawanan dari Karbala menuju Kufah, lalu ke Syam.
Namun ketika ia berdiri di hadapan Yazid, tidak ada keruntuhan dalam suaranya.
Tidak ada rasa rendah dalam sikapnya.
Tidak ada permohonan belas kasihan dalam kalimatnya.
Yang berdiri di hadapan Yazid bukan sekadar seorang tawanan.
Yang berdiri di sana adalah sisa cahaya Karbala yang tidak bisa dipadamkan oleh pedang.
Yang berdiri di sana adalah lisan Ali, keteguhan Fatimah, kesabaran Hasan, dan darah Husain yang berubah menjadi kata-kata.
Di hadapan singgasana yang merasa menang, Sayyidah Zainab menyampaikan salah satu khutbah terdahsyat dalam sejarah manusia.
Beliau berkata:
فَكِدْ كَيْدَكَ، وَاسْعَ سَعْيَكَ، وَنَاصِبْ جُهْدَكَ، فَوَاللهِ لَا تَمْحُو ذِكْرَنَا
“Kerahkanlah seluruh tipu dayamu. Curahkan seluruh usahamu. Lakukan apa pun yang mampu engkau lakukan. Demi Allah, engkau tidak akan pernah dapat menghapus nama kami.”
Kalimat ini bukan sekadar tantangan politik.
Ini bukan kemarahan seorang perempuan yang kehilangan keluarganya.
Ini adalah proklamasi ruhani.
Sayyidah Zainab sedang mengumumkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman tidak pernah benar-benar menang. Ia hanya tampak menang sebentar, sebelum sejarah menelanjanginya.
Singgasana bisa berdiri tinggi, tetapi bila dasarnya adalah darah orang-orang suci, maka singgasana itu sesungguhnya sedang menjadi kubur bagi pemiliknya sendiri.
Yazid mengira ia sedang mengakhiri Husain.
Zainab tahu, saat itu justru Husain sedang dimulai.
Yazid mengira kepala yang terpisah dari tubuh adalah tanda kekalahan.
Zainab tahu, kepala itu sedang menjadi menara bagi kesadaran umat.
Yazid mengira para tawanan adalah bukti kemenangan.
Zainab tahu, para tawanan itulah yang akan membawa pesan Karbala melintasi zaman.
Di sinilah letak kedalaman pandangan Sayyidah Zainab. Ia tidak melihat peristiwa hanya dengan mata lahir. Ia melihat dengan mata makrifat. Ia tidak berhenti pada sebab-sebab dunia. Ia menembus sampai kepada Musabbib al-Asbab, Allah yang mengatur segala sebab.
Manusia biasa melihat pedang.
Seorang arif melihat kehendak Allah.
Manusia biasa melihat kematian.
Seorang arif melihat perjumpaan.
Manusia biasa melihat kehancuran.
Seorang arif melihat terbukanya jalan baru bagi kebenaran.
Karena itulah ketika ditanya tentang apa yang ia saksikan di Karbala, Sayyidah Zainab mengucapkan kalimat yang sampai hari ini membuat hati manusia bergetar:
مَا رَأَيْتُ إِلَّا جَمِيلًا
“Aku tidak melihat selain keindahan.”
Kalimat ini tidak mudah dipahami oleh hati yang hanya mengenal dunia.
Bagaimana mungkin Karbala disebut indah?
Bagaimana mungkin hausnya anak-anak disebut indah?
Bagaimana mungkin tubuh Imam Husain yang tercabik disebut indah?
Bagaimana mungkin kepala-kepala suci yang diangkat di ujung tombak disebut indah?
Jawabannya: Sayyidah Zainab tidak sedang mengatakan bahwa kezaliman itu indah.
Ia tidak sedang mengatakan bahwa pembantaian itu indah.
Ia tidak sedang memuji pedang, kekejaman, atau darah yang ditumpahkan tanpa hak.
Yang ia lihat sebagai keindahan adalah tajalli kehendak Allah di balik semua peristiwa itu.
Ia melihat kesetiaan yang mencapai puncaknya.
Ia melihat cinta yang tidak mundur meski dibayar dengan nyawa.
Ia melihat manusia-manusia yang tidak menjual kebenaran demi keselamatan tubuh.
