Teks Doa Kumail
> اللَّهُمَّ عَظُمَ بَلَائِي
Allāhumma ‘aẓuma balā’ī.
“Ya Allah, sungguh besar ujian yang menimpaku.”
Tema utama
Mengakui beratnya penderitaan di hadapan Allah bukan tanda lemahnya iman. Ia adalah kejujuran seorang hamba yang mengetahui kepada siapa kesedihan harus dibawa.
Kata balā’ dapat bermakna ujian atau penderitaan. Ia tidak selalu menunjukkan hukuman. Para nabi, para Imam, dan manusia-manusia saleh mengalami ujian yang sangat berat.
Doa ini tidak memaksa manusia mengecilkan rasa sakitnya dengan kesalehan palsu. Ia mengizinkan hamba berkata dengan jujur: “Ya Allah, ini berat.”
Ayat Al-Qur’an
- QS Yusuf 12:86
> إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
Nabi Ya‘qub as tidak menyangkal kesedihannya. Beliau mengarahkannya kepada Allah. Mengadu kepada Allah berbeda dari menggugat Allah: yang pertama adalah ibadah, sedangkan yang kedua lahir dari penolakan terhadap-Nya.
- QS Al-Qamar 54:10
> أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ
“Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah aku.”
Nabi Nuh as tidak berkata bahwa dirinya masih sanggup ketika kenyataannya telah terkepung. Beliau mengakui keterbatasannya, lalu menyerahkan pertolongan kepada Allah.
- QS Maryam 19:4
> رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
“Wahai Tuhanku, sungguh tulangku telah melemah dan kepalaku dipenuhi uban, tetapi aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.”
Nabi Zakaria as menyebut kelemahannya dengan terperinci. Namun pengakuan tersebut tidak berakhir dalam keputusasaan. Kerapuhan tubuh berdiri berdampingan dengan keyakinan kepada kemurahan Allah.
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa ke-22 Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, disebutkan:
> اللَّهُمَّ لَا طَاقَةَ لِي بِالْجَهْدِ، وَلَا صَبْرَ لِي عَلَى الْبَلَاءِ، وَلَا قُوَّةَ لِي عَلَى الْفَقْرِ
“Ya Allah, aku tidak memiliki daya menanggung kesukaran, tidak memiliki kesabaran menghadapi bala, dan tidak mempunyai kekuatan memikul kefakiran.”
Ini bukan kelemahan akidah, melainkan ketulusan penghambaan. Imam mengajarkan agar manusia tidak berpura-pura kuat di hadapan Tuhan yang mengetahui seluruh kelemahannya.
Catatan: Teks tersebut merupakan doa yang dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as. Doa ke-22 Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah.
Kerangka pembahasan
- Balā’ tidak selalu berarti hukuman.
- Kesalehan tidak menuntut manusia menyangkal rasa sakit.
- Perbedaan antara mengadu kepada Allah dan menggugat Allah.
- Para nabi menyampaikan kelemahan mereka dengan jujur.
- Berat-ringannya penderitaan tidak boleh diukur dengan pengalaman orang lain.
- Pengakuan kelemahan merupakan awal penyerahan dan pertolongan.
Pembuka syarah
Ada kesalehan yang tulus, dan ada kesalehan yang memaksa manusia berpura-pura tidak terluka.
Seseorang sedang kehilangan, tetapi diminta segera tersenyum. Ia sedang kelelahan, tetapi takut dianggap tidak bertawakal. Ia memikul penderitaan yang hampir merobohkannya, tetapi terus berkata, “Tidak apa-apa,” karena khawatir pengakuan rasa sakit dianggap sebagai keluhan terhadap Allah.
Doa Kumail membebaskannya dari kepura-puraan itu:
> “Ya Allah, sungguh besar ujian yang menimpaku.”
Tidak ada kesombongan dalam kalimat ini. Tidak ada gugatan kepada Tuhan. Hanya kejujuran seorang hamba yang tidak lagi sanggup menyebut bebannya ringan.
Allah tidak membutuhkan kita berpura-pura kuat. Dia mengetahui bagian jiwa yang retak bahkan sebelum kita menemukan kata untuk menjelaskannya.
Para nabi pun mengakui kelemahan. Nabi Ya‘qub as mengadukan kesedihannya. Nabi Nuh as berkata bahwa dirinya telah dikalahkan. Nabi Zakaria as menyebut tulangnya yang melemah dan rambutnya yang memutih.
Iman mereka tidak berkurang karena pengakuan itu.
Justru karena mengenal Allah, mereka mengetahui tempat yang benar untuk membawa kelemahan.
Penggalan ini juga mengajarkan agar kita tidak membandingkan penderitaan. Sesuatu yang tampak kecil bagi orang lain dapat menjadi sangat berat bagi jiwa yang sedang memikulnya. Kita tidak mengetahui seluruh luka, sejarah, kemampuan, dan kesendirian seseorang.
Maka jangan menambah beban orang yang terluka dengan menuduhnya kurang beriman hanya karena ia menangis.
Mengakui besarnya ujian bukan berarti menyerah kepada ujian. Ia berarti memindahkan beban itu kepada tempat pengaduan yang benar.
Seorang hamba berkata, “Ya Allah, ini terlalu besar bagiku,” karena ia yakin tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar bagi Allah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19c9ewbbZr/