Ia melihat Imam Husain berdiri sebagai hamba yang sepenuhnya ridha kepada Allah.
Ia melihat para syuhada tidak jatuh ke tanah sebagai orang kalah, tetapi naik menuju Allah sebagai para pemenang.
Di mata Yazid, Karbala adalah akhir perlawanan.
Di mata Zainab, Karbala adalah awal kebangkitan.
Di mata Yazid, Husain telah selesai.
Di mata Zainab, Husain baru saja memasuki keabadian.
Itulah perbedaan antara mata kekuasaan dan mata makrifat.
Kekuasaan selalu menghitung kemenangan dari apa yang bisa dikuasai. Berapa wilayah ditaklukkan. Berapa orang dibungkam. Berapa kepala dipenggal. Berapa lawan dipermalukan.
Tetapi makrifat menghitung kemenangan dari satu hal:
apakah seseorang tetap bersama Allah ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Imam Husain telah menunjukkan itu di Karbala.
Sayyidah Zainab menunjukkan itu di Syam.
Asyura memiliki dua puncak besar.
Puncak pertama adalah darah Imam Husain di padang Karbala.
Puncak kedua adalah lisan Sayyidah Zainab di istana Yazid.
Yang pertama menjaga agama dengan pengorbanan tubuh.
Yang kedua menjaga makna pengorbanan itu dengan keberanian kata.
Tanpa darah Husain, agama akan kehilangan ruh perlawanan.
Tanpa lisan Zainab, darah itu bisa saja dikubur oleh propaganda kekuasaan.
Karena setiap kezaliman tidak hanya membunuh tubuh.
Kezaliman juga selalu berusaha membunuh makna. Setelah membunuh korban, penguasa zalim akan menulis cerita versinya sendiri.
Ia akan menyebut pembantaian sebagai ketertiban. Ia akan menyebut perlawanan sebagai pemberontakan.
Ia akan menyebut kebenaran sebagai ancaman. Ia akan menyebut para wali Allah sebagai musuh negara.
Di sinilah Sayyidah Zainab berdiri.
Beliau tidak membiarkan Karbala dicuri maknanya.
Beliau tidak membiarkan darah Husain dikubur dalam narasi palsu.
Beliau tidak membiarkan sejarah ditulis hanya oleh pedang.
Maka khutbahnya bukan sekadar pidato. Khutbah itu adalah pembongkaran. Ia membuka topeng kekuasaan.
Ia memperlihatkan kepada manusia bahwa Yazid, dengan seluruh kemegahannya, sesungguhnya adalah manusia yang paling miskin di ruangan itu. Miskin ruhani. Miskin cahaya. Miskin kedekatan kepada Allah.
Sementara Zainab, meskipun datang sebagai tawanan, adalah manusia yang paling kaya.
Kaya dengan iman.
Kaya dengan kesabaran.
Kaya dengan keberanian.
Kaya dengan kedekatan kepada Allah.
Inilah rahasia besar Karbala:
tubuh boleh kalah, tetapi ruh tidak boleh menyerah. Rumah boleh dibakar, tetapi cahaya tidak boleh padam.
Orang-orang suci boleh dibunuh, tetapi kebenaran tidak bisa dikubur.
Al-Qur’an telah mengajarkan:
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya.”
Sayyidah Zainab tidak hanya membaca ayat itu.
Ia menyaksikannya.
Bahkan lebih dari itu, ia menjadi salah satu jalan bagi ayat itu untuk hidup dalam sejarah.
Sebab cahaya Allah tidak selalu dijaga oleh pasukan besar. Kadang cahaya itu dijaga oleh seorang perempuan yang berdiri dengan tubuh letih, hati hancur, tetapi jiwa yang sepenuhnya tegak.
Di istana Yazid, Sayyidah Zainab mengajarkan kepada manusia bahwa keberanian paling tinggi bukanlah keberanian mengangkat pedang. Keberanian paling tinggi adalah tetap berkata benar ketika seluruh keadaan menyuruh kita diam.
Beliau tidak memiliki pasukan.
Tetapi ia memiliki kebenaran.
Beliau tidak memiliki singgasana.
Tetapi ia memiliki kemuliaan.
Beliau tidak memiliki kekuasaan dunia.
Tetapi ia memiliki otoritas ruhani yang tidak bisa disentuh oleh Yazid.
Dominasi dapat memaksa tubuh, tetapi tidak dapat menaklukkan hati.
Pedang dapat memisahkan kepala dari badan, tetapi tidak dapat memisahkan wali Allah dari Allah.
Rantai dapat mengikat tangan, tetapi tidak dapat membelenggu jiwa yang telah merdeka dalam tauhid.
Itulah sebabnya sejarah akhirnya lebih mengingat suara Zainab daripada singgasana Yazid. Istana Yazid tinggal cerita kelam. Tetapi khutbah Zainab tetap hidup.
Nama Yazid disebut dengan getir. Nama Zainab disebut dengan salam.
Di sinilah kita memahami bahwa Karbala bukan hanya tragedi. Karbala adalah madrasah. Karbala adalah cermin. Karbala adalah pertanyaan abadi kepada setiap zaman: di mana engkau berdiri ketika kebenaran disembelih?
Bersama singgasana atau bersama tawanan?
Bersama pedang atau bersama darah suci?
Bersama mereka yang menang secara lahir atau bersama mereka yang benar secara batin?
Sayyidah Zainab mengajarkan bahwa menang tidak selalu berarti selamat. Dan kalah tidak selalu berarti hancur.
Ada orang yang selamat tubuhnya, tetapi mati nuraninya.
Ada orang yang terbunuh tubuhnya, tetapi hidup sepanjang zaman.
Ada orang yang duduk di istana, tetapi jatuh dalam kehinaan.
Ada orang yang datang sebagai tawanan, tetapi naik ke puncak kemuliaan.
Maka ketika Sayyidah Zainab berkata, “Aku tidak melihat selain keindahan,” sesungguhnya ia sedang mengajarkan puncak tauhid:
bahwa seorang hamba yang telah melihat Allah di balik segala sesuatu tidak akan lagi dihancurkan oleh apa pun.
Ia tetap menangis, karena tangisan adalah fitrah.
Tetapi tangisannya bukan kelemahan.
Ia berduka, karena duka adalah bahasa cinta.
Tetapi dukanya bukan kekalahan.
Ia kehilangan, karena manusia suci pun merasakan kehilangan.
Tetapi kehilangan itu tidak membuatnya kehilangan Allah.
Dan siapa yang tidak kehilangan Allah, sesungguhnya tidak pernah benar-benar kehilangan apa pun.
Di hadapan Yazid, Sayyidah Zainab tidak hanya membela Imam Husain. Ia membela makna manusia. Ia membela kehormatan agama. Ia membela hak sejarah untuk ditulis dengan cahaya, bukan dengan propaganda penguasa.
Karena itu, Sayyidah Zainab bukan sekadar pahlawan Karbala.
Ia adalah penjaga wilayah batin Karbala.
Ia adalah saksi bahwa darah para syuhada tidak berhenti di tanah.
Ia adalah suara yang membawa Karbala keluar dari padang pasir menuju hati umat manusia.
Ia adalah perempuan yang membuat kezaliman tidak bisa tidur nyenyak.
Ia adalah lisan yang membuat Yazid kalah di tengah istananya sendiri.
Hari ini, setiap kali nama Husain disebut, nama Zainab ikut berdiri di sampingnya.
Sebab darah membutuhkan suara.
Pengorbanan membutuhkan penjaga makna.
Syahadah membutuhkan saksi.
Dan Karbala membutuhkan Zainab.
Tanpa Zainab, Karbala mungkin hanya dikenang sebagai pembantaian.
Dengan Zainab, Karbala menjadi cahaya yang tidak pernah padam.
Maka salam atas Sayyidah Zainab.
Salam atas perempuan agung yang mengajarkan kepada dunia bahwa tawanan pun bisa lebih merdeka daripada penguasa.
Salam atas lisan yang menggetarkan istana.
Salam atas hati yang tidak roboh meski dikepung duka.
Salam atas jiwa yang melihat keindahan Allah di balik reruntuhan dunia.
Salam atas penjaga Karbala.
Salam atas manusia paling merdeka di istana Yazid.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Cir2uQoE5/

